
2 bulan berlalu tanpa terasa. Perkembangan kehamilan Clara usia kehamilan ini bisa terasa lebih ringan dibanding masa awal karena gejala kehamilan sudah mulai reda. Ia sudah bisa melakukan setiap aktivitasnya tanpa ada halangan seperti bulan-bulan awal kehamilannya. Namun, hal berbeda bukan tentang gejala kehamilan yang kini tak ia rasakan, melainkan tentang rasa hampa yang selalu ia rasakan tiap waktunya.
"Hai," Sapa seorang pria dengan setelan jas rapih yang menempel di tubuhnya.
Wanita yang di sapa hanya diam tak menanggapi. Melirik sebentar lalu kembali meminum minuman pesanan miliknya. Melihat hal itu, pria itu memilih untuk duduk di depanya.
Tak ada percakapan di antara keduanya. Si wanita asik dengan minuman dan makanannya. Dan si pria nampak ragu untuk memulai percakapan. Akhirnya pria itu memesan makanan terlebih dahulu.
"Ah, maaf tadi terlambat, Clara." Pria itu mencoba mengajak Clara itu menjadi lawan bicaranya. Tapi respon si Clara malah sebaliknya. Ia hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Pria itu mencoba memutar otaknya agar suasana menjadi lebih hangat. Akan sangat memalukan jika ia tak bisa membuat satu wanita takluk padanya, terlebih jika wanita itu punya spek terbaik, seperti Clara.
"Oh iya, Clara. Aku dengar kau sedang mencari sesuatu? Apa itu benar?" Sebuah ingatannya tentang gosip para karyawannya belakangan ini terlintas dalam benaknya. Dan mencoba menanyakan langsung hal itu pada Clara mungkin bisa menjadi pencair suasana di antara mereka.
"Hhhhm," Deham Clara sebagai jawaban.
__ADS_1
Melihat respon Clara yang hanya berdeham, membuat pria itu tersenyum lebar.
"Oh, ternyata itu benar." Ucapannya terpotong karena pelayan datang memberikan pesanannya di atas meja. Setelah pelayan pergi ia mulai menyantap hidangannya. "Clara, kalau kamu butuh bantuan mungkin aku bisa membantumu."
Ucapan pria terdengar seperti seseorang yang bisa melakukan sesuatu dengan ucapannya. Dan hal itu membuat mata langsung melirik ke arah pria itu. Tidak bisa ia pikirkan bagaimana bisa pria buaya sepertinya menemukan seseorang untuknya. Memangnya dia punya apa selain ucapannya yang sombong itu.
"Memangnya kau bisa apa?" Clara menjadi sedikit jenggah mendengar ucapan pria itu barusan.
Dengan senyum mengembang, pria itu tertawa renyah.
"Ah, maaf." Jawab pria itu menghentikan tawanya. Ia kemudian membenarkan posisi duduknya, dasinya, dan jasnya berurutan. Tatapannya mengarah lurus kepada Clara. Lalu tangannya terjulur ke depan. "Perkenalkan aku Irsyad. Orang-orang biasa memanggil aku Icad. Sekretaris tuan Donny pemilik perusahaan B&D Group sekaligus satu-satunya orang yang bisa menolongmu."
Icad mengucapkan semua itu dengan penuh percaya diri. Tatapan matanya memancarkan aura kesombongan yang pekat. Tak peduli apapun yang akan dipikirkan orang lain, dirinya nampak sangat yakin kalau ia sedang terlihat keren sekali.
Clara langsung tercengang mendengarnya. Bukan karena ia terpukau, bukan. Melainkan karena ia baru sadar kalau pria ini mungkin saja bisa menemukan Bira. Tidak, dia pasti bisa. Kekuasaan Donny sangat berpengaruh di dunia ini. Dan tentunya sekretarisnya mungkin juga memiliki kekuasaan yang hampir sama.
__ADS_1
"Hah? Kau serius? Kenapa kau tak bilang dari awal." Terang Clara antusias. Clara heran pada dirinya sendiri, bagaimana bisa ia lupa kalau ia pernah bekerja sama dengan perusahaan B&D Group. Dan pria ini adalah sekretaris dari CEO perusahaan itu.
Mood Clara langsung berubah drastis. Raut wajahnya langsung menjadi lebih cerah dibanding sebelumnya. Icad yang melihat tersenyum bangga. Ia mengira Clara sudah mulai bisa ia taklukkan dengan perlahan-lahan meski harus menggunakan jabatannya.
"Terimakasih, Cindy. Untung saja tadi kamu memaksa ku untuk menerima ajakan pria ini. Setidaknya aku merasa dengan pria ini aku bisa bertemu lagi dengan Bira." Batin Clara penuh syukur.
Memang selama 2 bulan belakangan ini Clara mengalami pukulan besar setelah menghilangnya Bira. Dirinya menjadi sulit untuk fokus, baik itu di kantor, rumah, maupun dalam beberapa hal seharusnya bisa ia kerjakan tanpa perlu bantuan orang lain. Bahkan semenjak hilangnya Bira, hubungannya dengan keluarganya menjadi semakin renggang, khususnya dengan ayahnya. Satu-satunya yang masih sering ia hubungi hanyalah mamanya.
"Ehm, kamu tak perlu khawatir. Aku pasti akan melakukan apapun untukmu. Jadi, boleh aku tahu apa yang sedang kamu cari?" Tanya Icad masih dengan nada sombongnya.
"Oh, itu. Bisakah kamu menemukan seseorang untukku?" Balas Clara.
"Tentu. Siapa namanya?"
"Bira,"
__ADS_1