
-Bira POV-
Aku tahu yang telah aku lakukan itu salah. Tapi apapun yang terjadi selanjutnya tentu akan ku tanggung karena semua yang terjadi ada hubung kaitnya dengan ku. Namun, kenapa semuanya berbanding terbalik dengan apa yang aku ekspetasikan? Wanita itu benar-benar berbeda dengan yang lain. Setelah mendapatkan berkas dari Sella, aku mulai membaca penyataan dalam kesepakatan dari wanita itu.
...Surat Kesepakatan...
Dengan ini saya Clara Biantara sebagai pihak ke-I dan Bira Dewara sebagai pihak ke-II membuat kesepakatan atas dasar keputusan bersama. Adapun kesepakatan yang kami buat, sebagai berikut :
Kejadian yang terjadi antara pihak ke-I dan ke-II adalah sebuah kesalahan.
Oleh karena itu, pihak ke-II akan menganggap kejadian dengan pihak ke-I tidak pernah ada dan menutup mulut tentang apa yang pernah terjadi.
Pihak ke-II akan mendapat jaminan atau uang kompensasi senilai 200 juta secara cek.
__ADS_1
Apapun yang terjadi ke depannya, sudah bukan menjadi tanggung jawab masing-masing pihak.
Terakhir, kedua pihak akan saling melupakan setelah kesepakatan ini di tanda tangani oleh kedua belah pihak.
Kesepakatan ini kami buat atas kesadaran diri masing-masing dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Bila salah satu pihak melanggar pasal-pasal di atas, maka pihak yang melanggar akan dikenakan denda, yaitu mengikuti satu perintah yang wajib dilakukan oleh pihak bersalah.
tertanda,
(Clara Biantara) (Bira Dewara)
******
"Kenapa? apakah jumlah kompensasinya kurang?" Tanya Clara.
"bukan, ini bukan masalah uang." Jawab Bira.
"Lalu?"
"Aku tak butuh uang itu dan aku juga tidak akan mengungkapkan kejadian itu atau bahkan menjelekkan namamu."
"Cih, tidak usah sok jual mahal. Ku tahu kamu butuh uang itu. Akan ku tambahkan jika jumlahnya masih kurang."
__ADS_1
"Sudah kubilang aku tak butuh uangmu sepeser pun. Hanya saja, apakah kamu benar-benar tidak butuh pertanggung jawaban dariku?"
Sedetik kemudian Clara memandangi wajah tampan Bira. Dia mencoba mencari kebohongan dari apa yang dikatakan Bira. Namun sayangnya itu sia-sia. Bira terlihat benar-benar serius dengan apa yang dikatakannya. "Hahahaha, kamu pikir dengan tidur bersama sekali dengan mu itu bisa membuatku hamil? tidak mungkin."
"Hei, itu bukan tidak mungkin. Mungkin kemungkinannya saja yang kecil, bukannya tidak mungkin." Balas Bira dengan cepat dan tegas.
"Tenanglah itu tidak mungkin terjadi." Meski menjawab begitu, Clara nampak memikirkan sesuatu. Sebenarnya dia pun tak yakin dia akan hamil atau tidak, namun dia berharap itu tidak terjadi. "Lagipula kalau pun aku hamil, kamu tidak perlu bertanggung jawab. Kenapa?! karena aku tidak butuh. Kamu cukup tutup mulutmu, lupakan masalah ini dan bawa uang ini lalu pergilah menjauh."
Clara meminta selembaran cek pada Sella. Kemudian dia menuliskan beberapa angka pada selembaran itu dan menyerahkannya pada Bira melalui Sella. Tentu saja Bira menolak mentah-mentah cek tersebut.
"Sudah kubilang aku tak butuh uangmu. Tapi jika memang itu keinginanmu, maka aku akan mengikutinya." jelas Bira sambil menandatangani surat kesepakatan itu.
"Tapi, tuan. Kalau anda sudah tanda tangan berarti anda harus mengambil uangnya." Ucap Sella yang masih berdiri di depan Bira hendak memberikan cek dari bosnya.
"Heem, aku tak butuh uang itu. Bagaimana kalau kamu ambil saja uang itu?"
"Eh, bagaimana bisa?"
"Tentu saja bisa, bukan begitu C-l-ara Bia-ntara?" Jawab Bira santai dengan mengeja nama lengkap Clara yang ia baca pada surat keputusan di tangannya. Dan Clara hanya mengganguk setuju karena malas berurusan dengan pria yang dianggapnya sok jual mahal itu.
"Sudahlah, Sella. Kamu ambil saja uang itu. Nanti juga orang sok jual mahal itu akan menyesali perbuatannya." ungkap Clara mencoba mempercepat masalah ini selesai. Dia memang ingin masalah ini cepat selesai. Terlebih karena banyak hal penting lainnya yang perlu ia kerjakan.
"Baik, terimakasih, tuan." Ucap Sella berterima kasih pada Bira. Meski begitu, Sella tetap tidak berani menatap Bira secara langsung. Rasanya seperti Bira memiliki aura yang membuat dirinya salah tingkah.
"Sama-sama. Oh iya, Clara. Aku mau mengajukan satu kesepakatan tambahan," Balas Bira seraya memberikan surat itu kepada Sella.
"Apa itu?" Tanya Clara singkat.
"Tidak ada yang boleh sedikit pun mencampuri urusan pribadiku maupun menelusuri kehidupanku." Jawab Bira.
__ADS_1