Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
70. Nge-date


__ADS_3

Dalam sebuah taksi, Clara sudah berdandan secantik dan seelegan yang ia bisa. Detak jantungnya menjadi tak karuan semenjak tahu bahwa pria bernama Icad kemarin berhasil menemukan Bira dan berjanji akan mempertemukannya dengan Bira.


"Jadi, yang bahagia itu non atau adek bayinya?" Pertanyaan mbok Inem ini terpikir kembali dalam benak Clara. Sontak membuat wajah Clara kembali memerah. Antara malu dan senang bercampur menjadi satu dalam hatinya.


"Hahahaha, lucu sekali kalau aku bayanginnya. Waktu itu aku yang nyuruh dia buat pergi dan lupakan aku. Sekarang malah aku yang mencarinya dan ingin membuat ada di sampingku." Gumam Clara dengan senyuman tipis. Apa yang ia ucapkan pada Bira tentang kesepakatan ternyata menjadi senjata makan tuan baginya.


Dirinya tak tahu kalau ternyata pesan Bira terakhir kali yang sempat ia entengkan malah benar-benar terjadi. Sungguh ironis memang. Tapi dirinya pun tak tahu kenapa bisa seperti ini. Entah karena anak dalam kandungannya yang butuh sang ayah atau entah karena dirinya sendiri yang berusaha move on dari mantan suaminya.


Berbicara soal mantan suami, jujur Clara sudah tidak terlalu ingat lagi padanya saat ini. Pikirannya hanya tertuju pada ayah biologis anak dalam kandungannya ini saja. Tak ada yang lain. Bahkan setelah Biantara memberikannya surat cerai secara tiba-tiba waktu itu, Clara sungguh tak terlalu ambil pusing tentang itu.


Mungkin ia sempat terpikir tentang perceraian itu. Tapi semuanya sirna begitu saja begitu tahu kalau ia bisa hamil. Seperti masalah perceraiannya bisa dilampiaskan dengan kehamilannya. Alih-alih merasa sedih karena cerai dengan Adelard seperti yang ia bayangkan, Clara malah lupa akan kesedihannya dan merasa senang waktu itu kerena hal itu berbarengan dengan fakta bahwa ia sedang hamil

__ADS_1


"Nak, kamu jangan khawatir. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan ayahmu. Kamu pasti kangen banget ya?" Gumam Clara pada perutnya sendiri yang masih tergolong rata.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Clara sampai di sebuah hotel ternama sesuai dengan janjinya dengan Icad. Sebenarnya ia sangat malas mengiyakan ucapan Icad untuk bertemu di hotel. Tapi karena Bira menjadi iming-iming dari Icad, mau tak mau Clara menerima ajakan Icad untuk bertemu di salah satu hotel.


Alasan Icad memilih hotel sendiri adalah karena ia beralasan sedang melakukan meeting di sekitar sana. Jadi, bertemu di hotel tak akan menjadi masalah bagi Clara selama janjinya dipenuhi.


Setelah membayar biaya taksi, Clara langsung masuk ke dalam hotel bintang lima itu. Menurut penuturan Icad, ia sudah memesankan tempat untuk keduanya bertemu di restoran hotel ini. Dan ucapan Icad terbukti ketika Clara menyebutkan namanya pada resepsionis hotel. Bahkan para resepsionis menawarkan diri untuk mengantarkan Clara ke meja yang sudah di pesan.


Mempesona. Itu adalah pikiran pertama yang dilayangkan oleh Icad ketika melihat Clara datang menghampirinya. Penampilan Clara sangat berbeda jauh ketika ia mengajaknya makan terakhir kali. Kali ini Clara terlihat begitu sempurna dengan balutan dress hitam meski dress tersebut nampak cukup membungkus tubuh Clara dengan sangat baik.


"Ah, cantik sekali. Bidadari dari surga kah dia? Wajar saja banyak sekali yang memperebutkannya meski ia seorang janda. Bahkan para mantanku tak pernah ada yang secantik ini." Kagum Icad dalam benaknya sendiri.

__ADS_1


"Maaf, terlambat." Ucap Clara sebagai ucapan basa-basi karena seingat Clara ia datang tepat waktu, hanya Icad saja yang sudah di sana terlalu dini.


"Ah, iya. Tak masalah. Silahkan duduk." Icad dengan cepat berpindah posisi agar bisa menggeserkan kursi untuk Clara.


"Asalkan kau tahu, Clara. Menunggu mu berapa abad pun aku sanggup." Gombal Icad dengan senyum mengembang di wajah. Dirinya merasa sedang berada di surga saat ini. Bagaimana tidak, Lihatlah bidadari saja sudah ada di depannya.


"Huek, dasar lelaki buaya! Kalau boleh tahu itu ungkapan untuk wanitamu yang ke berapa?" Umpat Clara dalam hati. Perasaan dengki tiba-tiba menyeruak hanya karena gombalan Icad barusan. Dirinya yakin pria seperti Icad ini merupakan buaya darat yang ringan lidahnya.


"Oh, iya, Clara. Boleh aku bertanya?" Kini Icad sudah kembali duduk di kursinya, lebih tepatnya di depan Clara.


"Hhhhm, silahkan." Jawab Clara sekenanya.

__ADS_1


"Kenapa sih kamu kok cantik banget malam ini?"


__ADS_2