Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
85. Masuk ke Kandang Singa (Bag. Bira)


__ADS_3

"Nah ini dia mas Bira, tempatnya. Besar banget dan bagus kan?" Joko menunjukkan wajahnya yang begitu terpukau melihat pemandangan di depannya.


Tak peduli sudah berapa lama ia bekerja di sana, tetap saja melihat mansion utama adalah hal yang bisa dibilang mencuci mata.


"Ya, kau benar. Oh, terima kasih sudah mengantar sampai sini." Balas Bira memberikan helm milik Joko.


"Ya sama-sama, tuan Bira. Tak masalah bagi saya."


"Bira saja, tak usah pakai tambahan tuan."


"Waduh mana boleh begitu, kan anda adalah tamu tuan Biantara saya yakin anda pasti orang penting."


"Hahaha, tidak. Aku tak punya peran sepenting itu di sini. Cukup panggil Bira saja."


Joko yang mendengar itu terdiam sejenak.


"Baiklah kalau anda ingin seperti itu. Oh iya sebelum saya pamit, mungkin anda bisa menyimpan nomor saya. Siapa tahu anda ingin pulang, saya bisa mengantar anda ke gerbang depan." Ungkap Joko dengan maksud yang baik.

__ADS_1


Bira mengangguk setuju. Setelah saling menyimpan nomor, Joko langsung meninggalkan joko untuk kembali ke gerbang depan.


Dan tepat saat bayangan Joko sepenuhnya menghilang, pintu besar yang menjadi jalan masuk utama ke mansion itu terbuka.


"Kukira kau takkan berani kemari anak muda." Ucap seorang pria paruh baya dari dalam mansion.


Sambutan hangat dari pemilik mansion ini membuat Bira tersenyum kecut.


"Yah, aku bukan seorang pengecut yang suka menyekap orang tanpa tahu akar permasalahannya." Balas Bira dengan lantang.


Bira tak merasa takut sama sekali ketika membalas ucapan pria itu, meskipun balasan Bira berisi sindiran untuk orang di depannya. Dirinya juga tak peduli dengan beberapa pengawal yang berderet menjaga pria itu.


"Padahal kau sedang berada di kandang singa, tapi kau malah berlagak sebagai predator. Tapi dengan begitu ku pikir kau sudah siap dengan semuanya, jadi mari ikut aku. Kita bicarakan masalah kita secara empat mata." Pria yang tak lain adalah Biantara itu langsung berbalik badan dan menuntun Bira untuk ikut ke ruangannya.


Bira langsung mengikuti Biantara disambung dengan beberapa pengawal Biantara di belakangnya.


Mereka berjalan melewati beberapa ruangan dan naik ke lantai yang paling atas. Sepanjang perjalanannya, Bira tak menemukan seorang pun di sana. Baik itu pelayan atau penghuni rumah. Hanya ada langkah kaki mereka saja yang terdengar. Bira tak ambil pusing akan hal itu karena dirinya yakin Biantara sudah merencanakan hal ini.

__ADS_1


Akhirnya mereka sampai di satu ruangan yang nampak akan menjadi tempat untuk Bira dan Biantara berbincang.


"Aku akan berbicara dengannya, pastikan jangan ada yang masuk, mengerti?" Biantara menginstruksikan arahan kepada para bawahannya.


"Baik, tuan." Semua pengawalnya menjawab dengan kompak.


Barulah setelah itu Bira dan Biantara masuk ke dalam ruang kerja milik Biantara itu sendiri. Setelah menutup pintu, Bintara mempersilahkan Bira untuk duduk di salah satu sofa.


"Jadi, mari kita mulai pokok permasalahan pertama." Biantara mengawali perbincangan mereka.


Sontak Bira mengernyitkan dahinya.


"Pokok permasalahan? Mohon tuan, aku kemari bukan untuk membahas masalah apapun." Bira merasa dibohongi jika Biantara enggan untuk meminta maaf padanya.


Sejujurnya Bira hanya pria itu minta maaf padanya tentang penyekapan itu dan masalah akan Bira anggap selesai. Setelahnya dia akan dengan senang hati menerima konsekuensi apapun atas perbuatannya pada Clara. Tapi, melihat wajah Biantara saat ini dia yakin hal itu tak akan terjadi.


"Ayolah, kau minta aku minta maaf padamu? Jangan bercanda anak muda." Biantara menghentikan ucapannya sejenak, lalu beradu tatapan dengan Bira.

__ADS_1


"Sadari posisimu!" Imbuh Biantara dengan nada yang penuh emosi.


__ADS_2