
Merasa ada yang tak beres, Bira mulai memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi di detik berikutnya.
"Tidak mungkin pria itu berani melakukannya bukan?" Bira nampaknya sudah berhasil menemukan beberapa hal yang mungkin jadi rencana Icad. Dan ia sangat ragu kalau orang seperti Icad berani melakukannya.
Beberapa menit berlalu, terlihat Clara sudah selesai menyantap pesanannya dan mulai meminum apa yang ia pesan. Lagi-lagi Bira melihat raut wajah bahagia Icad ketika menyaksikan Clara sedang meminum.
Bira segera mencari cara agar momentum ini segera pecah. Ia takut kalau tak bisa memacahkan momentum, rencana Icad akan berjalan sesuai dengan rencana. Akhirnya Bira langsung menghubungi Donny. Tanpa basa basi, ia langsung menjelaskan sesuatu yang harus dilakukan oleh Donny saat itu juga.
Baru menutup telponnya, ia melihat Icad sedang mengandeng tangan Clara. Tanpa sadar Bira langsung berjalan mendekat ke arah Clara. Dan pada saat yang sama, sebuah telpon berdering dari ponsel si Icad. Saat Icad nampak berjalan menjauh, Bira langsung ke arah Clara dan langsung menarik lengannya.
Tak mau membuang-buang kesempatan, Bira langsung menuntun Clara untuk ikut dengannya. Pada awalnya ia mengira Clara akan menolaknya. Tapi yang terjadi ternyata sebaliknya. Clara hanya anteng ikut mengekor di belakang Bira dengan tangan masih Di genggam Bira. Barulah ketika tepat berada di sebuah mobil Bira berhenti dan langsung membuka pintu mobil, lalu menoleh ke arah belakang.
"Bira?!" Kaget Clara ketika tahu ternyata orang yang membawanya adalah Bira. Tapi rasa kagetnya nampak tidak terlalu besar karena sangat tak sebanding dengan perasaan aneh yang menjalar di setiap tubuhnya.
__ADS_1
"Pa, panas Bira." Sambung Clara setelahnya dengan kulit yang sedikit memerah.
"Oh, ****. Jangan bilang kalau dugaanku benar," Panik Bira dalam benaknya. Jika perkiraannya benar, maka pilihan terbaik adalah mengamankan Clara sebaik-baiknya.
"Aku akan menolongmu. Jadi, maukah kau ikut?" Izin Bira pada Clara. Ia tak mau memaksa Clara ikut bila Clara memang tak mau.
Clara tak membalas. Ia hanya berjalan masuk ke dalam mobil, disusul oleh Bira.
"Balik ke apartemen, Jay!" Titah Bira pada Jay yang sudah menanti dibelakang kemudi dari tadi.
"Pa, panas sekali Bira." Ucap Clara.
Bira malah menenguk ludahnya sendiri. Semakin kemari, ia semakin yakin tentang kondisi Clara saat ini. Dan hal itu membuat Bira bimbang.
__ADS_1
"Bira, panas!" Ucap Clara lagi namun dengan sedikit berteriak. Clara juga mengebas-gebakan tangannya agar ada angin yang mengenainya. Rasanya ingin sekali Clara melepaskan semua pakaiannya saat ini. Bahkan karena ulahnya, dress milik Clara mulai compang camping bagian atas.
"Aku bisa membantumu. Tapi aku takut kamu marah," Balas Bira akhirnya karena tak sanggup melihat Clara terlihat semakin tersiksa.
"Sungguh?" Ungkap Clara antusias.
Bira menganguk. Tentu saja ia tahu caranya karena ia pun pernah mengalami hal serupa, meski nampaknya Clara lebih berat.
"Cepatlah lakukan. Dan aku janji tak akan marah, please." Pinta Clara dengan memelas. Sungguh Clara tak tahu lagi harus berbuat apa. Rasa panas dari dalam tubuhnya seperti membakarnya. Apalagi setelah ia berpengangan tangan cukup lama dengan Bira tadi membuat dirinya menjadi semakin bergairah.
Dengan sedikit ragu Bira membawa Clara ke dalam pangkuannya. Ukuran mobil yang cukup besar membuat kepala Clara bebas dan tak bersentuhan dengan atap mobil. Hingga akhirnya keduanya berada dalam posisi yang sangat intim di dalam mobil bagian belakang. Di mana bira di bawah menopang tubuh Clara yang ada di atas.
"Jay, tutup mata dan kupingmu. Jangan sampai otak, mata, dan telingamu mengetahui apa yang terjadi di belakang. Kalau tidak, berarti kau bosan hidup!" Ancam Bira yang membuat Jay langsung mengerti. Jay langsung memasang sebuah pengalang antara dirinya dan Bira sesuai dengan permintaan Bira. Tak lupa pula ia menutup kaca yang bisa melihat ke arah belakang.
__ADS_1
" Intinya Jangan sampai aku tahu yang ada dibelakang. Itupun kalau aku masih mau hidup!" Panik Jay dalam hati.