Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
78. Bangun


__ADS_3

Matahari pagi nan cerah, bersinar menyentuh bumi agar setiap makhluk dapat segera kembali pada aktivitas hariannya. Kulit mulus Clara pun turut merasakan kehangatan mentari pagi sehingga ia dengan perasaan malas mulai membuka matanya.


"Hhmm,,," Clara nampak terganggu dengan cahaya yang menyentuh kulitnya.


Dengan perlahan ia membuka kedua matanya. Nyawanya yang masih belum sepenuhnya terkumpul langsung menuntunnya untuk bangun dari kasur dan menutup jendela kamar supaya sinar matahari terhalangi.


Setelah menutup jendela, Clara kembali naik ke atas kasur. Sinar matahari yang sudah terhalangi oleh gorden membuat ia merasa untuk bisa melanjutkan tidurnya. Tak lupa pula ia memeluk erat guling yang ada di sebelahnya. Namun, seketika itu Clara merasa ada yang aneh dengan guling yang ia peluk.


Sejak kapan ada guling yang berotot dan memiliki wangi yang familiar untuknya. Tangan Clara meraba-raba guling yang ia peluk. Sebuah keanehan pada guling itu kembali ia temukan, yaitu adanya bulu-bulu halus yang ia rasakan.


“Apa ini guling keluaran terbaru ya?” batin Clara yang tengah mempertanyakan apa yang ia rasakan.


Perlahan Clara membuka matanya untuk melihat guling yang ia peluk.

__ADS_1


“A,,,” Dengan cepat Clara menutup mulutnya sebelum ia mengeluarkan teriakan yang lebih kencang.


Mata Clara langsung melotot ke arah guling yang ternyata adalah seorang pria. Sosok pria itu membuat pikiran Clara kembali traveling ke dalam kejadian yang semalam terjadi. Mulai dari percakapannya dengan sekretaris mesum sampai berakhirnya ia di ranjang panas dengan pria yang masih terlelap itu.


“Aih, ternyata itu bukan sekadar mimpi.” Ucap Clara pelan.


Ada perasaan senang yang menjalar ke dalam hatinya setelah sadar kalau kejadian semalam ternyata memang benar-benar terjadi. Bibir Clara langsung tersenyum dengan puas. Berbulan-bulan ia mencari sosok pria ini. Dan kini takdir kembali mempertemukan mereka dengan cara yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu.


“Tak kusangka kita akan bertemu kembali dengan cara seperti ini,” Batin Clara.


Cup, sebuah kecupan ia berikan di pipi pria itu.


Ada sebuah harapan agar pria itu terbangun ketika Clara memberikan kecupan itu meski kenyataan pria itu nampak tak mungkin terjadi karena pria itu tak bergeming sedikitpun. Tapi bagi Clara itu tak masalah. Lagi pula ia merasa lebih baik pria itu tetap terlelap dulu karena ia yakin kalau pria itu bangun, pria itu pasti akan memaksa untuk pergi.

__ADS_1


Beralih dari bagian wajah, Clara mengamati tubuh pria itu dengan senyuman yang dirinya sendiri tak pernah sadari untuk tersenyum seperti itu. Tak hanya tampan, pria itu ternyata memiliki fisik yang sangat bagus. Terbukti dari banyaknya otot yang menyelimuti tubuh pria itu. Bahkan Clara yakin kalau pria itu sudah tidak memiliki lemak yang tersisa dalam tubuhnya.


“Bira,” Sapa Clara seraya berbaring di sebelah Bira.


Keduanya kini saling bertatap muka meski hanya Clara saja yang sudah bangun dari tidurnya.


“Ak,,” Clara langsung berhenti bicara dan dengan cepat menutup matanya seolah-olah sedang tertidur.


Ternyata, tepat saat Clara ingin berbicara, Bira mendekat ke arah Clara dan memeluknya. Mungkin dalam mimpinya, Bira beranggapan bahwa Clara adalah guling. Clara sendiri langsung bernapas lega. Dirinya barusan mengira kalau Bira sudah terbangun barusan.


Dengan tindakan Bira itu, jarak antara keduanya malah menghilang. Posisi mereka malah semakin intim saat ini. Clara yang sudah sadar dari tidurnya tentu langsung merasakan tubuhnya mulai menegang. Padahal kulit mereka hanya saling bersentuhan. Merasa tak berdaya, Clara menahan semua gejolak di tubuhnya dengan menutup mulutnya. Kalau tak ditahan, mungkin ia akan mengeluarkan suara memalukan seperti semalam.


Namun, Clara kembali dibuat kaget dengan sesuatu yang tiba-tiba saja mengeras di bawah sana.

__ADS_1


“Apa it,,,” Clara langsung berhenti berbicara dan memilih untuk pura-pura tidur.


Ia sadar akan ada sesuatu hal yang terjadi setelah ini.


__ADS_2