Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASON 2 -


__ADS_3

Akhirnya Laura memilih untuk pergi dari ruangan Zafran dan meninggalkan Evashya tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut Laura. Kecewa, sedih, emosi, murka, dan menyesal, kini bercampur aduk di benak Laura.


Tanpa melihat sedikit pun ke arah wajah Evashya, Laura pergi meninggalkan Evashya, dengan kesal dan ingin melampiaskan emosinya, Laura membanting pintu hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


Sedangkan Evashya masih berdiri mengepalkan kedua tangannya. Zafran kemudian menarik lembut Evashya untuk duduk di sampingnya.


Evashya hanya menunduk di depan ayahnya.


Zafran masih memandang pada Evashya yang memiliki kulit bersih dan bening menuruni kulit Ibunya, membuat bekas merah itu terlihat mencolok.


"Ibu mu pernah akan kehilangan nyawanya Evashya, dan itu adalah hari paling menakutkan di kehidupan ayah, hari paling gelap dan hari paling mencekam, bahkan ayah tidak berani untuk mengingatnya. Ketika alat detektor itu berbunyi dan melihat ibu mu tidak lagi bernafas, ayah benar-benar kacau, dan kejadian seperti itu bukan hanya sekali."


"Saat itu adalah hari-hari terberat perjuangan kami. Bahkan saat melahirkan kakakmu, ibumu benar-benar tetap ingin mempertahankan Zack. Meski nyawanya adalah taruhannya."


Evashya masih diam dan menunduk.


"Saat ibu mu mengandung lagi dan itu adalah kau, dia sangat senang dan bahagia, bahkan rutin memeriksakan kondisimu yang masih di dalam perutnya, ia tidak ingin kejadian saat mengandung Zack terulang kembali padamu."


"Saat kelahiranmu belum tiba, Laura pun mengalami hal yang sama, lagi-lagi tubuhnya tidak kuat menahan kandungannya. Membuat kamu pun sama seperti Zack, lahir prematur dan harus masuk observasi di dalam inkubator."


"Kau tahu Evashya, betapa hancurnya hati dan perasaan ayah ketika melihat mu berteriak dan memandang penuh kebencian pada ibumu sendiri yang berkorban nyawa hanya demi kehidupan anaknya."


Zafran menelan ludahnya, kedua mata Zafran memerah mengingat bagaimana perjuangan Laura ingin memiliki anak. Bahkan Zafran yang dalam benaknya ingin memiliki anak lagi pun tidak kuasa melihat istrinya harus mengalami hal yang sama.


"Kondisi ibu mu dan kesehatan ibumu menjadi seperti itu karena pengaruh obat yang pernah meracuninya, dan ceritanya sangat panjang. Evashya, sebenarnya ayah sangat menginginkan 5 atau 6 orang anak, tapi ayah meredam perasaan itu, menekan keinginan itu melihat perjuangan ibumu yang tidak mudah. Ayah tidak mau kehilangan ibumu"


"Kali ini ayah mohon padamu Evashya, sayangilah ibumu, patuhlah padanya, dia menginginkan yang terbaik untukmu. Mike Bacelo memiliki latar belakang yang buruk, itu lah kenapa ibu mu tidak menyukainya."


"Kenapa tidak memberitahuku, latar belakang buruk seperti apa." Kata Evashya pelan dan lirih.


"Dia... seorang pelayan panggilan untuk wanita-wanita." Kata Zafran memperhalus kalimatnya.


"Maksudnya, seperti pelaacur?" Tanya Evashya polos.


Zafran memyeringaikan senyumannya mendengar pertanyaan polos Evashya.


"Hm... Seperti itu." Kata Zafran tersenyum pada Evashya dan membelai lembut pipi anaknya.


"Kenapa Mommy tidak memberitahu Shya tentang itu?"


"Mungkin Mommy mu tidak ingin kau mendengar sesuatu yang tidak seharusnya kau dengar, mungkin juga Mommy mu sedang penat dan tidak bisa memikirkan bagaimana caranya memberitahumu, bisa saja kau tidak percaya dengan segala ucapannya, bisa saja kau pikir Mommy mu berbohong dan kau mengira bahwa Mommy mu hanya karena berencana ingin memisahkan kalian. Dia lebih tahu sifatmu." Kata Zafran tersenyum dan membelai rambut Evahsya.


"Aku akan meminta maaf pada Mommy." Kata Evahsya menyesal dan menunduk.


"Itu bagus, tapi ku rasa besok pagi saja, sekarang dia pasti sedang menangis karena melihat sesuatu yang menempel di lehermu." Kata Zafran melihat dengan tatapan dingin dan senyumannya seketika pudar.

__ADS_1


"Aku akan tidur bersama Zack, aku merasa sepi." Kata Evahsya.


"Hm... Sana tidurlah, jangan lupa mandi dulu pakai air hangat."


"Iya Daddy..." Evashya mengecup wajah ayahnya.


Setelah Evashya pergi Zafran memanggil Stark untuk masuk ke dalam ruangannya, dan Stark pun datang menghadap.


"Singkirkan Mike Bacelo, dia lancang menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak ia sentuh." Kata Zafran mengeratkan rahangnya.


"Baik tuan." Stark pun pergi.


Sedang Zafran naik ke atas menuju kamar dimana Laura pasti sedang menangis, dan benar saja Laura tidur memiringkan tubuhnya sesekali mengusap air mata.


"Aku sudah membereskannya." Kata Zafran memeluk Laura dari belakang dan mencium tengkuk Laura.


"Aku tidak percaya Mike melakukan itu pada Evahsya."


"Dia memiliki backingan cukup kuat, kurasa ada seseorang di belakangnya."


"Maksudmu?" Kata Laura membalik tubuhnya menghadap Zafran.


"Entahlah, aku hanya merasa..." Zafran menghentikan kalimatnya.


"Tidak apa-apa. Stark sedang mengurusnya, ia tidak akan mengganggu dan tidak akan bisa menemui Evashya lagi."


"Rilex sayang, kau terlalu banyak berfikir, serahkan semuanya padaku. Kau memiliki aku." Zafran mencium kening Laura dan memeluk tubuh Laura dalam dekapannya.


****


Pagi yang cerah, tanpa mendung tanpa awan dan matahari bersinar terang, burung-burung yang ada di mansion pun sudah bercicit dan berterbangan. Kumbang dan kupu juga sudah berterbangan menghisap madu di setiap bunga milik Laura.


Pagi itu, seperti biasanya, Laura memasak di bantu para pelayan dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


Anak-anaknya duduk dengan diam dan menantikan ayahnya untuk turun ikut bergabung sarapan dengan mereka.


Setelah Zafran duduk mereka pun memulai sarapan pagi.


"Zack, apa benar kau sudah bisa berangkat sekolah." Tanya Laura cemas.


"Tenang saja Ibu..." Kata Zack tersenyum.


Evashya masih diam dan menyendokkan nasi hingga habis.


Setelah sarapan Zack pun keluar dan berpamitan lebih dulu, kemudian di susul Evashya.

__ADS_1


"Maafkan Shya Mommy, Shya akan jadi anak penurut." Kata Evashya berpamitan pada ibunya.


Laura tersenyum dan mengecup kening Evashya.


"Ibu tahu..."


Evashya pun masuk ke dalam mobil duduk bersebalahan dengan kakaknya, dan mobil melajou mengantarkan mereka menuju sekolah. Zack melihat ke arah Evashya dan mengangkat satu alisnya.


"Mata mu sembab?" Tanya Zack meraih wajah adiknya dan mengamati baik-baik.


"Tidak apa-apa..." Kata Evashya singkat.


"Semalaman kau menangis?"


"Sedikit..."


"Kenapa?"


"Aku putus dengan pacarku "


Zack menekuk alisnya masuk.


"Kau tidak seharusnya terlibat hati dan percintaan dimana nilai-nilai mu sedang goyah. Jika ingin berpacaran carilah sosok yang bisa membuatmu bersemangat sekolah dan bersemangat untuk belajar, itu bisa membuat sekolah menjadi hal yang paling kau nantikan."


"Seperti kau dan Isabella?" Kata Evashya to the point.


Zack hanya berdehem kecil dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"Aku akan meminta Isabella menjadi tutorku lagi."


Zack melihat ke arah Evashya.


"Sepertinya aku sudah salah paham padanya." Kata Evashya.


"Kau..."


"Apa kau juga sudah tahu siapa yang bersama paman Dax?" Kata Evahsya berbisik.


Zack hanya mengangguk pelan.


"Isabella adalah orang yang paling di rugikan, ia tidak tahu apapun, tapi ku rasa ada yang memang sengaja membuatnya seperti itu, sengaja membuat semua orang mengira itu adalah Isabella. Beberapa siswa berusaha memprovokasi, mengarahkan argumen mereka agar terlihat itu adalah Isabella."


"Lalu siapa orang itu?" Tanya Evashya.


"Sedang ku pastikan." Kata Zack singkat pandangannya tertuju ke depan.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2