
"Jadi kamu tidak mau membawa pria itu kemari?" Biantara kembali menanyakan hal yang sama entah untuk ke sekian kalinya pada Clara.
"Ya, aku tak mau." Jawab Clara dengan tegas sambil berlindung di belakang mamanya.
"Dasar anak nakal! Kenapa kau sulit sekali untuk diatur, hah?" Biantara nampak frustasi dengan anaknya itu. Bukannya dia kesal dengan Clara, hanya saja dia ingin memukul rahang pria yang telah menodai anaknya itu.
"Sayang,,,," Panggil Nesya yang langsung membuat bulu kuduk Biantara merinding.
"Aih, iya, iya. Aku gak bakalan memaksa. Cuman apa kamu juga gak penasaran sama pria itu? Yah setidaknya biarkan aku memberikan satu buah pukulan untuknya."
"Mas Bian,,,," Masih dengan nada yang sama hanya berbeda panggilan. "Ngomong gitu lagi, jangan harap dapet jatah ya."
"HEI,,,, curang banget mainnya pengurangan jatah."
"Lagian anaknya lagi kena musibah malah bikin musibah yang lain."
__ADS_1
"Gak kok. Aku enggak,,,"
"Hush udah, udah. Gak selesai-selesai ntar." Potong Nesya sambil berbalik arah dan menatap ke arah Clara. "Clara, mama sama papa pulang dulu ya."
"Loh kok pulang, ma?" Tanya Clara karena ia masih ingin memeluk mamanya.
"Iya, sayang. Betul Clara. Kok,,," Biantar baru ingin menuntaskan protesnya, Nesya langsung memberikan tatapan tajam padanya. Dan dengan sigap Biantara menahan mulutnya dengan tangan agar tak mengeluarkan suara.
"Clara, cepat sehat. Ayah pulang duluan." Sambung Biantara yang langsung meninggalkan ruangan itu dengan cepat. Ia tahu apa maksud tatapan barusan. Bukan sebuah permainan yang ia sukai bila ia melanggarnya.
"Hahahaha,,, Ayah masih aja lucu, ma. Takut kalo udah sama mama. Apalagi kalo sudah ada sangkut pautnya sama jatah. Auto nurut tuh ayah. hahahaha,,," Clara memegangi perutnya saking lucunya melihat ayahnya takut hanya karena tatapan mama.
"Maksud mama apa?" Heran Clara sambil menoleh ke arah mamanya.
"Hhhm,,, lupakan saja. Ya sudah mama pulang dulu."
__ADS_1
"Mama gak mau nginep aja?" Nesya mengelus rambut Clara.
"Gak usah. Kamu itu masih butuh istirahat. Kasihan bayi kamu kalo ibunya kurang rehat. Jadi mendingan mama pulang dulu biar kamu nyenyak rehatnya. Lagipula palingan kamu sudah boleh pulang dalam 2 hari ke depan."
"Yaudah deh kalo mama bilang gitu." Balas Clara dengan memasang raut wajah cemberutnya.
"eleh, eleh, kenapa kok malah cemberut gitu mukanya? Kamu tenang aja, mama nanti ke sini lagi kok. Sekalian bawain kamu baju ganti."
"Serius ya? Mama bakal ke sini lagi."
"Gak usah serius-serius, atuh." Nesya mencubit pelan ujung hidung Clara. Gemas rasanya melihat anaknya yang sudah dewasa mendadak bertingkah layaknya bocah SD.
"Udah ya. Mama pamit dulu. Kamu istirahat, jangan mikir yang lain dulu," Pamit Nesya seraya memberikan kecupan di dahi Clara.
"Iya, ma. Hati-hati di jalan." Clara menyalami tangan mamanya dan barulah Nesya keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Setelahnya kamar itu menjadi benar-benar sepi. Hanya ada dirinya di kamar itu. Clara memang meng-iyakan ucapan mamanya untuk dia langsung istirahat. Tapi pikiran-pikiran yang tak ia inginkan malah datang menghampiri tatkala ia hendak menutup matanya.
"Aih, kenapa bisa hamil? bukannya kata dokter aku itu mandul? Kenapa bisa-bisanya aku hamil setelah pertama kali melakukannya? Bahkan aku melakukannya dengan orang asing. Tapi kalau pria itu tahu aku hamil, seperti apa reaksinya, ya? Heh, kenapa aku malah berharap dia senang mendengarnya? Bukannya aku sendiri yang menyuruhnya untuk menjauh dari hidupku? Hais,, memikirkan ini semua membuatku pusing." Gumam Clara pada langit-langit kamar tempat ia di rawat.