
"Bagaimana bisa hilang Isyana, gantungan itu kita membelinya bersama... Ehmm.. Nanti akan ku belikan lagi untukmu." Kata Isabella.
"Yang sama persis, kita cari ke seluruh penjual kaki lima yang ada di sepanjang jalan!" Imbuhnya lagi dengan tersenyum.
"Tidak Isabell, kau harus menabung untuk mencari apartmen bukan? Apalagi sebentar kau harus masuk perguruan tinggi."
"Aku... Mungkin tidak akan masuk perguruan tinggi." Kata Isabella bersedih menundukkan kepalanya dan memainkan kakinya.
"Kenapa?! Itu kan Impianmu...! Kau ingin meneruskan pendidikanmu di Hill School kan? Lulus sebagai sarjana perguruan tinggi di Hill School." Kata Isyana meyakinkan impian Isabella.
"Iya, itu impianku. Sejujurnya, kadang kala aku merasa lelah dengan perlakuan mereka, aku tidak tahu apakah bisa bertahan untuk tetap diam saat mereka semua membully ku terus menerus. Kau tahu kan, saat aku melawan akan ada catatan buruk di nilai ku dan beasiswa terancam di cabut."
Mereka saling melenguhkan nafas.
"Bagaimana ibu mu?" Tanya Isabella kemudian.
"Ehm... Masih sama, belum ada perkembangan." Isyana menunduk sedih.
"Aku yakin ibu mu wanita yang kuat, dia akan segera bangun." Kata Isabella membelai punggung Isyana memberikan dukungan.
Bel kelas pun berbunyi pertanda sekolah sudah usai, dan pekerjaan Isyana masih belum selesai menata buku dan merekap data-data buku perpustakaan.
"Aku bantu..." Kata Isabella.
"Tidak, tidak, kau harus bekerja paruh waktu kan di cafe, dan malamnya kau menjadi tutor." Kata Isyana melarang Isabella.
"Benarkah kau baik-baik saja?" Kata Isabella.
"Benar... kau tidak di gaji untuk bekerja di sini... Dan aku takut harus membagi gajiku kepadamu jika kau membantuku. Sana!" Isyana tertawa dan mendorong Isabella kemudian menyuruhnya pergi dengan gerakan tangan.
"Kenapa kau pelit sekali, kita selalu berbagi apapun..." Kata Isabella mengejek.
"Kalau kau tetap melanjutkan masuk ke Universitas aku tidak akan pelit dan tidak akan merasa sia-sia... Huss ... Huss..." Kata Isyana lagi menggunakan tangannya.
Isabella berfikir sejenak.
"Jangan lakukan itu Isyana..." Ancam Isabella memperingatkan Isyana.
"Apa?" Sahut Isyana tertawa.
"Aku tidak mau kau gunakan uangmu untuk membantuku masuk perguruan tinggi..." Kata Isabella.
"Sana pergiii... Aku harus menyelesaikan ini... Huusss...." Usir Isyana.
Isabella pun kembali ke kelas untuk mengambil tasnya, ketika Isabella akan mengenakan tasnya ia pun terkejut karena Bag Charm ( gantungan kunci boneka salju ) miliknya yang ia beli couple dengan Isyana pun juga menghilang.
"Tadi masih ada kan?" Kata Isabella berfikir dan mencari-carinya di dalam tas dan di sekitar kursinya.
Namun Isabella terburu waktu, ia harus bekerja di cafe hari ini dan malamnya harus menjadi tutor Evashya.
Gadis itu pergi menuju cafe dengan berlari, menyeberangi jalan besar dan masuk ke dalam cafe yang berseberangan dengan sekolahnya, dengan sigap meluncur ke arah ruang ganti dan mengganti pakaian nya dengan pakaian kerja, ia menguncir dan mengikat rambut ke atas ala ekor kuda dan memakai topinya.
Isabella memulai pekerjaan paruh waktunya, ia mengambil kanebo dan mengelap semua kaca menyemprotkan kaca tersebut dengan pembersih kemudian mengepel dengan telaten dan akhirnya ia siap melayani para pelanggan.
"TLING!"
Lonceng pintu berbunyi yang artinya ada pelanggan datang.
"Caffe Americano 1 dan Double Shots Iced Shaken Espresso 1." Kata seorang pelanggan pria paruh baya yang datang bersama temannya.
"Baik, Mohon di tunggu." Kata Isabella yang menyiapkan pesanan dengan lincah dan terampil. Isabella adalah gadis yang cekatan ia mudah paham dan mengerti, tidak sulit baginya untuk beradaptasi dengan pekerjaan apapun.
__ADS_1
****
Malam harinya Evashya sangat bersemangat dan sudah siap dengan segala macam bukunya yang akan ia pelajari. Sebelumnya Isabella memberikan beberapa soal dan materi yang harus Evashya pahami, dan ternyata semua materi itu muncul saat pelajaran serta saat ulangan.
"Dia cukup berbakat, tapi aku memang pintar..." Kata Evashya memandangi nilai ulangannya yang mendapat B++.
"Tuling!"
Terdengar sebuah pesan di ponsel Evashya.
"Maaf Evashya, hari ini aku tidak bisa datang karena ada urusan mendadak, aku akan mengirimkan materi apa yang harus kau pelajari."
Pesan itu di kirim oleh Isabella.
"Apa!!! Baru datang sekali dan sekarang dia sudah membolos!!!" Teriak Evashya tidak terima.
"Lihat saja, aku akan mengadu pada Mommy."
Evashya keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga dengan kesal.
"Mommy!!! Lihat ini!!!" Kata Evashya menunjukkan ponselnya pada Laura.
Yang kemudian Laura pun membacanya.
"Oh mungkin memang sedang ada acara penting Evashya." Kata Laura santai sembari menaruh panci kaca nya di atas meja makan.
Zack juga sedang asik dengan ponselnya sedangkan Zafran masih duduk memperhatikan hidangan yang Laura masak.
"Apa kita sudah bisa memulai makan malamnya?" Kata Zafran yang sudah kelaparan.
"Daddy!!! Tutor itu membolos!!!" Teriak Evashya.
"Bukan membolos, dia sudah ijin katanya ada acara penting." Sahut Laura.
"Aku harus pergi ke suatu tempat... Ada sesuatu yang harus ku ambil." Kata Zack.
"Mau kemana, kau belum makan malam." Kata Zafran.
"Aku harus mengambil buku yang tertinggal, itu penting sekali." Kata Zack yang kemudian naik mengambil kunci mobilnya.
Tidak ada yang aneh bagi orang tua Zack, karena Zack memang jarang sekali meminta ijin keluar mendadak, apalagi Zack yang pintar dan rajin beralasan pergi untuk mengambil bukunya pastilah orang tuanya tidak akan mencurigainya.
Dengan yakin dan mantap Zack mengendarai mobil nya menuju sebuah tempat, ia percaya kali ini harus menangkap basah.
Setelah sampai pada tempat yang ia curigai, Zack mengerem mobil nya hingga menimbulkan decitan cukup keras dan memarkirkan di basemant, remaja itu naik menggunakan lift khusus yang langsung menuju ke apartmen itu.
Tepat seperti dugaannya, lift di kunci.
"Paman tidak pernah mengunci lift dan ini yang ke dua kalinya saat aku datang ke sini." Kata Zack.
"Ting Tong!"
Zack memencet tombol bel lift.
Dax yang sedang bersama Isyana pun terkejut melihat layar monitor yang memperlihatkan wajah muram Zack.
"Aku benar-benar akan mengajakmu berkelahi paman!" Geram Zack dengan gigi menggeretak dan tangan yang mengepal.
"Ting Tong!"
Zack tidak sabar dan terus memencet bel.
__ADS_1
Tak berapa lama pintu lift pun terbuka.
"Zack..." Sapa Dax dengan tersenyum.
Zack masuk tanpa sepatah kata, terlihat emosi dan kesal, ia mengedarkan pandangannya kesekeliling, dan mengitari apartmen Dax hingga matanya tertuju kembali pada tas Hill School yang memiliki logo siswi Beasiswa yang ada di atas sofa, dan tas itu tanpa memakai Bag Charm ( gantungan kunci tas ) boneka saljunya.
Zack memang sengaja mengambil Bag Charm tersebut di tas Isabella ketika Isabella ke perpustakaan, dan sengaja menyisakan ring nya, ia hanya mengambil boneka saljunya, dan sekarang ternyata tas itupun seperti dugaannya.
Zack kemudian tersenyum tak percaya dan melihat pada pamannya, ia tidak akan memeriksa kamar milik Dax, ia tidak ingin melihat pemandangan yang tidak ingin ia lihat.
"Paman, kau suka dengan gadis remaja?" Kata Zack tanpa basa-basi, ia menyeringaikan sudut bibirnya.
"Apa maksudmu?"
"Tidak usah basa-basi, tas itu milik siswi Hill School dan aku tahu siapa dia, aku tahu pemilik tas itu." Kata Zack.
"Kau salah Zack, paman akan jelaskan, paman hanya membantunya."
"MEMBANTUNYA? ATAU MENGAJARINYA?" Kata Zack menekankan kalimatnya sembari menyeringaikan senyumannya seolah mengejek Dax, dan menatap tepat di depan mata pamannya.
"Apa?" Dax menyipitkan matanya, ia terkejut dengan kalimat menohok Zack yang di lontarkan kepadanya.
"Tidak kah paman tahu bagaimana perasaanku padanya!!!" Teriak Zack pada pamannya.
Dengan cepat tangan Zack maju dan ingin memukul, namun Dax pun dapat menepis dan memegangi pergelangan tangan Zack.
"Apa?" Dax seolah tertimbun batu teramat besar yang menimpa dadanya, saat Zack mengakui perasaannya.
Tanpa menjelaskan apapun Zack menarik diri, dan mendorong tubuh pamannya, ia pun pergi dari apartmen Dax.
"Zack, tunggu dulu, apa maksud dari ucapanmu..." Dax mengejar namun pintu lift tertutup.
Kemudian Dax berbalik ke arah pintu lift dari ruangannya yang lain dan berusaha mengejar keponakannya.
Dax sudah berada di lobby namun tidak menemukan Zack, kemudian mendengar suara mobil Zack yang menggerung, Pria itu berlari untuk mengejar keponakannya hingga di depan halaman bangunan apartmen.
"Zack... Dengarkan paman dulu! Zack...! Apa maksud dari ucapanmu! Mari kita bicarakan dengan tenang!!!" Teriak Dax sembari menggedor-gedor kaca mobil Zack.
Namun nihil usahanya tidak menghasilkan apapun, hingga mobil itu pun melesat melaju dengan kecepatan tinggi.
Dax meremas meremas rambut dan kepalanya. Kemudian Dax naik kembali untuk meminta penjelasan Isyana.
"Ada hubungan apa kau dengan keponakan ku." Tanya Dax.
Saat itu Isyana sedang membenarkan kembali pakaiannya dan duduk di tepi ranjang.
"Apa maksud anda tuan..." Isyana tidak mengerti dengan ucapan Dax.
"Ada hubungan apa kau dengan Zack!" Teriak Dax dengan nafas memburu.
"A... Aku... Masih tidak mengerti tuan..." Isyana masih kebingungan dan hendak menyentuh Dax.
Namun Dax justru menghindar.
"Pergilah..." Kata Dax tanpa melihat Isyana.
Dax melihat ke arah lain, dengan satu tangannya berada di pinggang dan tangan yang lain menyangga tubuhnya di atas meja kaca.
"Pergilah Isyana, dan jangan muncul di hadapan ku sebelum aku memanggilmu." Kata Dax.
Tanpa sadar, air mata pun meleleh dan membasahi pipi Isyana. Lehernya tercekat terasa sangat sakit. Isyana mengambil tasnya dan pergi dengan lemah. Hatinya terasa sakit dan berdesir dengan pengusiran dan tuduhan yang bahkan tidak ia ketahui ada masalah apa.
__ADS_1
~bersambung~