Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
55. Murka Sang Istri


__ADS_3

"Apa kau tak bisa lebih cepat lagi, hah?" Tanya Biantara pada sang supir. Perasaan khawatir menyelimutinya saat ini. Ia tak bisa berpikir dengan jernih saat ini. Fokusnya hanya ada satu, yaitu ke rumah sakit.


Satu jam perjalanan, akhirnya Biantara sampai di salah satu rumah sakit. Kejadian ini terasa sama seperti dua minggu yang lalu. Di mana dia dengan perasaan gelisah datang kemari karena mendengar anaknya dilarikan ke rumah sakit.


"Di mana anak saya?" Tanyanya pada resepsionis di ruang administrasi. Wanita yang berjaga tentu mengenali siapa yang bertanya tersebut, yaitu pemilik rumah sakit ini sendiri.


Dan tanpa banyak komentar, wanita itu langsung membeberkan kamar tempat Clara dirawat. Bahkan ia berinisiatif untuk mengantarkan beliau. Namun, belum sempar mengajukan diri, Biantara lebih dulu pergi dari hadapannya.


Dia langsung menuju ke salah satu ruang VIP yang berada di lantai satu. Karena tak terlalu jauh, ia hanya butuh 2 menit untuk bisa sampai ke sana. Dan di luar kamar rawat, nampak anggota keluarga sedang menunggu dengan raut wajah yang bukan menandakan kebahagiaan.


"Ayah!" Bagas lebih dulu menyadari kehadiran Biantara. Hal itu pula yang membuat Cia, Nesya, Liam, dan mbok Inem menoleh ke arah Biantara.


Bagas ingin menghampiri ayahnya untuk memberitahukan kondisi kakaknya secara langsung. Tapi langkahnya kalah cepat dengan Nesya yang sudah setengah berlari menghampiri Biantara.

__ADS_1


Plak, satu tamparan keras diberikan oleh Nesya.


"Kamu melanggar janji kita, mas!" Ucap Nesya dengan suara yang bergetar. Air mata yang tadi surut malah kembali membuncah setelah kata-kata keluar dari mulutnya.


"A, aku,,"


"Aku apa mas?! Aku ke bawa emosi! Egois kamu, mas! Aku sudah minta sama kamu baik-baik, jangan sentuh pria itu. Setidaknya kalau kamu gak mau dengerin aku, cukup hargai perasaan anak kita, mas! Clara lagi hamil, mas. Dia punya emosi yang sangat labil, mas." Nesya tidak membiarkan suaminya itu membuka suara. Ia ingin mengeluarkan unek-uneknya terlebih dahulu.


"Maaf, sayang. Aku gak bermaksud buat nyakitiin Clara." Biantara merasa semakin bersalah.


"It, itu,,"


"Itu apa, mas! Beberapa hari lalu kamu janji sama aku, kalau ketemu sama pria yang sudah menghamili Clara kamu bakal menahan diri kamu. Tapi sekarang aku mau tanya, apa benar pria itu orangnya?"

__ADS_1


"Hhhhm,, itu aku belum tahu. Tadi aku ingin introgasi dia tapi malah dapat kabar kalau Clara masuk rumah sakit."


"Iya, mas. Clara masuk rumah sakit. Dan itu karena kamu, mas! Coba kamu pikir pakai otak kamu, kalau semisal pria itu bukan orangnya, kita sekeluarga yang bakal kena imbasnya, mas!"


"Sayang, aku yakin dia orangnya."


"Mana, berikan aku buktinya sekarang!" Bentak Nesya dengan perasaan marah, kecewa, dan kesal.


"Ma, udah ya. Nanti kita bicarain lagi. Mama marah-marah gini gak baik buat kesehatan, mama. Cia, tolong anterin mama ke kamar kosong buat istirahat." Bagas mencoba mencairkan suasana. Dia merasa tidak enak melihat perdebatan orang tuanya harus disaksikan oleh orang luar, meskipun orang-orang itu merupakan orang kepercanyaan keluarganya.


"Tapi mama belum selesai ngomong sama ayah kamu, Bagas." Nesya menolak untuk pergi dari sana. Perasaan kecewanya terlalu besar baginya.


"Ma, plis ya. Ikutin kata aku. Kasihan kak Clara kalo ngeliat orang tuanya harus marah-marahan kayak gini." Bagas langsung memberikan isyarat kepada Cia agar membawa mamanya untuk beristirahat.

__ADS_1


Cia sendiri menuruti perintah abangnya dan segera menuntun mamanya untuk pergi. "Ayo, ma. Biarin ayah diurus sama abang."


__ADS_2