
"Oke, kamu tunggu di sini ya. Aku hanya sebentar, kok." Terang Icad pada Clara yang langsung saja meninggalkan Clara di meja itu.
"Mau pergi selamanya juga gak masalah, kok." Batin Clara mendoakan agar Icad tak kembali lagi kemari. Tak lupa pula Clara membersihkan punggung tangan kanannya yang tadi sempat dicium oleh Icad.
Ketenangan Clara hanya bertahan beberapa menit saja karena ternyata Icad sudah kembali dari kamar mandi.
"Maaf, membuatmu menunggu lama." Ucap Icad masih seperti biasa, sangat percaya diri tinggi. Icad kemudian duduk kembali di kursinya.
"Cukuplah. Sampai kapan tingkat kepede-an itu ada, hah?" Batin Clara mencoba menahan diri agar tidak menyumpah serapah ke arah Icad.
"Ya, tak masalah." Balas Clara dengan muka terpaksa untuk tersenyum. Bersikap ramah secara pura-pura ternyata sulit juga, pendapat Clara setelah beberapa menit ia ia habiskan untuk berpura-pura tersenyum.
Clara yakin kalau Sella ada di sini. Dia mungkin sudah menjadi orang paling sewot. Bagaimana tidak, hanya dengan melihat cara Icad memandangi Clara saja pasti membuat mulut Sella ingin berkomentar pedas untuk lelaki itu.
Pikiran Clara tentang umpatan Sella harus terhenti karena para pelayan datang membawakan makanan untuk mereka.
__ADS_1
"Silahkan dinikmati, sayang." Ucap Icad kepada Clara setelah makanan sudah tertata di atas piring masing-masing.
"Ya. Kamu juga." Balas Clara tak mau mengambil pusing. Dirinya lebih tertarik untuk menyantap steak yang ada di depannya dari pada harus meladeni ucapan Icad yang terus membuatnya muak.
Berbeda dengan Clara yang sudah menyantap pesanan beberapa kali, Icad malah hanya menyaksikan Clara dengan sebuah smirk yang aneh. Dan Clara merasakan hal itu.
"Apa ada yang salah?" Tanya Clara menghentikan aktivitas makannya dan menatap ke arah Icad.
"Tak, tak ada yang salah. Aku hanya mengangumi saja." Jawab Icad sambil menyendok pesanannya sendiri.
"Ah, malam ini benar-benar seperti di surga. Wanita sesempurna Clara akan menjadi milikku. Ah, nikmatnya." Batin Icad sambil membayangkan hal-hal yang hanya ia sendiri dan tuhan yang tahu.
Tentu Clara menyadari semuanya seperti ada yang salah. Tapi tekadnya untuk bertemu dengan Bira terlalu menggebu-gebu sehingga ia jadi sedikit malas untuk berpikir saat ini. Toh, permintaan Icad hanya menemaninya makan malam saja. Barulah setelah makan malam selesai, Icad akan membawa Clara ke tempat Bira.
"Hhhhm, lezat. Tak salah hotel ini menjadi hotel terbaik di tempat ini bukan?" Tanya Icad di terakhir suapannya. Clara sendiri tak menanggapinya. Ia lebih memilih untuk minum minuman pesanan sampai habis. Dan hal itu membuat Icad yang melihatnya sangat senang.
__ADS_1
"Ah, sayang. Mungkin satu malam tidak akan cukup ya." gumam Icad dalam benaknya sendiri. Ia kemudian mengikuti Clara untuk menghabiskan minumannya.
"Ah, segarnya. Jadi, apa kamu mau aku langsung antar ke Bira?" Tanya Icad setelah gelas miliknya habis tak bersisa.
"Hhhhm,," Aneh. Perasaan aneh mulai menjalar ke seluruh tubuh Clara. Rasa panas dan mulai membuat Clara kegerahan.
"Ayo," Ajak Icad sambil menyentuh pelan kulit Clara.
Bak disengat listrik. Semua bulu kuduk Clara serasa berdiri. Clara tak pernah sekalipun merasakan tubuhnya seaneh ini. Dan sentuhan tangan Icad barusan seperti membangunkan sesuatu dalam dirinya.
Tett,,,,tetttt,,,,teeett, tiba-tiba saja ponsel Icad berbunyi. Mau tak mau Icad melihat ke arah ponselnya.
"Clara, aku angkat telpon sebentar ya." Ucap Icad dengan buru-buru menjauh dari Clara.
Clara sendiri tak menjawab. Kondisinya tubuhnya yang aneh membuat ia binggung harus apa. Rasanya sangat panas. Jika ada kolam renang di depannya, mungkin ia akan langsung terjun tanpa pikir panjang. Dan baru saja ia hendak duduk kembali, tiba-tiba sebuah tangan menariknya menjauh dari sana.
__ADS_1