
Liburan kali ini Dax mengajak Isyana pergi mengunjungi sebuah proyek yang sedang di garap Dax. Mereka memakai jet pribadi dan terbang menuju sebuah kota yang sangat padat penduduknya dan kota itu juga cukup maju.
Dax menggarap proyek apartmen itu dengan detail dan profesional, apartmen yang akan menjadikannya bangunan paling mewah dan megah, bangunan itu akan menjadikannya nilai jual yang tinggi, akan menjadikannya paling mahal dan bangunan paling menjulang lebih tinggi dari bangunan-bangunan lainnya.
"Ini apartmen yang sedang tuan kerjakan?"
"Hm..."
"Mewah sekali..."
"Aku juga akan mengajakmu ke mansion milikku di dekat sini." Kata Dax menarik tangan Isyana.
Sebelum menuju mansion pribadi milik Dax, terlebih dulu mereka berjalan-jalan dan menikmati pemandangan di kota tersebut. Saat itu Isyana menggerai rambutnya dan mereka berjalan beriringan sembari bergandengan tangan, mereka melewati bangunan-bangunan yang artistik.
Saling bercanda dan saling menggoda, bahkan Dax juga menggendong Isyana di belakang punggungnya.
Setelah matahari siap terbenam dan mereka berada di bangunan yang tinggi, saling memandangi sunset bersama, kemudian Dax meraih tubuh kecil Isyana dan mengangkatnya naik untuk duduk di atas mistar bangunan agar sejajar dengan dirinya.
"Saatnya menagih janjimu..." Bisik Dax serak.
"Masih harus menunggu beberapa jam lagi tuan..." Jawab Isyana sedikit berbisik pula dan dengan gerakan tersipu karena malu.
Dax memang sengaja mengajak Isyana untuk berlibur merayakan hari ulang tahun gadis kecilnya yang ke-17 tahun, dan ini juga pertama kalinya bagi Isyana melakukan perjalanan jauh.
Dax memeluk pinggul Isyana dengan tangan besar dan kekar miliknya. Tangan Dax besar dan kokoh, tangan - tangan itu sudah bisa meraih seluruh pinggul Isyana dan perut Isyana, bahkan satu telapak tangan Dax juga dapat memenuhi setengah dari perut Isyana.
"Apa kau siap..." Tanya Dax berbisik di leher Isyana sembari menghembuskan nafasnya.
Sunset sore itu membuatnya semakin romantis dan membuat jantung Isyana semakin berdegup kencang. Isyana kemudian merangkulkan tangannya pada leher Dax.
"Siap atau tidak sudah menjadi perjanjian di antara kita tuan..." Kata Isyana dengan tersenyum dan malu.
Dax ******* bibir mungil Isyana dengan sangat lembut namun juga rakus, seolah-olah Dax ingin sekali menelan bibir itu. Dax semakin liar mencium dan Isyana menerima itu, ia pun merespon dan mengimbangi gerakan Dax.
"Aku menyiapkan sesuatu yang bagus untukmu..." Ujar Dax melepaskan ciumannya dan mengecup leher Isyana.
"Apa itu tuan..."
"Kau pasti akan suka, ayo..." Ajak Dax dan menurunkan Isyana dari mistar tersebut dan mengajaknya pergi.
Mobil melaju dengan cukup cepat melewati jalanan lengang dan naik ke atas bukit, jalanan yang berkelok kelok dan terus naik. Sampailah mereka ke sebuah mansion yang sangat indah dan megah di atas bukit. Mansion dengan berbagai lampu pijar berwarna kekuningan membuat suasana malam itu teramat romantis.
__ADS_1
Sang sopir menghentikan mobil tepat di depan halaman Mansion dan pintu mansion pun sudah di buka oleh para pelayan.
Dax menuntun Isyana untuk masuk ke dalam Mansion.
"Ini luar biasa..." Kata Isyana sembari mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan.
"Ini hanya salah satu milikku..." Kata Dax.
"Anda sungguh luar biasa memiliki banyak uang, memiki pengaruh besar, dan seolah saya sedang bersama seseorang yang bisa memberikan apapun dalam sekejap."
"Kau senang?"
"Saya bahagia tuan..." Kata Isyana tersenyum penuh rasa syukur.
"Kau pasti lapar..." Dax mengajak Isyana ke halaman belakang.
Terlihat sebuah meja yang sudah di hiasi sedemikian rupa dengan lilin dan semua bunga mawar di sana. Danau yang terlihat pun menambah takjub pemandangan itu sedangkan kapal mewah juga terpajang di sana.
"Ini..." Isyana tidak dapat melanjutkan kalimatnya.
"Selamat ulang tahun..." Bisik Dax dari belakang dan mencium tengkuk Isyana.
"Ta, tapi ulang tahun saya masih beberapa jam lagi tuan." Isyana tak bisa menahan tawanya.
Dax kemudian berjalan dan menarik 1 kursi mengisyaratkan Isyana untuk duduk, setelah Isyana duduk dengan menahan semua kegembiraannya Dax pun juga duduk di depan Isyana.
"Saya... Sangat bahagia..." Kata Isyana menggigit bibir bawahnya menahan tawa yang hendak merekah.
"Ini kado untuk mu..."
Dax menyerahkan kado sekotak kecil di bungkus dengan rapi dan di atasnya memiliki pita kecil.
Isyana pun membuka pita tersebut dan membuka kotak kado itu, wajahnya bersinar sumringah apalagi pancaran dari sinar lilin membuat Isyana semakin terlihat cantik.
"Ya tuhan...."
Dax berdiri dan memasangkan kalung mungil itu, kalung yang pas di leher Isyana.
"Ini terlalu mewah tuan, saya tidak pantas memakainya..."
"Kau pantas mendapatkannya, dan kau sangat cantik."
Mereka pun makan malam sembari bercengkrama dan berbincang tentang kegiatan Isyana dan apa yang Isyana sukai. Hingga tak terasa malam pun semakin larut dan jam sudah menunjukkan pergantian hari dimana Isyana kini sudah berusia 17 tahun.
__ADS_1
Lalu di akhir makan malam, mereka berpindah duduk di teras kamar, kasur lipat dan bantal pun sudah menjadi tempat ternyaman bagi mereka.
Isyana berbaring beralaskan lengan Dax, sembari menatap bintang-bintang yang berpijar di langit.
"Sejujurnya saya pernah memiliki rasa trauma..." Sahut Isyana.
"Hm?"
"Saat itu adalah hari dimana pembukaan sekolah baru di pemukiman kami, ibu saya Dorothy ingin sekali menyekolahkan saya, sang kepala sekolah sekaligus pemilik sekolah swasta tersebut mengatakan bahwa saya boleh bersekolah secara gratis."
"Lalu..."Sahut Dax penasaran.
"Lalu benar saja, saya pun bisa bersekolah secara gratis, karena ibu saya tidak memiliki uang, dan ia sangat menginginkan saya bisa mengenyam bangku sekolah meski sekedar bisa menghitung dan membaca."
"Namun pada suatu hari, seperti biasanya, ibu saya mengantarkan saya untuk sekolah, dan seperti biasa juga ia mengantar saya sampai di depan kelas, namun ketika itu saya melihat sang kepala sekolah itu mengajak ibu saya masuk ke ruangannya."
"Saat itu masih sangat pagi dan saya berniat masuk namun, ketika kepala sekolah itu mengancam ibu saya untuk memenuhi hasratnya, dari sanalah saya tahu perjanjian mereka satu sama lain. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana pria tua itu mengarahkan benda miliknya pada mulut ibu saya.... Mulai saat itu juga saya tidak lagi mau bersekolah." Kata Isyana sembari menangis dan menutup wajahnya.
"Dimana sekolah itu." Tanya Dax kemudian merubah posisi tidurnya menjadi duduk.
"Ada di dekat pemukiman kami, bukan sekolah mewah, hanya sekolah yang di bangun secara mandiri. Seorang guru wanita yang mengetahui kasus tersebut pun merasa iba dan membawa saya masuk ke dalam Hill School menjadi kan saya petugas perpustakaan dengan memakai seragam yang sama."
"Saya bertemu seorang teman yang sangat baik, tidak seperti siswa dan siswi yang lainnya, dia adalah Isabella. Teman pertama yang saya miliki."
"Isabella?" Tanya Dax sembari mengernyitkan alisnya
"Iya tuan, kami menjadi sahabat yang selalu saling bercerita, kemudian kami memutuskan untuk mengikat persahabatan kami dengan membeli barang-barang yang sama. Gantungan tas, ikat rambut, atau pun gelang dan semacamnya.
"Okey... Sekarang aku tahu masalah dari semua itu." Kata Dax melenguh.
"Masalah?" Tanya Isyana tak mengerti.
"Saat aku membentakmu, dan menyuruhmu pergi, keponakanku mengira yang ada di apartmenku adalah temanmu. Dia mengira aku mengencani temanmu. Kalian memiliki barang-barang yang sama."
"Apa itu Zack?" Tanya Isyana.
"Kau mengenalnya juga?"
"Tidak, saya juga baru mengenalnya saat dia melindungi Isabella. Saat itu Isabella selalu saja di ganggu oleh teman-temannya."
"Dan permasalahan dari itu semua sudah selesai." Kata Dax mengecup Isyana.
"Aku juga akan menyelesaikan pemilik sekolah itu, tenanglah Isyana, dia akan menyesal pernah hidup di dunia ini." Kata Dax yang memeluk tubuh Isyana.
__ADS_1
~bersambung~