
Tak menunggu lama, Clara langsung mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah. Sesekali dirinya melihat cafe di pinggir jalan yang sedang menjajakan makanan mereka. Kelihatannya sangat menggugah selara apalagi bagi Clara yang baru saja pulang dari kantor. Tapi entah kenapa hatinya seperti menyuruhnya untuk langsung pulang saja malam ini.
"Hhhm,,, Kayaknya lebih menarik makanan rumah. Terutama kalo mbok Inem yang masak." Clara mulai mengkhayal tentang lauk apa yang akan disediakan oleh mbok Inem asisten rumah tangganya. Jujur Clara sangat menyukai masakan dari mbok Inem. Entah karena dari kecil selalu dimasakin oleh beliau atau karena masakannya sendiri yang kurang enak, ia tak tahu. Tapi mungkin pilihan pertama adalah alasan yang paling tepat.
Mbok Inem atau yang sering Clara dengan panggilan mbok adalah salah satu pengasuh Clara ketika dirinya masih kecil. Kedekatannya dengan mbok Inem yang sudah merawatnya dari kecil membuat dia seperti tidak bisa jauh darinya. Bahkan setelah menikah pun dia tak mau jika mbok Inem tidak ada di dekatnya. Alhasil dia menjadikan mbok Inem sebagai pembantunya di rumah.
Setelah menyetir mobilnya menyusuri jalanan malam, akhirnya Clara sampai di depan gerbang rumahnya. Sedetik kemudian seorang pria berpakaian putih yang tak lain adalah satpam rumahnya berjalan menghampirinya.
"Malam, non." Sapa pria itu dengan ramah.
"Malam juga, pak andi." Clara membalas dengan senyum terukir di wajahnya.
"Saya buka kan sebentar non pintunya." Pria itu kemudian berlalu kembali ke depan gerbang dengan sedikit berlari. Ia langsung membukakan pintu gerbang untuk mobil Clara masuk.
"Makasih, pak." Clara langsung melajukan mobil ke dalam area rumahnya. Baru hendak memarkirkan mobil, Clara melihat sebuah mobil sudah terparkir rapih di sana. Sebuah senyum bahagia terpancar dari wajah Clara.
__ADS_1
"Mas Ade pulang?Kok, gak ngabarin." Dengan sedikit terburu-buru Clara melanggang masuk ke dalam rumah. Namun langkah kakinya terhenti begitu melihat mbok Inem sedang membawa piring ke dapur. "Malam, mbok."
Clara menyapa mbok Inem sebentar dan langkahnya terus berjalan menuju kamarnya. Namun baru bebrapa langkah ia berjalan, sebuah tangan menahan langkahnya.
"Malam juga, non." Ternyata tangan tersebut adalah tangan mbok Inem. Entah sejak kapan mbok Inem ada di belakangnya, Clara tak tahu. Karena pada saat menyapa barusan, posisi mereka berdua cukup jauh.
"Non, gak makan malam?!" Tanya mbok Inem sambil melepaskan pengangan tangannya.
"Ah, iya. Tapi aku mau ke,,"
"Mbok bikin masakan kesukaan non tahu. Sini kita makan dulu." Mbok Inem memotong ucapan Clara dan langsung mendorong tubuh Clara agar pergi ke ruang makan.
"Non, sayang loh kalo gak dimakan." mbok Inem terus menyeret tubuh Clara ke ruang makan.
Sesampainya di ruang makan, mbok Inem langsung menuntun Clara untuk duduk dan mengambilkan piring serta sendok untuk Clara. Ia juga mengambil secentong nasi dan beberapa lauk yang masih ada di atas meja.
__ADS_1
"Mbok,,," Ucap Clara menghentikan tangan mbok Inem. "Ada apa sih, mbok?"
"Hah?! gak kok, non. Gak ada masalah apa-apa." Jawab mbok Inem dengan cepat dan terkesan kaku. Clara yang sudah puluhan tahun bersama dengan mbok Inem langsung paham akan gelagat mbok Inem sekarang sedang menyembunyikan sesuatu dari Clara.
"Serius nih?!"
"I, iyalah, non. Ngapain mbok bohong sama, non."
Sejenak Clara terdiam menatap mbok Inem membuat yang ditatap meneguk air liurnya dengan susah payah.
"Oke. Aku percaya." tutur Clara menghentikan tatapannya pada mbok Inem. Sementara itu, mbok Inem menghela nafas lega mendengar penuturan Clara. "Oh ya, mbok. Aku mau minum kopi. Bisa buatin satu buat aku?!"
"Oke, segera, non." Balas mbok Inem secara spontan. Dia langsung menuju dapur untuk menyuguhkan kopi sesuai permintaan Clara.
"Hehehe,, terimakasih, mbok."Clara hanya melihat mbok Inem tanpa beranjak dari tempat ia berdiri. Barulah setelah mbok Inem tak nampak lagi, Clara beranjak dari sana. Dengan sedikit berlari, Clara menuju ke kamarnya. Dia sudah menunggu hal ini. Bertemu dengan seseorang yang sangat ia rindukan belakangan ini.
__ADS_1
Namun langkah kakinya menjadi berat ketika beberapa langkah lagi sampai ke pintu kamar. Meski terdengar samar, suara dari dalam kamar membuat seluruh rasa rindunya hilang menjadi angin begitu saja. Tepat di depan pintu kamar ia mematung. Suara yang tadi samar kini semakin jelas terdengar.
"Non!" Seseorang meneriakinya dari arah belakang.