Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
66. Orang Istimewa


__ADS_3

Itulah kilas balik kehidupan Jay. Dia bukanlah orang kaya ataupun dari keluarga terpandang. Hanya seorang gelandangan jalanan. Ia tak tahu siapa dan di mana orang tuanya. Kala itu yang ia tahu hanya tentang ketidak adilan tuhan tentang hidupnya.


Setiap saat Jay dihantui rasa takut, cemas, dan binggung. Dia binggung kenapa dirinya tak bisa seperti anak-anak pada umumnya. Kenapa tuhan tega membiarkan anak kecil tanpa orang tua menjalani kehidupan keras jalanan. Namun, semenjak pertolongan Bira, Jay akhirnya paham. Bukan tuhan yang tak adil. Itu semua hanya karena diri kita sendiri yang tak mau menerima kenyataan dan berujung menyalahkan tuhan.


"Tuan, tidak. Maksudku Bira, kamu itu tidak payah. Kamu adalah orang baik dan hebat yang pernah aku temui. Tanpa dirimu aku tidak akan bisa makan-makanan mewah seperti yang kunikmati kini. Tolong diingat tuan, ada banyak orang yang dapat mendapatkan kehidupan lebih baik karena anda." Sambung Jay seraya mengusap pipinya dari air matanya.


Dan pada titik ini, Jay berhasil membuat Bira menoleh ke arahnya. Bira tersenyum Pada Jay.


"Aku tidak melakukan apapun. Semua orang itu punya haknya masing-masing untuk hidup bahagia, termasuk kau." Kata Bira yang nampak sudah lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


Bira kemudian berdiri. Ia melangkah ke arah kasur ukuran king size dalam kamar itu. Botol yang tadi ia pegang terlepas dari genggamannyan sehingga air di dalamnya sedikit tumpah saat botol menyentuh lantai.


"Aku akan istirahat dulu. Terimakasih sudah menyadarkan aku, Jay." Bira langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Tentu saja, tuan. Saya akan selalu menolong dan berada di samping, tuan." Balas Jay sedikit membungkuk. Perasaannya lega ketika melihat bosnya cepat terlelap. Setidaknya dengan tidur, Bira tidak akan berpikir untuk melakukan hal-hal gila, seperti bunuh diri.


Beberapa jam berlalu.


Bira terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang sedikit pusing. Pandangannya menjadi sedikit buram. Dan tiba-tiba saja perutnya menjadi mual. Ia segera berlari ke arah kamar mandi dan langsung memuntahkan isi perutnya.

__ADS_1


"Akh, perih sekali, huek." Ucap Bira dengan lemas. Beberapa kali Bira mengadah ke arah closet untuk mengeluarkan isi perutnya. Dan ketika sudah tak ada yang bisa keluarkan, Bira segera kembali ke ranjangnya.


Ia mengambil ponselnya dan menyuruh pelayan untuk membawakannya makanan serta minuman hangat agar mualnya reda. Selagi menunggu, Bira menatap langit-langit kamarnya.


Bayangan perempuan cantik kembali masuk ke dalam pikirannya. Seseorang yang selalu istimewa di dalam hati Bira. Perempuan yang berhasil menjadi cinta pertama untuk Bira. Namun sekilas bayangan itu hilang, tergantikan dengan sosok wanita yang 3 bulan lalu ia temui.


"Hais, kok bisa-bisanya aku mikirin perempuan itu. Ingat, Bira dia menyuruhmu untuk menjauh dan lupakan dia! Tapi kenapa waktu terakhir kali aku bertemu dia malah mengucapkan kata rindu?" Tukas Bira sambil memainkan jari jemarinya dalam posisi rebahan.


Bagi Bira janji adalah janji. Jika ia sudah bersepakat untuk saling menjauh dan melupakan Bira akan turuti. Tapi kenapa dengan wanita bernama Clara ini sangat sulit untuk menepati janji? Terlebih setelah ia mengetahui kehamilan Clara. Ia semakin sering terbanyang wajah Clara. Dan setiap wajah itu muncul, Bira selalu berspekulasi bahwa ini bukan perasaan cinta, melainkan rasa tanggung jawab yang ia emban.

__ADS_1


__ADS_2