
Pagi hari yang masih berembun, matahari belum nampak dan masih berselimut di bawah awan, Zack bersemangat menuruni tangga besar yang terbuat dari marmer kwalitas nomor 1 sembari memutar-mutar kunci mobilnya di jari telunjuknya.
"Mau kemana Zack..." Tanya Zafran yang sedang berdiri meminum teh hangatnya.
"Berkuda ayah."
"Dengan pamanmu?"
"Mm...Iya."
"Baiklah hati-hati, jangan terlalu lelah sebentar lagi kau harus pergi karya wisata kan?"
"Tenang saja ayah, aku memiliki tubuh yang sehat dan kuat seperti ayah."
Zafran hanya tersenyum menyeringaikan bibirnya kemudian menepuk bahu anaknya dan naik menuju ke kamar dimana istrinya masih terlelap.
Zack memutar kemudi dan memundurkan mobil, kemudian ia menekan gas melajukan mobilnya melewati jalan aspal yang masih berembun di bawah pepohonan yang rindang, di pinggir-pinggir jalan beraspal mansion memang di tumbuhi pepohonan yang rindang.
Tak butuh waktu lama jika Zack mengendarai mobilnya dengan kencang, dan kini Zack sudah duduk diam di dalam mobilnya yang terparkir tepat di pinggir jalan dan di dekat gerbang panti asuhan.
Zack datang lebih awal dan lebih pagi, sembari Zack menunggu sesekali ia membuka ponselnya yang sedikit berisik, karena selalu saja bergetar.
Zack melihat forum grup chat sedang ramai dan masih membicarakan tentang si gadis misterius. Merasa jengah dan kesal, Zack memilih meninggalkan forum dan keluar dari grup tersebut.
Tak berapa lama pun ponselnya bergetar terus menerus, karena beberapa siswa menghubunginya, beberapa yang lain juga mengirim pesan pada Zack menanyakan kenapa Zack keluar dari forum grup chat.
Zack memilih mendiamkannya dan menyimpan ponselnya, tak berapa lama Zack melihat Isabella keluar dari gerbang dengan menguncir rambutnya.
Zack mengembangkan senyumannya dan keluar menghampiri gadis itu.
"Kau siap?" Tanya Zack.
"Ya...!" Sahut Isabella bersemangat sembari menarik nafasnya karena merasa gugup.
Mobil sport ferrari melaju menerjang jalanan dimana saat itu adalah hari minggu dan hari libur sejuta umat manusia, banyak sekali lautan manusia sedang berjogging. Beberapa wanita dan gadis belia melihat takjub pada mobil yang melewati mereka.
Beberapa yang lainnya juga sedikit menggoda agar si pemilik mobil mau berhenti untuk menyapa mereka.
Setelah mobil sampai di tempat pacuan kuda pribadi, Zack mengajak Isabella untuk masuk dan mengganti baju.
"Kau ganti baju dulu ada di ruang ganti, pilih yang sesuai ukuranmu, tenang saja semua pakaian itu masih baru."
"Baiklah..." Kata Isabella singkat.
Setelah mereka mengganti pakaian menggunakan horse riding clothes. Zack mengajak Isabella untuk ke kandang kuda terlebih dulu. Kandang kuda itu bukan sembarang kandang, kandang mewah yang terawat dan membuat Isabella cukup terpesona.
"Kau harus berkenalan dulu..." Kata Zack.
"Berkenalan? Seperti berjabat tangan atau mencium?" Tanya Isabella.
"Ya... Sapalah dengan caramu sendiri, kuda ini bernama Gypsy." Kata Zack tersenyum dan masih memegangi tali yang ada di dekat kepala Gypsy sembari membelai pelan kepala kuda tersebut.
"Hai Gypsy... Aku Isabella senang berkenalan denganmu semoga kita bisa berteman ya..." Sapa Isabella pada Gypsy.
Zack tertawa melihat Isabella memperkenalkan diri.
"Kau mengerjai ku ya..." Kata Isabella.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mengerjai mu..."
"Iya, kau mengerjaiku..."
Gypsy kemudian menyepak-nyepakkan salah satu kaki depannya pelan.
"Lihat, itu tandanya Gypsy menyukaimu..."
"Benarkah?" Kata Isabella tak percaya.
"Iya..."
"Aku juga menyukaimu Gypsy..." Kata Isabella sembari mencium kepala Gypsy.
Zack tersenyum.
"Kau pernah naik kuda sebelumnya?" Tanya Zack.
"Hanya sekali, saat panti asuhan ada kunjungan dari yayasan dan pemerintah, saat itu aku masih berumur 5 tahun dan menjadi icon untuk menyambut mereka, tapi ku rasa itu bukan kuda, tapi bayi kuda." Kata Isabella polos.
Zack tertawa mendengar penuturan polos Isabella.
"Mungkin itu kuda poni." Jawab Zack.
"Ya, entah apapun itu." Isabella membalas dengan senyuman dengan malu.
"Baiklah ayo kita mulai. Letakkan kaki kirimu di pijakan, ambil kendali dengan tangan kiri dan gunakan kaki satunya untuk mengangkat tubuhmu naik."
"Baiklah akan ku coba."
Isabella pun mempraktikkannya dan kemudian ia bisa menaiki Gypsy.
"Untuk pemula dan baru pertama kali, kau cukup lumayan." Puji Zack tersenyum.
"Turun perlahan jangan lupa berpegangan." Kata Zack.
"Bagaimana?" Tanya Isabella sedikit panik.
"Seperti tadi gunakan kaki kirimu untuk pijakan, seperti kau naik tadi..."
Isabella panik dan justru terjatuh, namun sebelum jatuh Zack sudah menangkap Isabella terlebih dulu, membuat Isabella menimpa tubuh Zack yang juga terjatuh.
"Owwh...!!" Lenguh Zack.
"Ma... Maafkan aku..." Kata Isabella masih berada di atas dada Zack.
"Aku tidak pernah melihat aksi turun dari kuda yang kacau seperti itu..." Kata Zack tertawa.
Isabella pun juga tertawa.
Mereka kemudian saling berdiri lagi dan kemudian Isabella belajar menaiki kuda kembali.
"Kau harus belajar naik dan turun dulu hingga kau mahir." Kata Zack.
Setelah di rasa Isabella sudah mahir menaiki dan menuruni kuda, Zack kemudian pergi mengambil kuda 1 lagi dan menaikinya.
"Yang ini bernama Jimbo, dia kuda jantan. Tapi kuda betina berlari lebih kencang daripada yang jantan. Kebanyakan pemenang lomba adalah kuda betina." kata Zack.
__ADS_1
"Lalu Gypsy?"
"Gypsy kuda betina."
Isabella duduk dengan tegak di atas Gypsy, membuat Zack sepersekian detik terpesona dengan Isabella, apalagi pakaian kuda yang Isabella kenakan sangat pas untuk dirinya. Isabella terlihat sangat cantik bahkan ia seperti putri bangsawan biasanya.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Zack.
"Kurasa aku sudah siap..." Kata Isabella meringis.
Zack kemudian mengajari Isabella bagaimana mengendalikan kudanya untuk berjalan pelan.
Dan pada akhirnya kuda-kuda itu saling berjalan beriringan. Zack serta Isabella kini bisa menikmati obrolan santai sembari menaiki kuda. Tanpa sadar karena mereka terlalu menikmati suasana dan kesyikan mengobrol matahari kian naik dan membuat panas terik itu semakin menyengat kulit.
"Sudah mulai siang, matahari sudah terik, apa berkuda hari ini cukup untuk membantu menulis tugas ekstra kurikuler mu?" Tanya Zack.
"Ini sangat sangat lebih dari membantu Zack, aku berterimakasih, dan aku bersyukur kau mengajariku naik kuda.." Kata Isabella.
"Sebelum pulang kita minum dan makan dulu."
Saat mereka akan memutar kuda dan mulai kembali, kuda Isabella sedikit syock dengan sentakan kaki Isabella yang terlalu keras membuat Gypsy yang berjalan pelan berubah menjadi berlari.
Isabella pun berteriak panik, sedangkan Zack berbalik mengejar Isabella dan juga Gypsy.
"Isabella!!! Tetap berpegangan!" Teriak Zack.
Jimbo pun berlari kencang mengejar Gypsy.
"Ayo Jimbo, aku tahu kau bisa... Kejar Gypsy Jimbo..." Kata Zack mengelus leher kuda nya.
Jimbo sekuat tenaga berlari untuk mendekati Gypsy.
"Aku takut Zack!!!" Teriak Isabella.
Zack kemudian bersiap untuk berpindah ke arah Gypsy, Jimbo semakin mendesak Gypsy dan kemudian Zack melompat duduk di belakang Isabella.
Zack mengambil kendali Gypsy dan membuat Gypsy berbelok namun masih berlari kencang.
"Tenang Gypsy...." Kata Zack sembari mengelus leher Gypsy sedang Isabella masih mencengkram kuat tali yang ia pegang dan masih ketakutan.
Akhirny Gypsy pun lebih tenang dan kembali mulai berjalan pelan. Sedang Isabella kini bisa benafas lega.
Setelah di rasa Gypsy mulai tenang, Zack mulai mencairkan suasana hati Isabella.
"Apa kau takut dan tidak ingin berkuda lagi?" Tanya Zack di belakang Isabella.
"Entahlah, Gypsy baik, mungkin karena aku dan dia belum saling menyatukan chemistry."
Kini ketakutan Isabella berubah menjadi kegugupan, karena hembusan nafas dari Zack yang menyentak lehernya, apalagi punggungnya benar-benar menempel pada dada Zack.
Gypsy masih berjalan pelan, karena terlalu jauh berlari mereka kini berada di hutan yang terawat, hutan yang memang di peruntukkan untuk mengumbar para kuda, mereka di bawah rimbunan dedaunan, pohon yang berjajar menghalangi sinar matahari yang sudah terik.
Tanpa sadar pun bibir Zack semakin mendekati telinga Isabella membuat Isabella meremang dan merasakan kegugupan yang luar biasa.
"Terimakasih Zack, kau tadi seperti koboy sungguhan, tapi apa aku bisa turun di sini saja?" Tanya Isabella.
"Kau mau jalan kaki sejauh itu..." Zack menunjuk kandang kuda yang memang sudah jauh.
__ADS_1
Namun di sisi lain Isabella merasa malu apakah Zack dapat mendengar detak jantungnya yang keras seperti bunyi dentuman drum yang menderu karena di gebuk berulang kali dengan cepat, seperti itu juga lah jantung Isabella sangat terasa tidak bisa tenang.
~bersambung~