
Edward menikmati minuman mahalnya, Coktail The Winston, dengan tatapan bosan dan malas sesekali menggoyangkan gelas nya yang berisi bongkahan es, pria itu di kelilingi oleh para wanita club malam.
Sebanyak wanita yang ada di sekitarnya, hati nya tetap melihat pada Laura, membuat pria itu jengah dan setiap hari hanya bersenang-senang dengan para wanita penghisap uang.
"PRANGG!!!
Terdengar keributan di sisi sebelah yang lain.
"Kenapa sangat ribut?"
Tanya Edward.
"Ada yang berkelahi."
Kata salah satu wanita yang berdiri.
"Biarkan saja..."
Jawab Edward malas.
"DASAR ******, BAWA KATE KEMARI ATAU KAU AKAN TAHU AKIBATNYA!!!"
Terdengar bentakan seorang lelaki paruh baya pada seorang pria yang sedikit gemulai.
Mendengar nama Kate, Edward sedikit tergugah telinganya untuk mencuri dengar, meski masih duduk membelakangi tempat perkara.
"Banyak nama Kate di dunia ini."
Kata Edward lirih, sembari meminum coktailnya lagi.
"Kate, kemarilah, aku tidak dapat mengatasinya, dia membuat rusuh Club ku."
Kata pria gemulai itu dari ponselnya.
"Aku akan segera tiba."
Suara nya nyaring dari balik ponsel.
"Kau sudah dengar kan dia akan segera tiba, jadi duduk dan diamlah di sini, jangan membuat keributan."
Kata pria gemulai itu dengan memelototkan matanya.
Tak berapa lama Kate yang di maksud datang dengan garang.
"Aku sudah muak padamu, jika kau tidak bisa menghasilkan uang setidaknya jangan ganggu aku, atau ceraikan ibuku!!!"
Kata Kate berteriak.
Edward dengan cepat memutar tubuhnya dan melihat suara yang tak asing baginya.
"Kate."
Ucap Edward pelan.
Pria paruh baya itu dalam keadaan mabuk dan kemudian menjambak rambut Kate, ia ingin menyeretnya keluar Club.
"Pulang dan ikut denganku, akan ku beritahu bagaimana seharusnya kau bersikap pada ayahmu!!!"
"Paul!!! Kau bukan ayah kandungku, kau pria mesum yang selalu punya pikiran kotor padaku, enyahlah!!!"
Teriak Kate geram, ia kesakitan dan berpegangan pada meja marmer karena rambut nya di jambak oleh Paul, dan pria itu siap menyeret Kate untuk pergi.
"Pulang!!!"
Bentak Paul.
__ADS_1
"Aku tidak akan pulang, kau biadab, pikiranmu kotor dan kau pasti akan memperkosaku!!!"
Teriak Kate.
Paul masih menjambak rambut Kate dan memaksa Kate untuk ikut dengannya.
"Kasar sekali, lepaskan dia..."
Seorang pria berdiri di belakang Kate.
"Jangan ikut campur!!!"
Bentak Paul.
"Edward...?"
Kate hanya bisa menebak karena ia tidak bisa menoleh ke belakang.
"Hmm.."
Jawab Edward pada Kate, kemudian Edward memegang tangan Paul yang sedang menjambak rambut Kate, mencengkramnya dengan satu tangan.
"Kreekk!!!"
Edward membengkok kan pergelangan tangan Paul hingga patah dan berbunyi.
"AAA... AAAARRGGHH... DASAR SIAL... !!!"
Teriak Paul.
Kemudian pria itu mengambil botol dengan tangan satunya dan akan memukul kepala Edward namun Edward menghindar.
"PYAARRR!!!"
Botol mengenai meja marmer dan pecahan itu menggores tangan Kate.
Pekik Kate dan reflek memundurkan kakinya ke belakang.
Edward yang melihat itu semakin kesal, kemudian menendang Paul dan menghajarnya, tak berapa lama keamanan datang dan membawa Paul pergi. Paul berteriak-teriak seperti orang gila.
Edward melihat ke arah Kate kemudian memegang tangan wanita itu, dan memeriksanya.
"Ku antar pulang, pakai mobilku."
Kata Edward menggandeng tangan Kate yang berdarah.
"Untuk semua tagihan kerusakan."
Kata Edward memberikan kartu nya pada pria gemulai itu.
Perjalanan dari Club menuju apartmen Kate tak membutuhkan waktu yang lama, karena jaraknya tidak terlalu jauh. Kate menekan beberapa tombol pin dan pintu terbuka, Edward ikut masuk ke dalam Apartemen Kate.
"Aku akan obati lukanya dulu."
Kata Kate dan mengambil kotak obat.
Namun Edward dengan cepat menyambar kotak obat itu, kini Kate duduk di sofa dan Edward yang membersihkan lukanya serta menempelkan plester pada tangannya.
"Apa kau mau minum?"
Tanya Kate tiba-tiba.
Edward ragu, namun tidak ada salahnya daripada ia harus di kelilingi oleh wanita-wanita ******.
"Hmm... Boleh.
__ADS_1
Jawab Edward.
"Aku akan ambilkan."
Kata Kate berdiri dan mengambil beberapa botol bir di kulkas.
"Drrttt.. Drrtt..."
Ponsel Edward bergetar.
"Ya... Urus saja dia, kalau perlu buat sanksinya berat. Hm... Baiklah, jangan sampai dia keluar penjara dengan cepat."
Kata Edward mengakhiri panggilannya, terlihat Kate juga sudah menaruh botol-botol bir di atas meja.
"Apa itu dari kantor polisi?"
"Hmm... Pengacaraku akan membuat pria itu mendekam cukup lama di penjara."
"Aku akan tenang, tapi ku rasa ibuku akan menangis sepanjang malam, dia di butakan oleh cintanya, dan melupakannku."
Kate menegak botol bir dengan cepat, menahan air mata yang sudah menggembung.
Edward kemudian mengambil botol bir nya dan ikut minum.
Sepanjang malam tak ada yang berbicara, mereka hanya terus minum, dan Kate menangis mengingat kenangan demi kenangan yang terekam dalam ingatannya ketika Paul terus saja menganggunya.
Edward masih terus menjaganya, dan memberikan tisu pada Kate. Mereka hanya terus minum dan saling diam.
"Aku akan membuatnya mendekam di penjara, para preman di penjara akan memberinya pelajaran."
Kata Edward mengusap rambut kepala Kate.
Saat itu Kate reflek mendongak pada wajah tampan Edward, pun Edward yang heran pada dirinya sendiri kenapa tiba-tiba saja tangannya bergerak maju membelai rambut Kate.
Sedikit demi sedikit Edward mendekatkan wajahnya pada Kate, dan mulai menempelkan bibir nya pada bibir penuh milik Kate, bibir ranum yang kenyal.
Edward mencium Kate, sedikit demi sedikit ciuman yang lembut itu mulai menekan, Kate juga membalas ciuman Edward. Bibir mereka saling *******, Kate memejamkan mata nya begitu juga Edward.
Entah karena pengaruh alkohol atau mereka sedang berada pada fase jenuh dan jengah, tidak ada yang bisa memastikan. Namun yang jelas, tubuh serta perasaan mereka memiliki gairah yang tersulut dan sedikit demi sedikit api gairah kecil itu mulai membesar.
Edward memaruh botol bir nya di atas meja, tangan kirinya mulai menelusup masuk ke dalam baju Kate, membelai perut mulus yang ramping itu dan perlahan Edward mendorong Kate setengah berbaring di atas sofa.
Tangan Edward mulai naik dan melepaskan pengait bra milik Kate, gerakan tangan Edward semakin liar, mereka masih diatas sofa, tangannya meraih dada Kate yang padat, ciuman nya pun semakin rakus. Tubuh kekar Edward mulai menegang, pria itu kemudian melepaskan kemejanya.
Edward dan Kate kemudian berdiri, mereka masih dalam posisi berciuman, langkah demi langkah berjalan pelan dan mereka masih saling memeluk, kaki ramping dan jenjang milik Kate berjalan mundur, mereka masih saling menutup mata sesekali mata sayu melihat keadaan dimana jalan nya.
Edward mendorong Kate di atas ranjang, pria itu menesuri tubuh ramping dan mulus milik Kate, dan Entah ntah sejak kapan pakaian mereka telah teronggrok di mana-mana, tersebar di sepanjang jalan menuju kamar.
Edward meraih tubuh Kate dengan kekuatannya ia melakukan nya, Kate mendes*h, suaranya desah*n itu cukup keras dan memenuhi ruangan apartemen, baru kali ini Edward merasakan dirinya sangat tertarik melakukan hubungan bersama seorang wanita dengan sangat bersemangat.
Kate tidak ingin Edward mendominasinya, ia mendorong Edward jatuh di samping nya, dan kemudian Kate mengambil kendali permainan, Kate bergerak dan menekan diatas tubuh Edward.
Desah*an Kate membuat Edward semakin liar, keringat mengucur deras dari tubuh mereka.
.
.
.
__ADS_1
~bersambung~