
Jedar, perasaan Clara seperti di sambar petir kali ini. Baru kali ini dia tidak suka dengan kata "positif." Semua pikirannya tumpah tak beraturan ke segala arah. Di balik rasa syoknya, sebuah tangan lembut membelai pipinya.
"Clara?! Clara, kamu kenapa, sayang." Nesya yakin apa yang dibicarakan oleh suaminya tadi adalah berita yang baik. Tapi kenapa anaknya malah terlihat tertekan akan hal itu?
"Clara, ayah gak mau tahu. Bawa pria itu kehadapan ayah! Dan ini," Biantara menunjukkan sebuah map coklat di hadapan Clara dan Nesya. "Kamu paham apa isi ini, bukan? Semuanya sudah selesai."
"Tunggu dulu. Ada apa dengan kalian berdua?! Pertama pria. Kedua selesai. Apa maksudnya ini?" Jujur Nesya sangat binggung dengan kondisi saat ini. Dia tahu anaknya itu mandul. Tapi bukannya hal bagus kalau secara ajaib Clara bisa hamil. Namun, kenapa malah tidak ada yang bahagia akan hal itu?
"Clara, ayah tunggu penjelasan kamu. Sekarang jelaskan dulu semuanya pada ibumu!" Tegas Biantara dengan raut wajah merah padam. Sebelum keluar kamar, Biantara menghampiri istrinya. "Maaf, sayang. Aku keluar dulu. Alangkah lebih baik kalau kamu dengar semuanya langsung dari Clara daripada aku. Kalau aku terus di sini, aku malah akan mengamuk tak jelas. Maaf ya, sayang."
Sebuah kecupan hangat di kening Nesya Biantara sempatkan dan setelahnya ia langsung pergi keluar dari kamar itu. Kini tinggal Nesya dan Clara di sana. Nampak Clara masih termenung sendiri.
"Anak mama, boleh liat mama sebentar?" Ucap Nesya sambil menyentuh pelan tangan Clara untuk menyadarkannya dari lamunan. Kedua manik mata mereka akhirnya bertemu. Nesya tahu apa yang terjadi pada anaknya. Clara nampak sedang syok atas ucapan suaminya tadi.
__ADS_1
Nesya memindahkan tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Clara hingga tidak ada jarak sama sekali di antara keduanya. Dengan sangat pelan, Nesya membawa Clara dalam dekapannya. Sesekali ia mengecup pucuk kepala Clara.
"Boleh mama minta kejujuran kamu, sayang?" Tanya Nesya sangat halus sampai Clara tidak bisa berpikir untuk menolaknya. Akhirnya Clara mulai menceritakan semua tentang bahtera rumah tangganya yang kini di ujung tombak. Mulai dari prilaku Adelard setelah tahu ia mandul pada malam pertama. Sampai datangnya wanita bernama "Sisca" dalam rumah tangga mereka.
Ketika Clara sudah sampai di ujung cerita, sebuah tetesan air jatuh mengenai hidungnya. Sontak Clara mendongkakkan kepalanya melihat mamanya.
"Mama menangis?" Clara tak sadar kalau ceritanya saja cukup membuat mamanya bersedih seperti itu.
"Ehm,,,, boleh mama minta pelukan?" Nesya tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Setiap untaian kata cerita yang disampaikan Clara barusan membuat hatinya seperti disayat setiap detiknya. Perih dan sakit yang ia rasakan.
"Ma, maafin mama, Clara. Mama gak tahu kalau kamu ngalamin semuanya sendirian selama ini. Mama benar-benar minta maaf, Clara."
"Hiks, eng, enggak ma. Ini semua bukan salah, mama. Tidak ada yang patut disalahkan di sini." Setelah 3 tahun ia menjalani pernikahan yang menyakitkan ini, akhirnya momen ini datang juga. Momen di mana ia bisa berterus terang pada mamanya tentang pernikahannya. Walaupun momen ini hadir dengan cara yang cukup aneh baginya.
__ADS_1
Nesya melepaskan pelukannya dan beralih menatap putrinya itu. Dia menghapus air mata yang ada di wajah putrinya dengan lembut. Sebuah senyuman indah menghiasi wajahnya kali ini.
"Tapi di balik semua bahtera rumah tangga kamu, mama bersyukur kalau ternyata keajaiban tuhan benar-benar ada." Ungkap Nesya seraya mengelus perut Clara.
"Mama gak marah?" Dengan sedikit ketakutan Clara bertanya pada mamanya.
"Hahahaha,,, marah?" Clara langsung terheran-heran melihat mamanya malah tertawa sebagai jawaban dari pertanyaannya barusan. "Tentu saja mama marah, Clara."
Rasa tenang yang baru sedetik muncul langsung sirna begitu saja setelah mendengar pertanyaan lengkap mamanya.
"Aih, mama! Kirain mama gak marah." Batin Clara sedikit kesal.
"Tapi dari lubuk hati yang paling dalam, mama bersyukur kamu bisa hamil, Clara." Sambung Nesya tanpa ada kebohongan dalam setiap kata yang lontarkan barusan. Dan sebuah smirk licik terukir di wajah Nesya kali ini. "Jadi, apa ayah anak kamu tampan?"
__ADS_1
"Hah?!" Sontak wajah Clara memerah lantaran tiba-tiba saja ia ingat dengan malam panasnya dengan Bira. Jika mamanya bertanya apakah pria itu tampan, tentu jawaban yang akan clara berikan adalah pria itu sangat-sangat hot.