
Kini Clara sudah kembali ke kantornya. Dengan perasaan yang begitu hancur, dia mencoba mengerjakan beberapa tugas kantor yang sempat dia tinggalkan. Namun pikirannya begitu kacau saat ini. Semenjak bertemu dengan ayahnya, dia terus memikirkan masalah tentang pernikahannya.
"Apakah aku benar-benar harus berpisah dengannya? Setelah pernikahan yang ku pertahankan selama 3 tahun ini, apakah harus kandas begitu saja?" tanya Clara pada dirinya sendiri. Dia menghentikan pekerjaannya dan menatap ke arah bingkai foto yang ada di atas meja. Foto itu menampilkan sepasang kekasih yang mengenakan pakaian sakral mereka. Nampak keduanya begitu bahagia, senyum di wajah keduanya menyiratkan kebahagiaan keduanya.
Tanpa terasa air mata mengalir di pelupuk matanya. Dengan perlahan dia mendekatkan bingkai foto itu ke wajahnya dan menciuminya. "Andai, andai saja aku tidak berkekurangan, apakah kamu mau menerimaku? Maukah kamu kembali ke dalam pelukanku? kutahu permintaanku ini egois, tapi bolehkan aku menginginkanmu? kumohon tuhan, jangan biarkan dia pergi,,"
Tangisannya kian menjadi. Suaranya yang parau kini menghilang dan menyisakan suara tangisan.
Tet,,,,tet,,,,,tet,,,
Bunyi handphonenya, memecah tagisannya. Dia melirik handphonenya. Terlihat sebuah nama mencoba melakukan panggilan video dengannya. Meski enggan mengangkat, tapi dia memilih untuk mengangkat telpon itu karena takut ada hal penting yang harus dibicarakan. Setelah menghapus air matanya, dia mengangkat panggilan video itu dan di sambut sapaan dari ujung telpon.
__ADS_1
"Hola!!! Clara, apa kabar? aku kangen tahu sama kamu," ucap perempuan di ujung telpon.
"halo juga,, Cindy. Aku baik kok." balas Clara dengan senyum terpaksa.
"Clara? kamu kenapa? kamu habis nangis?" tanya Cindy dengan khawatir melihat wajah Clara yang begitu lesu.
"enggak kok, cuman kelilipan aja." elak Clara mencoba tampak segar di hadapan sahabatnya.
"Heh, bagaimana bisa kita bertemu, kamu kan sedang bersama keluargamu di Spanyol?" tanya Clara penasaran. Pasalnya 2 bulan lalu Cindy memilih untuk ikut dengan suaminya untuk pindah ke Spanyol. Dan selama itulah mereka belum pernah bertemu lagi.
"hahahaha, suprise. Aku ada di Indonesia. Dua jam yang lalu aku sampai. Sekarang aku lagi di hotel," jawab Cindy menunjukkan senyum bahagia kembali ke tanah airnya.
__ADS_1
"hah, kenapa tidak kabari aku? kalau tahu begitu kan bisa aku jemput," jelas Clara yang tidak tahu menahu bahwa sahabatnya sudah pulang ke Indonesia.
"hehehe, kan kejutan, Clara. Yaudah mending kita ketemuan. Aku kangen banget sama kamu," ungkap Cindy.
"oke, share lokasi aja. Aku kesana habis beresin kerjaanku." balas Clara yang kini perasaannya menjadi lebih baik atas kehadiran sahabatnya.
"hei, Clara. Kamu masih aja sibuk. Yaudah cepetan, udah aku kirim lokasinya. Jangan lama-lama," Titah Cindy menampilkan wajah seram yang selalu dianggap imut bagi Clara.
"Iya, Say. Ini dikit lagi kelar. Yaudah tutup dulu yah. Nanti malah kelamaan. Bye," Tutup Clara dengan kiss virtual pada cindy. Sedangkan Cindy mengangkat tangannya seolah mengambil kiss Clara, dan membuangnya pada bokongnya. Kemudian keduanya pun tertawa dan menutup panggilan tersebut.
Clara sangat beruntung memiliki Cindy sebagai sahabatnya. Tak hanya memiliki watak yang lucu, Cindy juga sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri karena sering kali memberikannya saran, meski kebanyakan sarannya begitu konyol. Namun hal itulah yang membuat mereka begitu dekat.
__ADS_1
Setelah menutup panggilan tersebut dia kembali mengerjakan berkas di mejanya. Karena ternyata berkasnya masih cukup banyak dan dia tak mau membuat sahabatnya menunggu terlalu lama, dia memutuskan untuk menyerahkan berkas tersebut kepada sekretarisnya agar di bawa ke apartemennya. Sebelum berangkat, dia menatap foto tadi lalu berdoa. "tuhan, semoga apapun pilihan yang ku ambil itu baik."