
Pelayan berlari tergopoh dengan perasaan yang sangat ketakutan, ia takut jika kelalaiannya akan membawanya pada pemecatan dan sebagainya.
"Tok-Tok-Tok"
Pintu ruang kerja di ketuk.
"Masuk."
Kata Zafran.
"Tu-tuan..."
Kata pelayan itu ketakutan.
"Ya ada apa."
Zafran masih menatap layar laptopnya.
"Ma-maafkan kelalaian sa-saya."
"Tentang apa?"
Kini Zafran memandang pelayan tersebut, dengan wajah datar.
"Saya lalai tidak mengecek pakaian lebih dulu sebelum memasukkan ke dalam mesin cuci, dan saya menemukan kotak ini."
Pelayan maju dan memberikannya pada Zafran.
Pria itu berdiri dan menghampiri sang pelayan, mengambil kotak berwarna biru dari tangan gemetar sang pelayan.
Zafran memandanginya, dan membuka kemudian membalik kotak perhiasan tersebut, dan terukir sebuah kalimat lengkap dengan nama sang pemberi.
..."Selamat ulang tahun Laura."...
Dax Kennedy
"Kau boleh pergi dan panggil Stark kemari."
Kata Zafran datar.
"Te-terimakasih tuan."
Pelayan pergi memanggil Stark.
Zafran memandangi berlian biru yang ada di tangannya, rahangnya mengeras, tangan besar berotot itu meremas kotak perhiasan tersebut.
Tak berapa lama Stark datang.
"Ya tuan."
"Cari tahu apa yang menggarap penginapan milik istriku adalah Dax."
Kata Zafran.
"Baik tuan."
"Kirim beberapa pengawal tambahan untuk memantau istriku secara diam-diam."
Zafran masih dalam kondisi menahan amarah.
"Baik tuan.
Kemudian Zafran menyimpan cincin tersebut di laci nya. Pikiran nya melayang jauh pada Laura. Jika Zafran mengikuti egonya, pastilah tidak akan pernah mengijinkan Laura untuk keluar dari Mansion. Namun tidak relevan juga jika terus mengurung istrinya di dalam Mansion. Keputusan itu bagai pedang bermata dua.
Tak lama terdengar decitan mobil Laura yang sudah tiba di Mansion. Zafran menunggu sejenak hingga istrinya berganti pakaian, kemudian ia akan naik ke kamar.
Setelah Zafran menunggu, pria itu berdiri dan keluar dari ruang kerjanya, menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar.
"Astaga Zafran kau mengagetkanku."
Laura terkejut ketika Zafran tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Aku tidak mendengar mu masuk?"
"Aku mengendap-endap, ingin memangsamu."
Kata Zafran menggigit kecil leher Laura membuat nya tertawa kegelian.
__ADS_1
"Apa kau sekarang berperan jadi vampire?"
Laura tertawa.
Pandangan Zafran sekilas melihat jari Laura yang terbuntal plester.
"Kenapa dengan jarimu?"
Tanya Zafran melepaskan pelukannya.
"Oh, tadi aku tidak hati-hati dan pecahan kayu masuk ke dalam jariku."
Laura cemberut dan melengkungkan bibirnya.
"Apa sakit?"
"Tidak, sudah di obati."
Laura tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Siapa yang mengobati lukanya."
Tanya Zafran.
"Oh... Teman, maksud ku semua pegawai di sana sudah menjadi temanku, kita semua akrab karena sering bertemu."
"Begitukah?"
Tanya Zafran sembari membuka plester itu dan membuangnya.
"Kenapa di buka?
Tanya Laura.
"Aku akan menggantinya."
Jawab Zafran singkat sembari melangkah pergi.
Zafran kembali dengan membawa kotak p3k, pria itu memberikan obat luka pada jari Laura dan menempelkan plester baru.
"Bagaimana jika mulai besok kau mengurus penginapan itu dari Mansion, aku khawatir kau akan terluka lagi."
Kata Laura.
"Lagi pula aku sudah membentuk staff khusus, kemana mereka, bukannya kau harus nya menunggu di sini dan cukup menerima laporan saja, itu akan lebih memudahkan mu, kau tidak perlua susah payah kesana-kemari."
"Mereka ada di sana juga, kau tahu aku ingin mengawasi langsung renovasi penginapan itu."
Jawab Laura.
"Tapi..."
"Zafran, kau sudah mengijinkanku bukan?"
Mimik Laura berubah serius.
"Bukan begitu..."
"Apa kau mau mengurungku di Mansion lagi?"
Sambar Laura dengan cepat.
"Bukan begitu, hanya saja..."
"Aku akan menghidupkan lagi penginapan dan kita sudah sepakat bukan?!"
Laura sedikit berteriak, mimik wajahnya menengang.
"Baiklah... Maafkan aku, jangan meninggikan suaramu padaku dan menatap seperti itu."
Zafran meraih tubuh mungil istrinya ke dalam pelukannya.
"Kau pasti lelah, istirahatlah dulu."
Zafran mengecup kening Laura dan pergi.
Keadaan itu menjadi canggung dan sikap Zafran terlihat aneh, tidak biasa di mata Laura.
__ADS_1
Pria itu menuruni tangga dengan santai, kedua tangannya berada di dalam saku celana dan terlihat Stark sudah berdiri di depan pintu ruang kerjanya.
Strak membuka pintu, kemudian Zafran masuk ke dalam ruang kerja, pria itu duduk di mejanya dan di ikuti oleh Stark.
"Tuan Dax Kennedy memenangkan tender."
Stark menyodorkan dokumen di atas meja Zafran.
Tangan Zafran meraih dokumen tersebut, pria itu menyandarkan pungunggnya di kursi besar berbahan kulit, menarik dokumen itu dengan cukup kasar dan membacanya, kemudian menyeringaikan sudut bibirnya.
"Siapa yang tidak mengenal Dax Kennedy, tapi hal yang sangat aneh ketika dia dengan sadar ikut tender di perusahaan istriku, bahkan untuk perbaikan penginapan kecil."
"Apa dia selalu datang ke lokasi penginapan?"
"Ya tuan, setelah Nyonya Laura pergi, tuan kennedy juga meninggalkan tempat itu."
"Apa maksud dan tujuannya yang sebenarnya, dia bahkan belum pernah bertemu dengan Laura, atau ini hanya kebetulan?"
Zafran di penuhi pertanyaan di kepalanya.
"Awasi istriku lebih ketat lagi."
Perintah Zafran.
"Baik tuan."
Kemudian Stark pergi meninggalkan ruang kerja.
Zafran mengambil kotak perhiasan itu lagi yang di simpan di laci mejanya, kemudian melihat nya kembali.
"Melihat istriku lupa dan masih ada di kantung mantel, benda ini tidak begitu berarti baginya, tapi aku hanya berharap mereka tidak melewati batas kesabaranku."
Gumam Zafran.
Laura sedang tidur di kamar dengan pulas, tak berapa lama ponsel nya bergetar, beberapa pesan masuk dan salah satunya dari Dax Kennedy.
Dengan mata yang berat Laura meraih ponsel tersebut dan membukanya, namun karena mata Laura benar-benar mengantuk, jarinya justru memencet tombol panggil dan itu adalah nomor Dax.
"Tuuuttt..."
Tak butuh waktu lama Dax mengangkatnya.
"Ku pikir kau tidak akan pernah menelfonku."
Terdengar suara Dax dari ujung telfon, dengan tawa yang cukup datar.
Namun Dax tidak mendengar suara Laura justru hanya mendengar nafasnya.
"Astaga, apa kau tidur dan tanpa sengaja menekan tombolnya?"
Dax tertawa.
"Baiklah, ini bahkan terasa aku sedang menemani**mu tidur, dan ponsel mu pasti sedang berada di tangan serta tepat di dekat wajahmu."
Kata Dax membayangkan dam menerka.
Zafran mendengar itu ketika pria itu masuk ke dalam kamarnya. Perasaannya menggondok di penuhi emosi yang memenuhi kepalanya, api yang seakan siap meluap dan meledak.
Zafran meraih ponsel Laura, tangan kekar itu mengarahkan ponsel di telinganya.
"Kalimat mu benar-benar tidak sopan, apa kau lupa Laura sudah menikah."
Jawab Zafran.
Dax diam.
Tidak ada lagi yang berbicara, meski sambungan telpon belum terputus selama beberapa menit namun diam nya para pria justru semakin membuat suasana memanas, mereka seolah saling serang dan berperang dalam hening.
Zafran kemudian menggeser tombol berwarna merah, tangannya mencengkram kuat ponsel. Pria itu kemudian duduk di sofa dan mengecek seluruh isi ponsel Laura.
Kemudian mata liar dan penuh amarah menatap pada istrinya yang sedang tidur dengan pulas, Laura cukup lelah karena selalu bangun lebih pagi dan melakukan perjalanan 2 jam setiap harinya.
Zafran kemudian bangun dari sofa dan mendekati istrinya seolah ingin mengeluarkan seluruh kekuatan yang ada dalam tubuhnya, membuat Laura benar-benar mengerti bahwa dia adalah miliknya dan hanya miliknya. Namun Zafran memilih untuk pergi dan meninggalkan Laura. Pria itu menemani Zack bermain di ruangan anaknya.
.
.
__ADS_1
.
~bersambung~