Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASON 2 -


__ADS_3

Zack datang cukup siang, ia masuk ke dalam kelas dan di sambut beberapa temannya.


Kemudian berjalan ke kursinya, namun sebelum itu ia memberikan sebuah buku pada Isabella, membuat gadis itu mendongak pada Zack.


"Pelajari itu..." Perintah Zack.


Isabella tersenyum dan melihat buku yang baru saja Zack berikan, itu adalah kisi-kisi yang mungkin saja akan keluar saat ujian masuk perguruan.


Tak berapa lama Harry juga tiba dan berjalan santai, kemudian duduk di kursinya dan menyapa Isabella.


"Zack, kau sudah sembuh?" Tanya Mr.Jacob yang baru saja masuk ke dalam kelas.


"Iya." Jawab Zack singkat.


"Baiklah, karya wisata besok siapa yang akan mengajukan diri sebagai ketua perjalanan." Tanya Mr.Jacob.


Beberapa mengangkat tangannya, diantaranya Billy, Gery, dan juga Sezi.


Mr.Jacob melengkungkan bibir bawahnya dan mengedarkan pandangannya.


"Bagiamana kalau Harry Benyamin, dia baru pindah dan sepertinya itu akan menjadi bagus untuk kedekatan kalian." Mr.Jacob tersenyum puas.


"Siapa yang akan membantu Harry?" Tanya Mr Jacob kemudian.


Semua siswi mengangkat tangannya, kecual Isabella.


"Bisa saya yang memilihnya sendiri Mr.Jacob?" Tanya Harry.


"Silahkan."


"Isabella saya pikir lebih cocok."


"Isabella? Tapi..." Kata Mr.Jacob.


"Saya butuh partner yang cocok menurut saya." Kata Harry.


"Tidak setuju Mr.Jacob." Sanggah Zack dengan datar dan tenang.


"Baik, apa pendapatmu Zack."


"Tahun lalu Isabella sudah menjabat itu, dan kebanyakan dari siswa-siswi justru tidak bisa patuh, kita bisa mencari siswi lain yang lebih memiliki pengaruh."


"Oke, misalnya?" Tanya Mr.Jacob.


"Sezi." Kata Zack.


"Baiklah, itu ide bagus, aku juga punya pikiran seperti itu, dan kalian jangan coba-coba keluar saat malam hari untuk pacaran, Sezi dan juga Harry akan menjadi pengawas kalian." Kata Mr.Jacob.


"Baiklah karena besok kalian akan pergi karya wisata, hari ini lolos tugas apapun, nikmati jam kosong kalian." Kata Mr.Jacob tersenyum dan kemudian pergi.

__ADS_1


Namun tidak untuk Zack serta anak-anak lain yang masih harus masuk ke kelas Bisnis.


Mereka tetap harus mendalami itu karena bisnis adalah suatu keharusan dan kewajiban, kelak mereka pun akan mewarisi perusahaan orang tua mereka, dan mereka harus siap memimpin apapun yang terjadi.


Zack berdiri dan sudah berlenggang pergi meninggalkan kelas akselerasi. Sedangkan Isabella tersenyum dan membawa buku pemberian Zack menuju kantin untuk membeli camilan.


Di perpustakaan Isyana sedang berkutat dengan buku-buku yang harus ia bersihkan dan ia rapikan. Sesekali Isyana mengeluarkan suara bersin karena ada buku tua yang berdebu di sudut rak paling belakang.


Tiba-tiba ponselnya bergetar membuatnya harus merogoh ke dalam saku.


"Aku menyiapkan sesuatu untukmu, jemputanmu akan datang dan jangan terlambat."


Pesan dari Dax Kennedy membuatnya tersenyum.


Isyana tersenyum membuat kemoceng yang ia sembunyikan di ketiaknya pun mengenai wajahnya. Isyana bersin dan membuat pijakan kakinya di kursi goyah.


"Eh... Eh...." Kata Isyana menyeimbangkan tubuhnya.


Isyana pun tidak sempat berpegangan dan ia terjatuh dengan menutup mata, namun tangan kekar seketika membuat nya terkejut.


"Siapa yang menangkapku." Batin Isyana sembari membuka matanya sebelah.


Terlihat wajah tampan di hadapannya, wajah yang tidak asing baginya, ia seolah bercermin namun dalam versi pria.


"Aku sengaja pindah sekolah ini karena ingin bertemu denganmu." Kata Harry Benyamin.


"Si... Siapa?"


"Saudara kembarmu..." Harry meraih rambut Isyana yang menggerai di bahu dan memelintir pelan.


Isyana mundur dan terbelalak.


"Wajar kau takut dan terkejut."


"Jangan bercanda." Sahut Isyana dan hendak meninggalkan Harry.


Namun dengan cepat Harry meraih lengan kecil Isyana dan mendorong tubuh Isyana hingga membentur rak buku, membuat sebagian buku pun berjatuhan menimpa dirinya.


"Aaakk...!" Pekik Isyana kesakitan.


"Dimana wanita jalangg itu..." Tanya Harry tenang.


"Apa?" Kata Isyana tak mengerti.


"Dimana wanita itu..." Ulang Harry dengan datar.


"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan, aku tidak ada waktu meladeni orang halusinasi." Isyana hendak pergi lagi.


Namun Harry meraih leher Isyana yang kecil dan mencekiknya hingga membentur dinding.

__ADS_1


"Malam itu kau pergi dengannya, wanita yang pergi denganmu, wanita yang pergi hanya membawamu, dia melarikan diri sebagai tahanan rumah dan pergi denganmu!"


"Aku tidak mengerti apa yang...." Isyana kesakitan hampir tak bisa bernafas.


Tangan Isyana berusaha melepaskan cengkraman Harry dari lehernya.


Harry pun melepaskan Isyana.


"Gaby Miranda, malam itu dia pergi sebelum masa tahanan rumahnya selama 10 tahun selesai, dia memberikan obat pada ayah hingga menjadi lumpuh, dan menusuk Kakek dan Nenek hingga menyebabkan mereka meregang nyawa, kemudian ia pergi bersamamu." Kata Harry menjelaskan dengan mata nanar.


Isyana masih menarik nafas, ia mengambil oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya.


"Aku bersumpah demi apapun... A-ku... Tidak tinggal bersamanya... A-Aku tidak tahu apa-apa...!" Kata Isyana terengah.


"Aku akan mengawasimu, pulang sekolah tunggu aku jangan pergi kemanapun." Ancam Harry.


Air mata Isyana mengalir begitu saja, ia masih menarik nafas tersengal karena menangis.


Isyana pun terduduk bersimpuh di lantai, kemudian ia mengangkat wajahnya memandangi kaca yang menjulang tinggi, dimana ia bisa melihat dirinya yang tak berdaya serta hanya bisa menangis.


"Apa salahku? Aku bahkan tidak tahu siapa itu Gaby Miranda. Aku tidak pernah tahu bagaimana wajahnya, Aku bahkan menjalani hidup ku dengan penuh luka dan pengorbanan, lalu sekarang semua kesalahan di tujukan padaku?"


Isyana menutup matanya, membuang air mata yang menggembung di kedua matanya.


Tak berapa lama Isabella datang untuk mencari Isyana. Isabella mengitari setiap rak dan menemukan Isyana masih terduduk lemah dengan menangis.


"Isyana... Ada apa?"


Isabella berlari dan berlutut di depan Isyana sembari menaruh bukunya.


"Ada apa? Kenapa kau menangis? Apa ada seseorang yang mengganggumu?" Tanya Isabella.


Isyana kemudian tersenyum.


"Tidak ada... Aku terjatuh dan rasanya sakit sekali." Kata Isyana menangis meraung di pelukan Isabella.


Mata Isabella pun melihat kursi yang sudah terbaring di lantai, namun ia merasa tangisan Isyana terdengar bukan seperti karena jatuh dan sakit, suara tangisan Isyana terdengar seperti luapan sakit hati di dalam jiwanya.


Isabella hanya bisa memeluk dan membelai serta menepuk pelan punggung Isyana.


"Tidak apa-apa... Menangis saja." Kata Isabella yang juga ingin menangis.


"Tidak apa-apa... Kamu bisa melaluinya, sejauh ini kau sudah melakukannya dengan baik." Kata Isabella lagi.


Isyana masih bersembunyi di dalam pelukan Isabella, menangis tersedu hingga lehernya tercekat sakit, hingga lehernya seperti berulang kali di tarik.


Isabella membuang nafas dan melihat ke atas agar air matanya tidak ikut terjatuh, Isabella mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak lolos dari kedua matanya.


"Kau masih memiliki aku Isyana..." Kata Isabella menenangkan Isyana.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2