Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
30. Klien Penting


__ADS_3

2 minggu berlalu setelah kejadian one stand night nya bersama pria asing bernama Bira. Selama itulah Clara mencoba melupakan kejadian itu dan mulai kembali kepada rutinitas hariannya. Mungkin lebih tepatnya Clara mencoba bersikap acuh atas peritiwa itu.


Meski sudah berhasil selama ini, Clara masih kerap kali kepikiran dengan ucapan Bira yang ingin bertanggung jawab jika dirinya hamil. Bukan kepikiran tentang pria yang gentleman itu, melainkan kepikiran tentang kata hamil itu sendiri.


Sebuah kata yang setidaknya berhasil menusuk relung hatinya. Dan tentunya hal itu karena ia tidak akan pernah bisa merasakan kata hamil itu dalam hidupnya. Karena apa?! karena dirinya bukanlah wanita beruntung seperti kebanyakan wanita pada umumnya. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh dokter beberapa tahun silam setelah kecelakan yang melibatkan dirinya.


Kata "mandul" adalah hasil diagnosa dokter setelah memeriksa keadaan Clara pasca kecelakan. Dan hal itu tentu membuat dunia Clara terguncang. Kehidupan yang ia bayangkan bisa seperti wanita pada umumnya harus sirna bahkan sebelum dirinya menginjak usia kepala dua.


Fakta ini pula lah penyebab hubungan rumah tangganya menjadi hancur berantakan. Semenjak ia memberitahukan kondisi tubuhnya yang tidak bisa hamil pada sang suami, kehidupan rumah tangganya mulai hancur. Di mana dirinya memberitahukan fakta itu pada saat malam pertama mereka.


Kejujuran yang menyakitkan itu Clara pilih untuk ungkapkan saat itu. Dan hal itulah yang membuat sifat sang suami berubah. Bahkan perubahan itu nampak setelah Clara selesai bercerita. Tentunya suami Clara mengalami syok yang cukup besar. Saking syoknya, pria itu bahkan meninggalkan Clara sendirian di malam yang seharusnya menjadi malam terindah bagi mereka.

__ADS_1


Tawa getir menghiasi wajah Clara tiap kali ia mengingat kejadian itu. Jika saja dia diam tak jujur pada suaminya saat itu. Mungkin saja akhir yang ia rasakan akan berbeda. Meski akhirnya berbeda tapi fakta tetaplah fakta. Dia tidak bisa mengubah fakta bahwa dirinya mandul.


"Dia selingkuh, berarti tak apakan kalau aku tidur dengan pria lain?" Batin Clara memcoba untuk mencari pembenaran dalam tindakannya 2 minggu setelah kejadian tersebut. "Walaupun itu juga berarti pria lain itu pula yang merebut keperawanan ku."


Nampaknya gumaman Clara yang terakhir cukup bersuara sehingga Sella yang sedang menjelaskan beberapa hal jadi menoleh ke arahnya. "Anda berbicara dengan saya, Nona?"


*Ah, tidak, tidak. Lanjutkan saja." Clara langsung menjawab dengan spontan.


"Baik, nona. Tapi nampaknya setelah ini kita ada meeting lagi di salah satu cafe." Sella mencoba mengingatkan atasannya itu dengan jadwal mereka hari ini.


"Iya, nona. Mereka meminta agar meeting diluar saja."

__ADS_1


"Siapa sih mereka sampai seenaknya meminta diluar kantor. Bikin susah saja."


"Nona, apa anda lupa dengan janji ini?"


"Maksudmu?"


"Ini pertemuan dengan tamu penting, nona. Dia adalah tuan Donny, CEO dari perusahaan internasional. Mereka termasuk ke dalam jajaran 5 perusahaan terbesar di dunia." Jelas Sella panjang lebar karena heran bisa-bisanya bosnya lupa dengan pertemuan sepenting ini.


"Hah?! Tuan Donny?! Kenapa kamu tak bilang? Ayo kita langsung ke sana saja. Pertemuan ini sangat penting, Sel. Bahkan lebih penting dari konser K-pop kesukaan mu." Clara langsung beranjak dari tempat duduknya melangkah menuju tempat tujuan mereka.


"Ye, kalo gak di ingetin juga lupa itu." Batin Sella.

__ADS_1


"Oi, ngapain?? Ayo, berangkat." Panggil Clara yang sudah berjarak agak jauh dari Sella. Meski masih sedikit kesal dengan Clara, Sella tetap mengikuti langkah atasannya itu. Dia pun paham betul betapa berharganya dapat bertemu dengan Donny itu.


Mereka pun langsung berangkat menuju cafe tempat mereka akan bertemu dengan klien penting mereka itu.


__ADS_2