Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
9. Siapa Dia


__ADS_3

Pritt......prittt......


peluit wasit menghentikan jalannya pertandingan. Nampak seorang pemuda tengah kesakitan memegangi pergelangan kakinya.


"Hei, kalau takut kalah, gak usah main kasar dong!" bentak Anggi kepada salah seorang pria dengan mendorong bahunya.


"Apa lu! ngajak ribut?" Balas pria itu melangkah maju memotong jarak antara dirinya dan Anggi.


"lu duluan yang mulai anj*ng!" kini Anggi sudah tidak bisa menahan emosinya, dia mengepalkan tangannya dan melayangkan pukulan ke wajah pria itu.


"Stop!! cukup, Nggi." teriak seseorang menengahi mereka berdua dan dibantu yang orang lain yang ada di sana. Untung saja mereka berdua di pisahkan tepat waktu. Jika tidak, pertandingan futsal akan berganti menjadi tawuran.


"Lepasin gue. Biar gue sumpel tuh mulut ampe bonyok," ucap Anggi dengan sangat emosi melihat pria yang berada di ujung sana.


"Woi, sabar, Anggi. Gak biasanya lu kayak gini," kata salah satu temannya yang mencoba menahannya agar tidak menerjang tim lawan.


"Anggi, kamu tenang, oke." kali ini pria yang tadi berteriak mencoba menenangkannya.

__ADS_1


"Tapi, mas Bira. Orang itu udah celakain Bian. Gimana aku gak kesel," ungkap Anggi masih tak menerima keadaan.


"Aku tahu, tapi bukan gini cara nyelesein masalah, dan yang ada malah nambah masalah. Lagi pula Bian udah di tanganin sama Cia." jelas Bira sambil menunjuk ke arah luar lapangan. Anggi melirik ke arah yang ditunjuk oleh Bira. Dia melihat Bian yang sedang dipapah oleh Cia dan satu orang anggota timnya. Dia akhirnya sadar bahwa dia telah dibutakan oleh emosinya yang seharusnya menolong sahabatnya terlebih dahulu.


Merasa bersalah, Anggi mengatur nafasnya dan mencoba untuk lebih tenang. Dia melihat sekelilingnya. Anggota timnya mengangguki ucapan Bira. Kini dia semakin merasa bersalah. Dia tahu mereka semua kesal dengan kejadian tersebut. Namun bukan berarti harus diselesaikan dengan kekerasan. "Maaf, mas, teman-teman. Aku ke bawa emosi."


"enggak masalah, Nggi. Aku juga awalnya emosi ngeliat kejadian tadi. Untungnya ada mas Bira di sebelahku. Mas Bira menyuruhku menolong Bian daripada tersulut emosi," ungkap anggota timnya seraya menghampirinya setelah memindahkan Bian.


"Gimana, Bian?" tanya Anggi, kini dia sudah tenang.


"mendingan, dia sudah diurus sama Verly dan Cia yang lain juga lagi ambil obat biar lecetnya gak parah," jelas pria tadi. Semua yang mendengar mengangguk lega.


"iya, mas. Maaf." Balas Anggi merasa nersalah.


"sudahlah, yang berlalu biarkan berlalu. Tapi ingat, jangan sampai diulangi lagi. Bukan hanya untuk Anggi, tapi untuk kita semua. Kita enggak perlu melakukan hal yang sia-sia, cukup buktikan dengan skill dan kemenangan. Mereka akan terus seperti itu, jadi cukup buktikan kekuatan kita. Dan kalau pun harus berkelahi, jangan kita yang memulai. Cukup berkelahi untuk membela diri. Paham?" Ungkap Bira panjang lebar menyemangati tim.


Semua yang mendengar penjelasan Bira mengangguk setuju. Mereka memang kesal dengan lawan, tapi cukup buktikan dengan kemampuan, bukan omongan atau bahkan pukulan. Karena yang mereka tandingkan adalah futsal, bukan boxing atau tinju. Cukup bungkam dengan gol fantastis dan kemenagan.

__ADS_1


Setelah berunding dan meneriaki yel-yel mereka, pertandingan pun dilanjutkan.


"kalian semua siap?" tanya Bira pada seluruh timnya.


"ya!!!!!" Teriak satu timnya dengan semangat, bahkan pemain pengganti yang berada di luar lapangan ikut berteriak. Sontak hal itu membuat kaget semua orang. Tak terkecuali Verly dan Cia. Kedua wanita itu sangat kaget, lantaran Bian tiba-tiba teriak mengikuti yang lainnya.


"Woi, yang sakit kaki lu apa otak lu sih?" Cibir Cia begitu kaget karena dia sedang di samping Bian yang sedang diobati oleh Verly.


"hahahaha, santai, Cia. Itu emang kebiasaan mereka," Jelas Verly, melanjutkan kegiatan mengobati Bian dengan mengoleskan obat merah pada bagian lutut yang lecet.


"Hehehe, itu slogan namanya, Cia. Aduh, pelan-pelan dong, sayang." Tambah Bian yang mencoba menahan efek dari obat merah pada lukanya. Verly hanya menggelengkan kepalanya mendengar keluhan pacarnya. Dan terakhir, dia meniup pelan lutut Bian seolah memiliki kekuatan magis untuk penyembuhan. Namun berbeda dari sudut pandangan Cia.


"Ver, yang ada lukanya nambah parah kalo ditiup. Udara yang lu tiup banyak kumannya loh," ucapnya sok tahu.


"Ye, bilang aja iri, dasar jomblo." Potong Bian sebelum sempat Verly menjawab.


"Lah, kenapa gue harus iri? gila aja gue iri ama orang pacaran. Mending jomblo, bebas." Balas Cia mengangkat kedua tangannya seolah terbang bebas seperti burung.

__ADS_1


"hahaha,,, sumpah lu mirip banget kayak dia?" Ucap Bian tak percaya dengan yang didengarnya, bahkan dia hampir terjatuh dari tempat duduk saking kagetnya mendengar ucapan Cia. Untungnya Verly sigap dan mencegah Bian agar tidak terjatuh.


Sementara itu, Cia binggung kenapa Bian menganggap jawabannya lucu. Terlebih, dia tidak mengerti maksud kata dia yang dibicarakan oleh Bian. "apanya yang lucu? Memangnya, siapa dia?"


__ADS_2