
"Jangan lupa tinggalin jejak untuk Author ya, agar Author makin semangat. Like, Komen, Dan Vote kalian sangat berarti bagi Author ❤🙏 . TERIMA KASIH~
Semoga kalian semua di berikan kesehatan dan rejeki Lancar. Selalu patuhi protokol kesehatan dan pakai masker. TERIMA KASIH~
***
Waktu terus berlanjut, penemuan pertama ketika Zafran pulang dari kantor adalah lipstik, hari ke dua adalah rambut yang panjang, dan hari ke tiga adalah wangi parfum wanita, Laura hafal betul wewangian parfum milik Zafran.
Semua itu membuat Laura malas pergi untuk mengecek penginapan yang akan di renovasi, ia mengabaikan pesan-pesan yang masuk, hingga akhirnya Laura memilih mematikan ponselnya dan memilih berada di Mansion.
Seketika mood Laura down dan tentu saja sangat marah, namun ia masih harus menahannya tidak ingin seperti anak remaja yang mengobral emosi hingga meletup-letup.
Hari ini adalah hari ke empat Zafran pulang dari kantor, beberapa hari ini juga Laura memilih untuk tidak terlalu banyak bicara, sedangkan Zafran juga sibuk melakukan sesuatu tentang pekerjaannya diruang kerjanya hingga pria itu lupa waktu dan tidur lebih pagi.
Seperti biasa Laura membantu Zafran mengemas pakaiannya.
"Sayang aku mandi dulu."
Kata Zafran.
Tangan Laura gemetar ketika sesuatu ada di saku kemeja Zafran, ia tidak berani membukanya. Kakinya hampir lemas, namun ia harus mengambil nya, dan itu adalah sebuah kertas memo bertuliskan bahwa wanita itu mencintai Zafran dan meminta bertemu.
📜"Zafran aku mencintaimu dan ingin bertemu, jemput aku sekarang."
Laura meremas dengan geram, kini darah nya mendidih hingga ke puncak kepalanya, ia membuang kemeja itu dengan kasar dan berbalik mencari Zafran, dengan masih menggengam kertas memo tersebut, Laura mencarinya ke dalam kamar mandi namun suaminya tidak ada.
Laura mengecek kamar Zack, namun ruangan itu juga kosong, kemudian ia berbalik namun kaki nya saling bertubrukan membuatnya tersandung dan jatuh.
"Aakhh!!"
Pekik Laura, kemudian ia bangkit dan berlari menuruni tangga mencari suaminya dimanapun tidak terlihat batang hidungnya, mobilnya pun juga tidak terparkir di halaman. Stak juga tidak terlihat.
Jantungnya hampir lepas, dan tubuhnya seperti di gerogoti oleh ribuan pisau yang menyayatnya, kakinya mulai lemas, ia berfikir pantas saja Zafran tidak menyentuhnya beberapa hari ini.
"Pantas!!! Beberapa hari ini dia tidak tidur denganku dan memilih sok sibuk di ruang kerja hingga pagi!!!"
Kata Laura dalam hatinya penuh amarah.
Matanya mulai menggembung pertanda air matanya sebentar lagi akan mengalir, pikirannya kalut, Laura kemudian berlari menuju ruang kerja Zafran, mungkin ada sesuatu pentunjuk tentang itu semua.
Laura berjalan menelusi lorong Mansion dengan gontai.
Namun ketika kaki Laura berjalan lagi dan belok menuju ruangan Zafran, langkahnya melamban, lorong kecil menuju pintu ruang kerja di penuhi balon-balon yang sangat banyak.
Dengan cepat Laura berjalan dan membuka pintu, Laura berniat akan mengacak-acak ruang kerja Zafran, merobohkan semua rak dan akan menghamburkan semua barang yang ada di meja suaminya.
"Berani nya Zafran akan membawa wanita ****** itu ke Mansion hingga mendekornya seperti ini otak nya mulai sakit!!!"
Umpat Laura dalam hati.
Namun ketika pintu terbuka.
"TAARR!!! TARRR!!!" TARRR!!!"
Kertas warna-warni berhamburan di atas kepala Laura, sangat banyak. Laura terkejut, namun tubuhnya masih gemetar. Semua orang berteriak.
"HAPPY BIRTHDAY!!!"
Terlihat sosok Kate, serta Jully yang menggendong Zack, lalu Zafran yang berdiri dengan gagah, dan juga Stark yang memiliki wajah tanpa ekspresi masih memegangi confetti party popper ( peledak kertas pesta )
Laura menangis lemah. Tak percaya dengan apa yang ia lihat, beberapa hari ia merasa sangat kecewa dan penuh ketakutan hingga mengabaikan semua pesan dan menghentikan renovasi penginapan semata-mata karena ingin lebih memusatkan pikirannya pada apa yang sedang Zafran sembunyikan darinya.
__ADS_1
Malam-malamnya ia lalui dengan sangat lama, sikap dingin Zafran dan kesunyian hatinya, Mansion yang terasa sepi dan sangat menakutkan baginya.
Laura menangis, entah untuk perasaan bahagia atau merasa kecewa, kakinya lemas dan terduduk di lantai. Berulang kali Laura menghapus air mata yang membanjiri wajahnya, suaranya terisak. Entah ia harus bersyukur atau harus marah.
Zafran yang berdiri gagah kemudian mendekati istrinya dan berjongkok, pria itu memegangi bahu istrinya dan memeluknya. Kemudian menyangga tubuh Laura agar berdiri, dalam pelukan Zafran. Pria itu mencium bibir Laura.
"Apa mempermainkan ku sesuatu yang menyenangkan bagi kalian."
Kata Laura tertunduk, ia menggengam tangannya.
"Sayang, apa kau marah?"
Zafran tersentak.
"Apa kau sangat senang bermain seperti ini?"
Tanya Laura menatap nanar pada suaminya.
"Laura jangan salahkan Zafran, ini semua adalah ideku, Zafran mendekor semua ini sendirian, dan hampir tidak tidur beberapa hari."
Kate maju dan menjelaskan.
"Aku sangat takut, bahkan trauma dengan kenangan buruk wanita jahat itu, ku pikir semuanya akan terulang lagi."
Sahut Laura dengan cepat.
"Maaf... Ku kira kau sudah melupakannya karena kau tidak pernah membahasnya."
Kata Kate lagi menyesal.
"Aku tidak pernah membahas atau pun menyinggungnya bukan berarti aku sudah melupakannya, tubuh ku hampir mati karena lemas."
"Maafkan aku sayang."
Zafran memeluk Laura lagi.
Laura menangis dalam pelukan Zafran.
"Tapi syukurlah semua ini hanya pura-pura."
Kata Laura menghapus air matanya, dan melepaskan pelukan Zafran.
"Jangan lakukan hal seperti ini lagi."
Kate pun mendekat dan memeluk Laura, mereka saling meminta maaf satu sama lain.
"Kenapa kau dekor sendirian."
Tanya Laura pada Zafran
"Ekhem... Aku ingin menghadiahkan kejutan dari tangan-tangan dan usahaku sendiri."
Kata Zafran canggung.
"Ya..ya..h...
"Bi..Bi..."
"Bu.. Bu.."
Zack memanggil satu persatu orang yang ada di dalam ruangan itu, suara renyahnya dan menggemaskan membuat semua orang tertawa.
Sedangkan Stark yang masih memegang confetti party popper mulai meledakkan nya lagi dengan ekspresi yang datar.
Kate tertawa melihat wajah datar Stark, sebelumnya Laura merasa sedih namun akhirnya semuanya mencair menjadi satu, mereka satu sama lain saling tenggelam dengan gelak tawa dan saling menganggu dengan kue-kue yang di oleskan di muka Laura.
__ADS_1
Zafran kemudian memberikan hadiahnya pada Laura. Sebuah kotak kecil yang mewah.
"Apa ini Zafran?"
Laura tersenyum lebar.
"Bukalah kau akan senang."
Zafran juga tersenyum penuh kelegaan.
Laura kemudian membuka kotak itu, dan di dalamnya ada sebuah kunci mobil.
"Kunci mobil?"
Kata Laura bertanya pada Zafran sembari mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Sekarang kau boleh mengendarai mobil mu sendiri, aku membeli kan mu Mercedes-Benz AMG GT Coupe."
"Apa?"
Wajah Laura melongo tak percaya.
"Astaga... Zafran kau sangat boros sekali, mobil itu seharga 5 milyar."
Pekik Kate terkesima.
Laura takjub dan memekik riang, ia melompat pada tubuh besar Zafran dan memeluknya, hingga Zafran membopong istrimungilnya dalam gendongannya.
"Terima kasih sayang, terima kasih...
Laura mengecup pipi suaminya berkali-kali sembari mengalungkan tangannya di leher Zafran.
"Aku senang kau mengijinkanku, mengemudi kan mobil ku sendiri, bagi ku tidak jadi masalah mobil seperti apa, tapi aku bersyukur kau mengijin kan ku pergi dan menyetir sendiri."
Kata Laura sembari mengecup berkali-kali bibir Zafran.
Zafran tertawa melihat kebahagiaan Laura yang sepertu anak remaja. Melompat dan memeluk dirinya.
"Dengan catatan..."
"Hanya 3 jam kan.. Aku ada di luar Mansion."
Kata Laura melanjutkan.
"Tidak masalah bagiku..."
"Dan tetap ada pengawalan di belakang atau di depan mobilmu, itu keputasan mutlak."
Perintah Zafran.
"Siap tuan Zafran."
Laura mencium bibir Zafran, mereka saling menautkan lidah.
"Astaga kalian bahkan tidak malu berciuman di depan kami, dan Zack."
Ejek Kate tertawa, serta menutupi mata Zack yang seolah penasaran.
Semua orang tertawa dan bahagia, Zafran dan Laura sukses menciptakan keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang, Zack tumbuh menjadi pribadi yang ceria, tawa nya dan tingkah polah anak itu selalu lincah.
.
.
__ADS_1
.
~bersambung~