
"Apa sudah tidak bisa lebih cepat lagi?" Tanya Clara dari kursi belakang pad sang supir.
"Ini juga sudah paling cepat, non." Jawab sang sopir. Sebenarnya ia masih bisa menambah kecepatannya. Tapi karena perintah Biantara, dirinya tak bisa menambah kecepatannya dengan alasan Clara yang sedang hamil dan baru sadar dari pingsannya.
Ya, Clara sudah sadar dari pingsannya. Mungkin sudah 10 menit berlalu dari waktu itu. Dan sebangunnya ia dari pingsan ia langsung menanyakan keberadaan pria yang muncul dalam mimpinya, yaitu Bira.
10 menit yang lalu,
"Apa ayah bilang!" Bentak Clara.
"Clara tenang, nak. Kamu gak boleh gitu sama ayah kamu." Nesya memegang lembut tangan anaknya.
"Gak bisa, ma. Apa yang ayah lakukan udah benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa ia langsung menghajar orang yang baru ia temui! Dan parahnya lagi ia menculik pria itu," Dengan perasaan menggebu-gebu Clara mengungkapkan kekesalannya.
"Bukan menculik, Clara. Ayah hanya,"
"Hanya apa? Hanya sedang menyapanya? Sudahlah muak aku dengan ini semua." Clara tak mau menerima jawaban apapun dari ayahnya karena itu hanya membuatnya semakin kesal. Dia langsung membuang selimutnya.
__ADS_1
"Kak, mau ngapain?" Heran Bagas.
"Pergilah. Bisa-bisa emosi terus aku kalau di sini."
****
Akhirnya mobil yang dinaiki oleh Clara sampai di tempat tujuannya. Clara langsung keluar dari mobil. Dia sungguh tak sabar untuk bertemu dengan pria itu. Di luar mobil terlihat Biantara, Nesya, Cia, dan Bagas juga baru keluar dari mobil mereka.
Biantara mengambil langkah lebih cepat di antara mereka, masuk ke dalam bangunan tua yang terletak di tengah hutan. Clara sungguh tak habis pikir bagaimana bisa ayahnya membawa seorang pria yang belum tentu bersalah ke tempat sejauh ini dari kota. Kalau perhitungan Clara tidak salah, mungkin butuh dua jam untuk sampai ke sini dari kota.
Mereka semua masuk mengikuti langkah Biantara. Tak ada sambutan satu pun untuk mereka baik di luar maupun di dalam bangunan. Hal itu pula yang membuat Biantara merasa sedikit khawatir karena dia menyuruh seseorang harus ada yang berjaga di luar. Tapi kondisinya malah sepi sekali. Barulah ketika mereka sudah sampai di ruangan paling dalam terdengar suara teriakan orang.
"Dasar gak becus!" Teriak seseorang sambil menghajar pria yang lain dengan emosi. Pria yang sedang menghajar itu tak lain adalah Liam yang disuruh berangkat lebih dulu kemari oleh Biantara.
Kemarahan Liam berhenti ketika ia menyadari ada beberapa orang berjalan ke arahnya. Dia kemudian menoleh ke belakang.
"Tuan besar," Sapa Liam menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat.
__ADS_1
Biantara tak membalas sapaannya. Dia hanya melirik ke arah pria-pria yang lain. Mereka adalah orang sewaannya untuk mencari Bira waktu itu sekaligus orang-orang yang ia percayakan untuk menjaga Bira di sini agar tak kabur semalam.
Dari yang ia perhatikan. Semua orang itu seperti selesai melakukan perperangan. Terlihat luka lebam di wajah mereka yang benar-benar kusut. Mereka sungguh tak lemah tak berdaya.
"Jelaskan padaku apa, tunggu dulu." Biantar kemudian melangkah ke arah kamar di ujung. Kamar itulah yang ia gunakan untuk menyekap Bira semalam.
Kosong. Ia hanya mendapatkan bebrapa rantai yang sudah terlepas. Raut wajahnya langsung berubah seketika.
"Dasar bodoh!" Umpatnya entah pada siapa.
"Bagaimana bisa kali," Ucapannya langsung terhenti ketika ia membalikkan badannya. Di mana tak jauh dari sana anggota keluarganya sedang menyaksikan dirinya dengan tatapan binggung. Ia sendiri binggung kenapa bisa jadi seperti ini.
"Ayah, mana Bira?" Clara sudah tak tahan untuk menanyakan hal itu. Melihat percakapan Liam dan ayahnya ia bisa menebak kondisi saat ini. Tapi bukan itu yang ia inginkan. Tujuannya kemari adalah untuk bertemu dengan Bira.
"Ah, itu. Ayah tak bermaksud untuk membuat hal ini jadi rumit Clara. Sungguh ayah tak berniat. Ayah mohon maaf," Biantara mendekati Clara. Ia mencoba membuat anaknya tidak terlalu marah padanya dengan cara ingin memeluknya.
"Tak usah berbelit-belit ayah. Cukup katakan di mana?" Clara menolak ayahnya secara mentah-mentah.
__ADS_1
"Itu," Biantara menghela nafas panjang.
"Bira hilang."