
"Hoam, akhirnya sampai juga." ucap Bira setelah keluar dari sebuah mobil limousine mewah. Dia mengetuk jendela supir dari luar. "Hei, bilang pada Donny tidak perlu memperlakukanku semewah ini. Aku risih dibuatnya,"
"hem, baik, Tuan. Jika itu kemauan tuan, akan saya sampaikan pada tuan Donny." Balas si supir yang sedikit heran karena perkataan Bira.
"Yah, sudahlah aku mau masuk. Oh, iya, kamu pergilah. Aku bisa pulang sendiri," titah Bira menghiraukan jawaban dari si supir, sedangkan supir hanya bisa pergi dengan keadaan binggung.
"Aneh-aneh ya orang kaya. Punya uang banyak tapi risih sama benda mewah. Trus, kenapa bikin uang banyak kalo gak mau?" Batin si supir setelah meninggalkan area pesta itu. Sementara itu, Bira melanjutkan langkahnya ke pesta yang sedang diselenggarakan di sebuah hotel ternama di pusat kota.
Sebelum masuk dia disambut oleh dua orang wanita berpakaian sexy di depan pintu masuk. Mereka berdua melirik penampilan Bira dari bawah hingga atas, menilai Bira. "Maaf, tuan. Bisa tunjukkan undangan anda?"
"Heh, pakai undangan?" tanya Bira ketika ditahan oleh kedua wanita di depannya ketika hendak masuk. Lantas Bira menunjuk orang-orang yang masuk begitu saja tanpa harus menunjukkan undangan apapun.
__ADS_1
"Tentu saja, tuan." Jawab salah satunya menghiraukan gerak-gerik Bira yang menunjuk orang lain. Bira binggung harus berbuat apa. Tentu saja dia tidak memiliki undangan, karena sebelum datang kemari dia tidak bertemu dengan sekretarisnya. Jadi boro-boro punya undangan, pakaian yang dia kenakan pun hanya kemeja putih sederhana dan celana hitam biasa.
"Maaf, tuan. Tempat ini telah disewa malam ini. Jadi hanya orang tertentu yang bisa masuk. Kami mohon maaf, Tuan." Usir wanita itu dengan halus.
"Waduh, gimana ini? Habis pertandingan tadi aku langsung ke kosan bukannya pergi ke Jay." Keluh Bira dalam hati. Namun tiba-tiba, datang seseorang pria di antara Bira dan kedua wanita itu.
"Kalian berdua, masuk saja. Di dalam sedang sibuk, Biarkan security yang menjaga di sini," ujar pria itu menghentikan percakapan Bira dan kedua wanita. Awalnya pria itu menghiraukan Bira. Tapi melihat kedua anak buahnya memberikan kode terhadap Bira, pria itu pun mulai melirik Bira. "Maaf, mas. Ada yang bisa kami bantu?"
"Maaf, mas. Hotel kami sedang tidak bisa digunakan untuk sekarang. Kami sedang mengadakan pesta besar dengan orang-orang penting. Mungkin besok atau lusa hotel kami bisa di buka untuk umum," jelas pria itu memberikan pengertian kepada Bira.
"Oh, begitu. Tapi saya ke sini bukan mau menginap tetapi mau mengikuti pesta," ucap Bira dengan polosnya. Jelas pria dan kedua wanita itu terkejut. Mereka terkejut bukan karena wajah Bira seperti *******, Bukan. Hanya saja, pesta ini diperuntukkan untuk orang penting saja. Jadi bagi mereka yang tidak pernah melihat wajah Bira akan menganggap bahwa Bira bukan siapa-siapa.
__ADS_1
"Heem, kalau begitu, boleh saya lihat undangan anda?" tanya pria itu menyelidik. Bira pun binggung harus menjawab apa.
"Hhm, itu, undangannya. Aku tidak memilikinya." Jawab Bira dengan jujur karena dia memang benar-benar tidak memilikinya.
"Heh, kalau begitu anda tidak bisa masuk, Tuan." Sambung Pria itu tidak memperbolehkan Bira masuk.
"Ayolah, Aku hanya menikmati pestanya." Rengek Bira karena terus tertahan di depan sana selama beberapa menit. Namun ketiga orang itu membalas dengan gelengan, tanda tidak memperbolehkan Bira masuk.
"Pria aneh, sudah ku jelaskan bahwa ini acara penting. Tapi kenapa kamu ngotot untuk masuk. Jika kamu memang undangan, kamu bisa masuk. Tapi lihatlah dirimu? pakaian saja sederhana, mana mungkin punya undangan." Batin pria itu menilai Bira. Dia menoleh kepada kedua wanita di belakangnya, memberi mereka instruksi untuk mengusir Bira.
"Biarkan dia masuk!" Cegah seorang pria yang tiba-tiba muncul sebelum kedua wanita itu sempat bertindak. "Dia itu, tamuku."
__ADS_1