Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
81. Kesepakatan Lagi


__ADS_3

"Nona Clara," panggil Sella untuk menyadarkan Clara dari lamunannya. 


Tak lupa pula Sella menyentuh pelan pundak Clara sebagai penambah aksi menghentikan lamunan Clara. Itu ia lakukan karena ia sudah beberapa kali memanggil Clara namun tak sekalipun dibalas oleh Clara. Padahal mereka berada di jarak yang cukup dekat.


"Ah, iya. Ada apa, Sella?!" Clara nampak begitu terkejut. 


Hal itu membuat Sella menatap Clara dengan mata melotot. Bagaimana bisa iya bertanya ada apa padahal ia sudah menjelaskan semuanya secara panjang lebar.


"Ah, maaf-maaf. Kau tak perlu menjelaskan ulang semuanya. Aku sudah paham bagian besarnya," Clara dengan cepat beralasan agar Sella tak menatapnya seperti itu.


"Baik, nona Clara. Kalau begitu, apa saya harus menelpon Tuan Besar?!" Tanya Sella melupakan kejadian barusan.


Pertanyaan Sella malah membuat Clara kembali termenung. Pikiran melayang mundur ke belakang, saat di mana ia sampai harus berpikir keras seperti saat ini. 


Beberapa menit yang lalu,,,


Bira sudah duduk di salah satu sofa. Dirinya tampil dengan pakaian yang terkesan biasa saja. Tanpa ada merek sedikit pun yang terpampang.


Di sisi lain, Clara juga sudah memakai pakaian yang disiapkan oleh Bira. Entah bagaimana caranya, Bira bisa mengetahui ukuran pakaian Clara. Bahkan pakaian dalam pun benar sesuai dengan tubuh Clara. Tapi Clara tak terlalu memusingkan hal itu.

__ADS_1


Pikirannya hanya fokus menerawang apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya antara mereka. Dan Clara berharap bukan hal buruk yang terjadi.


"Kau tak apa-apa?!" Tanya Bira memecahkan keheningan di antara mereka berdua.


Keduanya duduk di sofa yanga berbeda, jadi ada jarak antara keduanya. 


"A, iy, iya. Aku tak apa-apa." jawab Clara kikuk. 


Clara paham betul kalau wajahnya sangat sulit untuk menyembunyikan apa yang ia rasakan. Tentunya Clara yakin Bira melihat ekspresi wajahnya yang sedang takut. 


Untuk itu, Clara mulai berpikir untuk mencairkan suasana. Terlebih untuk dirinya sendiri.


"Oh, iya. Sama-sama. Bajunya pas kan?!"


"Hhmm, iya semuanya pas." 


"Ups,," Clara dengan cepat menutup mulutnya.


Kata "semua" yang ia ucapkan mengartikan kalau pakaian dalam Clara juga pas untuk tubuhnya. Untuk itu Clara merasa sedikit malu mengungkapkannya.

__ADS_1


Bira sendiri paham maksudnya. Karena memang dia sendiri yang mengarahkan Jay untuk membelikan semua itu sesuai dengan arahan Bira sendiri. Jadi, sama dengan Clara, Bira merasa canggung pasal itu. Bira hanya bisa diam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tet,,,tet,,, bel apartemen menyelamatkan keduanya dari kecanggungan satu sama lain.


"It, itu pasti Sella. Biar aku yang buka kan." Clara menawarkan diri untuk membuka pintu apartemen.


Daripada menawarkan diri, mungkin itu lebih berkesan seperti melarikan diri. Tapi tak masalah, daripada keduanya harus saling menahan malu terus menerus.


Tak berselang lama, Clara sudah kembali bersama dengan seorang wanita yang tak lain adalah Sella, sekretaris Clara.


"Baiklah, karena semuanya sudah ada di sini, mungkin kita bisa langsung membahas pokok permasalahannya." Tanpa banyak basa basi, Bira mencoba untuk membahas pokok persoalan.


Baik Clara maupun Sella mengangguk setuju. Mereka sudah siap mendengar Bira dengan duduk di salah satu sofa yang berseberangan dengan Bira.


"Oke, ini adalah masalah kontrak kesepakatan yang telah kita buat waktu lalu." Bira menekankan kata kontrak kesepakatan saat ia mengucapkannya.


"Kurasa pihak kalian sudah melanggar kontrak yang kita buat itu." Sambung Bira menatap kedua wanita itu secara bergantian.


Sontak kedua wanita yang ditatap kebingungan. 

__ADS_1


__ADS_2