Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
-EPISODE 60-


__ADS_3

Laura akan menjalani operasi, bayi nya harus segera di lahirkan di bulan 8 dan kini Laura sudah berada di dalam ruangan dengan suhu yang sangat dingin, membuat nya selalu bergidik karena kedinginan, besi-besi teralis pun juga terasa sangat dingin.


Laura sudah mengenakan pakaian khusus pasien operasi, para dokter handal, perawat dan beberapa tenaga pembantu sudah bersiap di hadapannya. Sedangkan Zafran duduk di sebelah kepala Laura, ada sekat tinggi yang menutupi perut Laura.


"Ak sangat takut..."


"Aku tahu, aku selalu berada di sampingmu, menjaga mu dan menjaga anak kita, kalian akan baik-baik saja."


Zafran menggengam tangan Laura dan mengecup keningnya.


Di luar ruang operasi Stark berdiri dengan wajah penuh kecemasan namun sekuat mungkin ia menahannya, sedangkan Jully yang selalu merawat Laura juga duduk dengan tangan gemetar, mulutnya tak pernah berhenti untuk berdoa.


Kate yang baru sampai dari penerbangan dan membawakan beberapa kado untuk keponakannya yang ia pikir masih ada di dalam perut Laura, pun tersentak dengan kabar tersebut. Stark memberitahunya melalui telefon.


"Kenapa setiap aku pulang kau memberikan kabar yang seperti ini Stark!!!"


Kata Kate penuh dengan amarah. Sesaat sebelum Kate keluar dari bandara dan akan menuju Mansion.


"Tidak bisakah kau berikan aku kabar bahagia yang lain, yang tidak membuat jantung dan tubuh ku gemetar, dan menggigil? Laura adalah satu-satunya teman baik yang ku miliki."


Kate menahan tangisnya, memandangi langit agar air matanya tidak terjatuh, ia juga menutup mulutnya dengan sekuat mungkin.


Di dalam ruang operasi para dokter sudah mulai membius Laura, setengah tubuhnya sudah mati rasa.


Zafran terus mengecup wajah Laura dan tangan istrinya. Zafran berbisik di telinga Laura, menceritakan masa-masa remaja mereka yang penuh kenangan indah, dan akan memberikan liburan paling indah untuk istrinya dan anaknnya kelak.


Para dokter terlihat sangat berkonsentrasi, hanya terdengar sesuatu yang penting dari mulut mereka, tentang bagaimana keadaan tubuh Laura, dan dokter lainnya juga meminta alat-alat bedah secara bergilir, serta bunyi alat-alat operasi yang saling membentur dengan loyang stenlis.


Zafran menundukkan wajahnya pada dada istrinya, sembari menggenggam tangan kanan istrinya dengan erat. Pria itu menutup matanya dan mereka berdoa bersama.


Tak berapa lama tangisan bayi yang sangat kencang terdengar, Zafran mengangkat wajahnya dengan sumringah, tiba-tiba air matanya jatuh ia tidak bisa menahannya lagi, pria itu masih melihat wajah cantik istrinya yang tersenyum sembari memejamkan mata, ada setetes air bening yang mengalir di kedua mata sayu itu.


"Sayangg... Anak kita.. Anak kita lahir ke dunia... Suara tangisannya sangat kuat."


Zafran mencium bibir Laura. Menciuminya berkali-kali.


"Sayang..."


Kalimat Zafran terhenti ketika melihat patient monitor berbunyi nyaring di telinganya..


"Para dokter juga terkejut, melihat kondisi Laura yang menurun dengan sangat drastis."


"Lauraaa!!!!"


Teriak Zafran.


Zafran berteriak memanggil istrinya, kepanikan, ketakutan dan segala macam kegelapan menaungi pikiran dan hatinya, dalam sekejap tuhan memberikan dunia padanya dan dalam sekejap pula Tuhan mengambil dunia yang lain.


"Anda harus tunggu di luar tuan."


Para perawat laki-laki mengeluarkan Zafran dengan paksa sedangkan para dokter sedang berusaha menyelamatkan Laura.


"Istriku...."

__ADS_1


Teriak Zafran.


Di luar semua orang terkejut, dan dengan cepat mereka menyimpulkan apa yang telah terjadi di dalam, melihat Zafran memangil-manggil nama Laura dengan putus asa.


Dari kejauhan Edward berlari, pria itu datang bersamaan dengan Kate, mereka bertemu di bandara. Edward mencengkram kerah Zafran dan menatap mata pria itu, seolah kekuatan ajaib telah merasuki penglihatannya dan mengerti kondisi apa yang sedang terjadi


Leizya keluar dari ruangan dan Zafran dengan cepat memegang lengan dokter itu dengan tidak sabar.


"Laura melewati masa kritis, tapi dia harus menjalani perawatan, setelah dia sadar kalian baru boleh menengoknya."


Semua orang bernafas lega, dan bersyukur, banyak air mata yang tumpah hari ini, banyak orang yang menyayangi Laura.


Zafran melihat bagaimana putra nya yang sehat berada di dalam inkubator.


Beberapa hari berlalu, Zafran menemani istrinya dan menemani putranya yang tersekat oleh kaca. Zafran ingin melihat keduanya setiap saat.


Bukan hal sulit baginya mengingat rumah sakit itu adalah miliknya. Ruangan VVIP milik Laura terhubung langsung dengan ruang perawatan bayi mereka, dan di sekat oleh kaca yang setiap waktu dapat melihatnya.


Zafran sedang duduk menunggu istrinya sadar, pria itu menggengam dan membelai lembut tangan Laura sembari berdoa pada Tuhan. Tiba-tiba indra nya dikejutkan oleh tangan yang bergerak, dan sedikit demi sedikit mata Laura terbuka.


"Sayang...?"


Panggil Zafran lirih.


Laura membuka matanya lebih lebar lagi, melihat ke arah Zafran dengan sedikit menyipitkan matanya karena cahaya yang silau dari terik nya matahari yang masuk dari kaca jendela.


"Zafran..."


"Iya sayang, ini aku..."


Kata Zafran.


Tanya Laura lemah. Pikiran pertamanya adalah anak yang selama ini ia kandung, bukan tentang diri nya sendiri.


Zafran kemudian tersenyum dan menekan tombol di ranjang Laura, secara otomatis ranjang itu sedikit menegak.


"Anak kita sedang tidur pulas."


Kata Zafran.


Laura melihat anaknya dari tempat tidurnya.


"Anakku..."


Mata Laura menggembung, ia ingin sekali menggendongnya, Laura tersenyum penuh dengan kepuasan dan kelegaan bahwa anaknya baik-baik saja.


Para dokter tiba di kamar Laura, karena beberapa menit yang lalu Zafran menekan bel untuk memanggil mereka.


"Senang kita bertemu kembali Nona Laura.... Maksud saya Nyonya Laura."


Kata salah satu dokter yang berusia cukup tua sembari tersenyum.


"Bagaimana keadaan anda sekarang?"

__ADS_1


"Cukup baik dokter, dan bisa melihat anakku dari sini sepertinya aku semakin lebih baik."


Laura tersenyum.


"Jahitan di perut Nyonya Laura akan segera mengering kita menggunakan metode modern, sehingga anda dipastikan akan cepat sembuh juga."


Kata salah satu dokter bedah yang lainnya.


"Terima kasih dokter."


Ucap Laura.


"Sama-sama, kami permisi dulu tuan Zafran."


Para dokter berpamitan pergi.


Zafran memeluk istrinya dan mengecup punuk kepalanya.


"Aku mencintaimu, aku bersyukur kau selamat, dan dapat berkumpul dengan kami."


"Aku tidak tahu akan jadi apa diriku jika kehilanganmu."


Zafran mengecup bibir Laura.


Infus bergoyang ketika Laura meraih kepala Zafran.


"Terimakasih sudah menjagaku."


Kata Laura.


"Jadi akan di beri nama siapa anak laki-laki kita Zafran."


"Aku sudah menyiapkan namanya, setelah kepulangan kita dari sini akan ku umumkan di Mansion, mereka akan senang melihat kita pulang."


"Aku sudah tidak sabar ingin menggendongnya."


Laura melihat anaknya yang berada di dalam inkubator.


"Dia sangat mirip denganmu."


Kemudian Laura melihat wajah suaminya.


"Dia mewarisi gen terbaik dariku, tampan, kuat, perkasa, energik, dan juga kaya raya, dia akan ku jadikan seorang pria yang jauh lebih baik dari ayahnya, itu adalah janji yang ku ucapkan untuk diriku sendiri, dan juga untuk mu."


Kata Zafran berjanji pada istrinya.



.


.


.

__ADS_1


~bersambung


__ADS_2