
Posisi Bira yang berada di bawah membuat bira harus sedikit mengangkat kepalanya sedikit ke atas. Dari posisi itu Bira dapat melihat paras cantik Clara malam itu dengan sangat dekat. Api gairah yang awalnya hanya kesal pada Icad, kini berubah menjadi sesuatu yang lain.
Sepenglihatan Bira mengatakan wanita ini adalah malaikat. Kulitnya putih bersih dan wajahnya sungguh rupawan. Berkali-kali Bira dibuat takjub tatkala memandangnya.
"Kau yakin ingin kutolong?" Tanya Bira selagi kewarasan masih ada di otaknya.
Clara sendiri nampak tak bisa fokus. Ia merasa sangat panas dan bahkan giginya menggigit bibir bagian bawahnya untuk menahan gejolak yang sudah tak tahan untuk ia keluarkan apalagi kini posisinya sangat membantu gairahnya untuk naik.
"Ya, tolong aku, hmph,," Ucapan Clara terpotong oleh Bira yang langsung menerkam bibir ranum Clara.
Dengan sangat halus dan perlahan Bira mel*mat bibir Clara. Meski tujuannya hanya untuk menolong Clara, tubuhnya Bira tak bisa berbohong. Ia sudah sangat lama menantikan hal ini. Kembali mencium wanita yang telah ia nodai tiga bulan lalu.
Ciuman itu nampaknya semakin memanas. Clara tak menolak ciuman dadakan dari Bira. Ia lebih terlihat seperti menikmatinya. Kedua tangan Clara bahkan sudah melingkar di leher Bira. Dan semakin lama ciuman berganti menjadi saling mengecap. Bira tahu kalau Clara tak pandai dalam hal ini. Tapi hal itu pula yang membuat gairah Bira semakin naik.
Tak mau terus terbuai dalam ciuman serta kecapan panas, Bira menggigit pelan bibir Clara.
__ADS_1
"Aw," Clara langsung menjauhkan sedikit wajahnya.
"Maaf, aku takut tak bisa mengontrol diri jika kita terus berciuman." Jujur Bira pada Clara. Tatapan mata bira terus melihat ke arah Clara. Matanya seperti tersihir agar tak mengalihkan pandangannya.
"Humph, kalau begitu lebih baik kau panggilkan pria tadi." Cebik Clara karena kesal. Bagaimana bisa Bira menghentikan kegiatan yang baru saja ia nikmati.
"Untuk apa?"
Clara semakin kesal mendengar.
"Untuk memuaskan ku lah!" Emosi Clara semakin menjadi-jadi.
"Kita samp," Ucapan Jay tertahan lantaran melihat Clara tiba-tiba keluar begitu saja dari mobil. "Tuan?"
"Kau kembalilah besok pagi. Urusan ini biar aku sendiri yang atasi." Bira langsung menyusul Clara dari belakang.
__ADS_1
Dengan cepat Bira mengangkat tubuh Clara ala bridal style ke dalam gedung apartemen.
"Turunkan aku!" Teriak Clara dengan tubuh memberontak. Ia bahkan memukul-mukul pelan dada bidang Bira.
Bira sendiri tetap kekeh tak mengubris Clara. Dengan langkah dipercepat, ia membawa Clara ke dalam apartemen. Untungnya tak banyak orang berlalu lalang ketika Bira menggendong Clara, jadi mereka tak terlalu menjadi pusat perhatian.
Dengan susah payah Bira membuka pintu apartemen karena Clara nampak masih kesal dengannya. Setelah pintu apartemen terbuka, Bira langsung masuk dan mengunci pintu rapat-rapat.
"Cih, dasar pemaksa!" Cebik Clara ketika sudah terlepas dari gendongan Bira.
Namun, perasaan kesal itu langsung sirna menjadi rasa kaget ketika Bira dengan sangat cepat menghimpit tubuhnya di atas sofa.
Bira kembali mencium bibir Clara seperti sebelumnya dalam mobil. Namun, keadaan berbeda karena ciuman Bira lebih seperti menuntut dan Clara seperti menolak. Dan karena kalah tenaga, Clara hanya bisa pasrah membiarkan Bira mencium dan menjelajahi mulutnya.
"Hhhmph,," Lenguh Clara meski perasaan kesal masih menyelimutinya. Clara memang kesal dengan Bira, tapi efek obat masih terasa dengan jelas.
__ADS_1
Melihat Clara sudah nampak lebih tenang dan mulai membalas ciumanannya, Bira malah menjauhkan wajahnya.
"Maaf jika ucapanku barusan membuatmu kesal. Aku hanya tak mau merusakmu untuk kedua kalinya." Bira menjeda ucapannya dengan menatap Clara dalam-dalam, tanda bahwa ucapannya itu memang sebuah kebenaran. "Tapi jika kau meminta untuk memuaskanmu atau seseorang yang bisa menjadi pelampiasanmu, itu cukup aku seorang. Aku tak butuh bantuan orang lain."