
"Oh, iya. Sebelum aku pergi, biarkan aku memberitahukan ini padamu." Pria itu membisiki Bira sesuatu. Lalu, ia berjalan ke arah pintu keluar. "Anggaplah itu sebagai ucapan permohonan maaf dariku. Dan pintunya akan kubiarkan terbuka, lebih baik kau cepat kabur sebelum orang-orang Biantara kemari."
Bira mengaduh pelan. Sulit rasanya harus percaya pada seseorang yang baru saja membuat dirinya babak belur seperti ini. Tapi nampaknya percaya pada perkataan pria itu adalah satu-satunya solusi yang ia jumpai saat ini.
Dengan sedikit-banyak kesulitan, Bira mencoba membuka gembok pada rantai-rantai yang mengikatnya. Di mulai dari gembok bagian kaki hingga bagian tangan. Bagian tangan merupakan bagian tersulit karena kedua tangannya tidak bisa bergerak bebas. Beberapa menit ia habiskan untuk membuka gembok bagian tangannya.
Setelah berhasil membuka semua yang mengikatnya, Bira pun mencoba untuk berdiri. Dia beruntung pria itu tidak melakukan penyiksaan yang terlalu sadis padanya sehingga bisa berdiri dengan normal. Tentunya itu dihitung dari tidak adanya anggota tubuhnya yang hilang atau patah. Meski begitu, rasa perih dan nyeri tetap ia rasakan di tubuhnya, terutama di bagian otot-ototnya.
__ADS_1
Peringatan pria tadi kembali terngiang oleh Bira. Bukannya ia takut dengan Biantara atau bawahannya. Dia hanya takut jika anak buahnya panik dan mulai mencari dirinya. Mungkin jika hanya anak buahnya yang mencari tidak terlalu masalah. Tapi kalau sampai anggota keluarganya yang mencari, itu baru masalah. Dia yakin keluarga Biantara hanya akan tinggal nama saja jika hal itu terjadi. Oleh karenanya dia memutuskan untuk pergi saja dari sana.
Sebelum pergi, Bira hendak memakai baju kemejanya lagi. Namun nasib naas menghampiri kemeja pinjaman Bian.
"Aih, kotor banget lagi." Bira membalik-balik kemeja itu. Dia harus mencari alasan dan minta maaf pada Bian atas kemeja itu karena kemeja itu memanglah milik Bian. Dan karena tak punya pilihan lain, dia mencoba mengambil pakaian penjaga yang tergeletak diluar, daripada harus bertelanjang dada menampilkan lebam-lebam ditubuhnya.
Setelah mengganti bajunya dengan salah satu orang yang terkapar, ia segera berjalan keluar dari bagunan itu. Menurut penjelasan pria misterius tadi, dia hanya perlu berjalan lurus setelah keluar dari pintu utama bagunan untuk bisa sampai ke jalan raya. Dan baru keluar dari bagunan itu, ia lagi-lagi dibuat terkejut ketika tahu di mana ia berada sekarang ini.
__ADS_1
"Seriously? Apa aku lagi di tengah hutan?" Heran Bira sambil meneruskan langkahnya meninggalkan bagunan di belakangnya. Suasana hening dan dingin menemaninya dalam berjalan menyusuri gelapnya malam. Untungnya bulan sedang bersinar terang, dia jadi tidak terlalu kesulitan untuk berjalan di jalan setapak itu.
Seraya berjalan, pertanyaan mulai muncul di kepala Bira. Di mulai dari jalanan yang ia lalui. Jalanan ini terlihat sering dilalui oleh kendaraan meski jalanan tersebut hanya cukup untuk satu mobil karena terbuat dari tanah-tanah yang terlihat sering dilalui. Lantas pertanyaannya adalah ke mana kendaraan-kendaraan tersebut? Tidak mungkin bukan, 8 orang tadi berjalan untuk bisa membawanya kemari.
Pertanyaan Bira langsung terjawab seketika itu juga. Sebuah cahaya senter terlihat dari jarak beberapa meter di depan Bira. Dengan sangat cepat Bira melompat ke arah semak belukar dan bergerak menjauhi jalan setapak tadi. Ia mengambil jarak yang cukup jauh dari jalan dan mengamati dari sana.
Ternyata sebuah mobil Elf berjalan melintas ke arah bangunan tadi. Firasatnya benar, tidak mungkin mereka bisa berada di sana tanpa membawa kendaran. Dan mobil berpenumpang besar itu sudah menjawab semuanya.
__ADS_1
Setelah merasa aman, Bira langsung berlari meninggalkan semak belukar. Segala rasa sakit, ia coba untuk tahan dalam-dalam. Kesempatan untuk kaburnya hanya ada saat ini saja. Dia harus sampai jalan beraspal setidaknya sebelum orang-orang itu menyadari kepergian dirinya dari sana. Dengan segenap tenaga yang tersisa, akhirnya ia bisa sampai ke jalan beraspal. Namun, belum sempat ia bersyukur, pandangannya mulai memudar. Tepat saat kakinya menyentuh aspal, ia tak mampu lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Seketika itu pula ia tak sadarkan diri.