Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
58. Sang Penyelamat


__ADS_3

Penyelamatan berhasil. Bira berhasil menahan wanita itu agar tidak terjatuh ke tanah. Dan hal itu membuat keduanya dapat menatap wajah satu sama lain. Wajah yang sangat sempurna menurut pandangan pertama kali melihat Bira.


Mata coklat kehitaman yang terlihat begitu cerah terpadu dengan bulu mata lentik dengan warna yang sama membuat pria manapun bisa terpana karenanya. Kulitnya juga putih nan halus layaknya salju yang dingin tapi indah. Ditambah dengan Pipi chubby yang terlihat sebuah lesung dengan keunikannya sendiri.


Namun, dari semua itu Bira lebih tertarik pada bagian merah darah yang terlihat mencolok di matanya, yaitu bibir tipis tanpa balutan lipstick wanita itu. Sungguh jika Bira sedang tidak berada dalam kewarasannya, ingin sekali ia ******* habis bibir itu.


"Ah, maaf." Ucap wanita itu yang langsung membenarkan posisi berdirinya. Saling bertukar pandangan dengan Bira membuat wajahnya sedikit berwarna kemerahan.


"Bukan masalah," Jawab Bira sambil membuang wajahnya agar tak menatap wanita itu terlalu lama. "Ah, tidak seharusnya ak,,"


"Wa,," Baru hendak berjalan, wanita itu malah terpeleset untuk kedua kalinya. Dan sekali lagi Bira menolongnya tapi dalam kondisi yang terlihat lebih intim. Di mana keduanya semakin dekat karena Bira menangkap wanita itu dari arah depan.


"****, ukurannya sesuai dengan seleraku." Batin Bira yang entah kenapa ketika kedua tubuh mereka menempel itulah yang pertama ia pikirkan, tentunya dua benda kenyal yang hanya dimiliki oleh wanita itu. Tak mau terulang kesalahan yang sama, Bira menarik si wanita agar menjauh dari tanah yang licin itu.


Sesuai tuntunan Bira, wanita itu hanya mengikutinya. Bahkan wanita itu sampai seperti mendekap dalam dada bidang Bira. Tentunya ia mendengar dengan jelas detak jantung Bira.


"Sudah. Sekarang seharusnya kamu gak bakal kepeleset lagi." Kata Bira sembari melepaskan dekapannya karena apabila terlalu lama berdekatan dengan cara seperti ini ia takut tak bisa mengontrol pikirannya.

__ADS_1


"Ah, iya." Jawab wanita itu dengan kaku-kaku. Dan dalam pandangan Bira, sikap kikuk wanita di depannya ini benar-benar membuatnya gemas.


"Kenalkan nama aku Bira Dewara. Kamu bisa panggil aku Bira." Ucap Bira sambil menjulurkan tangannya.


Wanita itu hanya balas menatap tangan Bira dan kemudian beralih ke wajah Bira, meski hanya sebentar karena setelahnya ia menunduk lagi. Cukup aneh bagi Bira.


"Wanita ini terlihat tidak sombong, tapi kenapa ia menolak untuk berkenalan?" Bira bertanya-tanya dalam hati.


"Hhhhm, baiklah kalau kamu gak mau kenalan." Sambung Bira seraya menarik tangannya. Ia juga melihat tangannya sebentar karena takut alasan wanita ini enggan bersalaman adalah karena lengan Bira yang kotor.


"Ah, bukan begitu. Aku han, ais. Aku Irissabela." Sela wanita yang bernama Iris itu dengan wajah tertunduk dan mata terpejam.


Iris membuka matanya perlahan karena heran mengapa Bira malah diam tak menanggapinya.


"Ha, halo, Bira.," Iris melambai-lambaikan telapak tangannya tak jauh dari wajah Bira.


"Hah, iya apa?" Kaget Bira yang langsung tersadar dari lumunannya.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa. Hanya saja kau aneh tiba-tiba bengong begitu."


"Ah, apa iya? Maaf kalau memang begitu kenyataannya." Bira menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Selanjutnya hening. Keduanya nampak binggung ingin membicarakan apa, terutama bagi Iris. Sudah sangat lama ia tak berbicara dengan pria seperti Bira.


"Kamu,,,"


"Kamu,,," Keduanya mengucapkan kata yang sama bersamaan.


"Hahahaha." Keduanya langsung menertawakan hal barusan. Bisa-bisanya mereka ingin berbicara di waktu yang sama dengan kata awalan yang sama pula. Dan hal ini menarik perhatian Bira karena dapat melihat tawa manis milik wanita yang baru beberapa detik lalu ia kenal. Jujur Bira dibuat terbang melayang melihat wajah cantik dengan lesung pipi itu tertawa. Suaranya pun begitu halus untuk didengar.


"Ah, maaf." Sambung Iris karena baru sadar kalau Bira hanya memperhatikannya dari tadi.


"Ya, tak perlu minta maaf. Mungkin kamu bisa duluan untuk bicara." Bira mempersilahkan untuk Iris bicara terlebih dahulu. Namun sebuah gelengan kepala dilakukan oleh Iris.


"Tidak, kamu saja." Tolak Iris yang kembali menunduk. Berada di dekat pria tampan seperti Bira membuat jantungnya tidak sehat. Detakan jantungnya semakin cepat, seperti ingin copot saja rasanya.

__ADS_1


"Hhhhm,, oke. Sebenarnya aku hanya ingin mengucapkan terimakasih sama kamu. Benarkan kalau semalam kamu yang nyelamatin aku?"


__ADS_2