
Maaf semua karena sistem error sepertinya bab yang terunggah akan permanen seperti itu karena sebelumnya 2 episode itu saya hapus tapi ternyata membuat novel saya error dimana ketika saya menggunggah 2 bab episode baru justru tidak bisa UP di aplikasi novel.
Kalian bisa melihat di bawah ini novel saya di draft hanya sampai di episode 82. Ini adalah screenshot dari tampilan ponsel. Namun di aplikasi novel sudah sampai episode 84.
Sedangkan untuk di tampilan Laptop episode yang saya hapus memang hilang namun urutannya loncat setelah urutan 80 dia langsung loncat di urutan 83.
Jadi 2 episode yang saya hapus bermaksud untuk mengubah episode namun setelah saya hapus ternyata membuat novel saya error tidak bisa Up episode dan ketika sudah bisa UP di aplikasi Novel, episode yang saya hapus tetap ikut di UP di aplikasi Novel. Namun di draft tetap hilang.
Mohon maaf atas alur yang jadi amburadul ini. ππ»
Semoga kalian bisa memahaminya jika sistemnya menjadi error.
Saya juga sudah memberitahukan masalah ini pada pihak NT namun sepertinya memang tidak bisa di perbaiki jadi hanya justru menimbulkan miss komunikasi terus.
Jadi saya sendiri juga bingung karena sistemnya error dan saya tidak bisa mengeditnya juga karena episodenya sudah hilang.
Di bawah ini saya sudah mengajukan permasalahan saya pada pihak NT ketika Novel tidak bisa UP episode di aplikasi novel namun di draft sudah berhasil. Namun hanya berujung miskom terus.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
DI BAWAH INI ADALAH ALUR YANG BENAR SECARA SINGKAT ππ»
EPISODE 80
Evashya berbohong pada Laura ibunya jika ia akan mengerjakan tugas bersama Camilla namun itu hanyalah alasan dan kebohongan hingga membuatnya Laura marah pada Evashya dan juga Zack.
Kemudian Laura berniat akan mencarikan tutor untuk Evashya.
EPISODE 81
Dax pulang karena pembahasan Laura membuatnya tidak nyaman, Evashya pun ikut dengan Dax karena akan mengambil laptop namun saat di apartmen Evashya menemukan ikat rambut yang lucu dan membuatnya terkejut karena pengakuan Dax bahwa itu adalah miliknya dan ia juga memakainya. Evashya khawatir dan di setiap jalan ia memikirkannya kemudian sesampainya di rumah Evashya memberitahukan apa yang ia alami saat di rumah Dax dan membuat seisi keluarga terkejut.
Setelah itu mereka pun akan merencanakan tentang liburan ke New Zealand untuk mengujungi Kate serta Edward.
EPISODE 82
Beberapa hari kemudian Isyana melihat ibunya sudah di pindahkan ke ruangan VIP dan itu membuatnya bersyukur. Dax pun memanggilnya untuk ke apartmen namun sesampainya di apartmen Dax masih rapat, ketika Isyana berkeliling ia melihat foto Dax menggendong dua anak kecil.
Tanpa di sadari Dax pun mengetahui nama aslinya adalah ALICIA BENYAMIN.
EPISODE 83
Dax yang sedang memeluk Isyana dan melalui beberapa jam panas mendengarkan cerita hidup Isyana.
Namun kemudian ia terljeut dengan kedatangan tamu yang ternyata adalah Evashya dan Zack.
Mengetahui itu Dax menyuruh Isyana diam di kamar sedangkan Dax pun membuka pintu namun Zack melihat sebuah yang juga berasal dari Hill School membuatnya yakin ada seorang gadis di apartmen Dax.
Kemudian Zack mengajak adiknya untuk pulang.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
DIBAWAH INI EPISODE ATAU ALURNYA SECARA KOMPLITNYAππ»
EPISODE 80
Mobil jemputan Camilla yang juga Evashya ada di dalam nya melaju meninggalkan sekolah. Sedangkan mobil jemputan Zack juga telah pergi.
Sesampainya di Mansion seperti biasa Laura selalu menyambut anak-anaknya. Namun alis nya mengerut ketika Evashya tidak ikut pulang bersama Zack.
"Dimana adikmu?" Tanya Laura.
"Katanya akan mengerjakan tugas bersama Camilla, Ibu tidak usah khawatir." Kata Zack tersenyum dan masuk menuju kamarnya.
Laura bukan seorang ibu yang bisa dengan begitu saja menerima alasan apapun dengan mudah. Wanita itu bergegas mengendarai mobilnya dan keluar, sembari melihat ponselnya.
Alat pelacak yang sengaja di pasang oleh Zafran di ponsel milik Evashya menunjukkan mereka menuju ke arah cafe, dan mereka memasuki cafe tersebut.
"Hmm... Mengerjakan tugas dengan Camilla ya? Ibu akan lihat tugas apa yang akan kalian kerjakan."
Laura menekan gas nya lebih dalam lagi dan perjalanan menuju Cafe yang ada di pertengahan kota pun tak terlalu memakan waktu.
Akhirnya Laura sudah tiba tepat di depan Cafe La Barca dan keluar dari mobilnya. Terlihat anaknya sedang tertawa bersama sahabatnya dan tentu saja ada beberapa pria di sana. Laura mengira usia para pria cukup dewasa jika di banding dengan anaknya.
"Para pria itu terlalu dewasa untuk menjadi teman Evashya bukan?" Kata Laura lirih dengan tatapan mata nanarnya.
Laura kemudian masuk dan bel pintu cafe berbunyi, seorang waitreess menyapa dengan ramah. Namun Laura hanya tersenyum dan berlenggang masuk menghampiri meja anaknya.
"Tugas apa yang sedang kau buat Evashya?" Laura menyedekapkan tangannya dan berdiri tepat di belakang Evashya.
"Mom... Mommy..." Evashya membelalakkan matanya.
"Panggil Ibu... Bukan Mommy...!" Kata Laura dengan tegas.
"Aku..." Evashya tidak dapat menjelaskan apapun karena tepat di hadapan Ibunya bukanlah tugas sekolah yang terhidang di atas meja, melainkan permainan dadu dan beberapa minuman bir milik para pria.
"Bukankah wajah anda tidak asing?" Tanya Laura menyipitkan matanya.
"Ehem... Maafkan saya Nyonya." Seorang pria berdiri dan memberikan hormat.
"Aku tahu kau adalah guru lukis anakku, pemandangan ini benar-benar membuat hati ku sakit, ketika seorang guru justru meminum bir di depan siswanya sendiri dan mengajak main dadu." Pandangan Laura bengis.
"Mommy akan Shya jelaskan..."
"Pulang sekarang dan Ibu akan mengadukan guru lukis mu berkaitan tentang sanksi kedisiplinan." Kata Laura mengakhiri kalimatnya dengan menyeret Evashya pulang.
"Ini di luar jam pengajaran dam di luar lingkungan sekolah Nyonya, anda tidak dapat melakukan itu." Kata Pria itu.
Namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan berbalik, Laura terhenyak dengan kalimat Mike Barcelo, ia hanya menatap nanar pada guru lukis Evashya.
"Camilla kau juga harus pulang sekarang." Laura menarik tangan Camilla.
Kini tangan Evashya dan Camilla di tarik keluar dari cafe oleh Laura dan memaksa mereka masuk ke dalam mobil, para remaja itu masuk tanpa perlawanan dan tanpa bantahan sedikitpun, hanya raut ketakutan yang ada di dalam wajah mereka.
Setelah Laura mengantar pulang Camilla, kini hanya semakin sunyi keadaan di dalam mobil. Evashya tidak bisa membayangkan akan semarah apa Ibunya. Ini adalah pertama kalinya ia berbohong.
Setelah sampai di Mansion Laura keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan sedikit kasar. Evashya mengekor dan berlari kecil di belakang ibunya.
"Jully suruh Zack turun." Kata Laura dengan ketenangan yang sangat mengerikan.
Evashya duduk di sofa dan melepaskan tas nya.
Tak berapa lama Zack pun turun dan ikut duduk di samping adiknya.
Zafran yang sedang membicarakan sesuatu dengan Dax, kemudian mengerutkan alisnya, ia tahu ada sesuatu yang terjadi.
"Baiklah siapa di sini yang mencoba untuk membohongi Ibu, Zack atau Evashya." Tanya Laura yang kemudian duduk di sofa dengan menaruh kaki kirinya ke atas kaki kanannya.
Zack melirik ke arah adiknya.
"Aku hanya ingin bersenang-senang Mommy... Jangan salahkan Zack, aku yang mengancamnya." Kata Evashya.
Laura kemudian tertawa tak percaya.
"Zack, Ibu kecewa kau tidak menjaga kepercayaan Ibu untuk menjaga adikmu, kau tahu dia punya alergi dingin dan alergi debu."
"Ini salah ku, ibu bisa menghukumku." Kata Zack.
"Jangan Mommy... Jangan hukum Zack!" Teriak Evashya dan berlutut di depan Ibunya.
"Kau ini... Panggil Ibu dengan benar... Ya tuhan!"
"Memangnya kenapa kalau Shya panggil dengan Mommy... Teman-teman yang lain memanggil ibunya dengan itu."
"Ibu geli, dengan panggilanmu yang seolah memakai nada manja dan terlalu manis.. Mooommyy..."
Terlihat Zafran dan Dax tertawa kecil melihat Laura menirukan kata Mommy dengan sedikit memanyunkan bibir dan menarik matanya ke atas apalagi dengan kepalanya yang bergoyang.
"Shya memang manis..." Kata Evashya lirih.
"Ibu akan menghukum Zack untuk tetap di rumah, kau tidak akan mengikuti karya wisata."
"Ibu... Ini tidak adil!" Kata Zack memprotes.
"Itu cukup adil karena kau membantu adikmu berbohong."
"Aku yang berbohong Mommy... Zack tidak bersalah." Rengek Evashya.
"Dan aku juga akan ikut karya wisata."
"Ibu tahu bukan, kalau aku tidak mengikuti karya wisata itu, poin dan nilai akselerasiku akan goyah." Kata Zack menerangkan.
"Kau tetap mengumpulkan karya wisata, ada paman mu ada ayahmu yang juga pebisnis handal. Lalu untuk Evashya seperti biasanya kau tetap di rumah dan tidak boleh ikut karya wisata itu!"
"Bukan itu, kita juga akan mendapat nilai dari kemandirian, bertahan hidup di alam dan menyatu dengan alam." Sahut Zack.
Sedangkan Evashya masih memanyunkan bibirnya tanda tidak setuju.
"Ibu melahirkanmu dengan susah payah kenapa kau harus bertahan hidup di alam liar ketika banyak fasilitas yang bisa kau dapatkan."
"Ibu...!" Teriak Zack.
"Zack Wickley...!" Teriak Laura balik.
"Sayang, karya wisata itu penting bagi Zack. Kau tahu, kadang anak muda perlu mengenal apa itu bertahan hidup, karena hidup ini memang keras, agar Zack tahu apa itu lapar, dingin, dan kotor."
Laura memikirkan kalimat suaminya sejenak.
"Baiklah Zack kau lolos kali ini, tapi tidak untuk lain kali."
Zack menggigit bibirnya dan tersenyum puas, melemparkan senyumannya pada ayahnya pertanda ia berterimakasih.
"Tapi untuk mu Evashya, kau tahu betapa ibu sangat kecewa? Di sela nilai-nilai mu yang berjatuhan bahkan jika di perumpamakan bangunan, hanya tinggal menunggu runtuhnya. Namun kau justru asyik bermain dengan para pria dewasa!"
"Tapi dia guru lukis ku..."
"Justru itu... Kau tidak pernah tahu orang dekat justru yang paling mematikan, seperti guru lukismu, ibu benar-benar tidak menyukai nya, pandangan matanya padamu sudah menunjukkan segalanya,..." Laura menghentikan kalimatnya.
Sedangkan Dax dan Zafran mengerti apa yang di maksud Laura.
__ADS_1
"Ibu akan mencarikan tutor untukmu..."
"Tutor?" Evashya terhenyak ia paling tidak suka jika harus belajar di bawah bimbingan seorang tutor apalagi di sekolah sudah banyak pelajaran yang menekan otaknya di rumah ia juga harus belajar di bawah bimbingan tutor.
"Ibu aku hanya ingin bersenang-senang..."
"Kau ingin bersenang-senang seperti apa? Kau tidak tahu betapa liar nya dunia di luar sana, kau seharus nya beruntung Evashya dengan segala yang kau punyai dan seharus nya kau mencontoh kakakmu, memanfaatkan segala fasilitas untuk menunjang diri jadi lebih baik dari orang lain."
"Kau mau bersenang-senang seperti gadis-gadis lain yang dengan suka rela menjual diri mereka, atau melakukan hubungan bebas dengan para pria?!" Teriak Laura.
Tiba-tiba Dax yang sedang minum tersedak, membuatnya terbatuk-batuk.
Kalimat Laura seakan mengingatkannya pada seseorang.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
EPISODE 81
Dax yang merasa pembahasan mulai sedikit mengganggunya kemudian memilih pergi.
"Paman kau mau kemana..." Tanya Evashya.
"Paman ada urusan sebentar."
"Laptop Shya tertinggal di Apartmen Paman, bisakah kita ambil sekarang?"
Laura memicingkan matanya, tak percaya baru beberapa detik yang lalu bahkan Laura belum selesai dengan kalimat dan hukumannya, anaknya sudah mulai melanggarnya.
"Mommy menyuruh Shya belajar, semua materi ada di laptop itu, kemarin saat Shya ikut paman laptop nya tertinggal." Rayu Evashya.
"Ambil dan lekas pulang!" Kata Laura berdiri dan menuju kamarnya sembari memijit kecil dahinya.
"Jangan buat Ibu kalian pusing dan sakit, okey..." Kata Zafran memberikan peringatan sembari tersenyum, pria itu membelai kepala Evashya lembut
"Iya ayah..." Evashya menjawab dengan hormat dan menegakkan tubuhnya.
Sedangkan Zack hanya mengangguk tanda mengerti dan menuju ke kamarnya.
"Paman ayo ke apartmen, sebelum Ibu berubah pikiran." Evashya menarik tangan kekar Dax keluar mansion.
Sedangkan Dax hanya bisa mengiyakan keponakan kecilnya yang paling ia sayang dan paling ia manjakan.
Di dalam kamar Laura menghempaskan dirinya di sofa yang besar dan lembut, wanita cantik itu memijat dahinya, Zafran datang dari belakang dan memijat bahu istrinya.
"Apa nyaman?" Tanya Zafran.
"Nyaman sekali..." Laura menutup mata sembari menikmatinya.
Zafran menggendong tubuh Laura ke atas ranjang dan masih memijit kaki istrinya. Perlahan dengan gerakan yang tidak terlalu kuat.
Zafran mengambil sejumput olive oil di meja dan menggosokkan di kaki istrinya, sesekali naik hingga pangkal paha dan sesekali juga membelai sesuatu yang sensitif milik Laura.
"Apa semakin nyaman..." Kata Zafran tersenyum.
"Hmm..." Desahh Laura.
Zafran melepaskan t-shirt nya, dan tubuh kekarnya semakin terbentuk karena beberapa hari ini ia lebih banyak mengambil waktu luang nya untuk melakukan gym ringan bersama Dax dan putranya.
"Sayang lepaskan bajumu, dan berbaliklah, aku akan memijat punggung dan bahu mu." Kata Zafran mengambil oluve oil nya lagi.
Laura hanya menurut dan membenarkan tubuhnya dengan tengkurap senyaman mungkin, setelah ia menanggalkan dressnya ke lantai.
Sembari memejamkan mata, Laura benar-benar meniknati pijatan Halus sang suami, pijatan lembut namun juga terasa cukup menekan.
Zafran membaluri tubuh Laura lagi dengan olive oil dan memijat punggung, bahu serta terus menuruni nya hingga kaki dan pangkal paha.
Setelah selesai dengan bagian punggung Zafran menyuruh istri nya untuk terlentang kembali dan memijat area paha depan.
"Sayang, kau belajar memijat dari mana?" Tanya Laura yang masih memejamkan mata merasakan nikmat pijatan suaminya.
"Hanya naluri saja, aku melihat mu cukup lelah, meskipun kita memiliki pelayan pribadi tentang massage tapi ku rasa aku bisa lebih membuatmu nyaman." Kata Zafran.
Tangan Zafran membelai pangkal paha istrinya dan sesekali menelusup masuk ke dalam celah underwear, membuat Laura mencengkram sprei.
Entah mengapa pijatan lembut itu berubah menjadi gerakan yang panas dan tak lama bagi mereka bergumul di atas ranjang, membuat sprei dan semuanya berserakan. Hingga akhirnya mereka menuju pelepasan yang cukup lama dan panas, kemudian mereka harus membersihkan diri bersama.
Sedangkan di tempat lain Evashya berada di apartmen Dax, berniat mengambil laptopnya dan akan segera pulang dengan seorang supir yang akan mengantarnya.
Namun ketika Evashya masuk ke dalam kamar mandi karena harus membuang air, matanya tidak sengaja melihat sesuatu. Setelah selesai dengan urusannya, gadis itu keluar dengan berlari.
"Paman, ikat rambut ini ada di kamar mandi. Kalau di lihat ini seperti..." Evashya megangkat ikat rambut berwarna pink.
Dengan cepat Dax menyambar ikat rambut itu dan memakainya.
"Kau tahu Evashya, kadang paman punya sesuatu keinginan yang aneh, contoh nya memakai ikat rambut seperti ini, bukankah ini lucu? Bentuk dan warnanya membuat paman tertarik untuk memakainya." Kata Dax tersenyum canggung.
Evashya hanya melongo dan tak bisa berkata-kata.
"Paman... Aku akan bicara pada Mommy untuk memperkenalkan seorang wanita untukmu..." Kata Evashya sembari memasukkan laptopnya ke dalam tas dan naik ke atas sofa mencium dahi pamannya.
"Aku pulang dulu paman..."
Evashya pergi dengan mimik yang cukup cemas dan prihatin.
Dax melenguhkan nafasnya dan duduk di sofa.
"Dimana aku pernah melihatnya..." Kata Evashya lirih.
Sesampainya di Mansion, Evashya berlari masuk dengan cepat dan menuju ruang makan dimana semua sudah berkumpul.
Gadis itu terengah dan duduk di kursi kesayangannya, tangan mungilnya maju menyomot beberapa makanan.
"Evashya..." Laura memelototkan matanya.
"Ganti baju mu lebih dulu, atau seharusnya kau mandi dulu." Kata Laura pelan dan halus.
"Mommy... Shya sangat lapar... Oh yaa... Mommy seharusnya paman Dax sudah waktunya menikah bukan. Shya mengerti kenapa paman tidak ingin menikah..."
"Kenapa..." Kata Zafran menyahut
"Paman memiliki kepribadian aneh... Dia..." Evashya berfikir bagaimana menyampaikannya.
"Paman memakai ikat rambut anak-anak..."
Seketika Zafran dan Zack tersedak, sedangkan Laura tanpa sengaja menumpahkan air minum yang ada di meja. Beberapa pelayan yang berdiri di dekat mereka pun datang membantu.
"Evashya, kau tahu arti kalimatmu..." Kata Zafran.
"Ayah... Aku serius. Paman Dax memakai kuncir pink sangat imut. Ayolah kalian harus menolongnya." Evashya menghentak-hentakkan kakinya, merengek.
"Besok aku akan bicara dengan paman..." Kata Zack.
"Apa kita perlu mendaftarkannya ke biro jodoh?" Tanya Zafran.
"Apa? Tidak mungkin... Dax pasti menolak sayang." Sahut Laura.
"Tapi, ku rasa... Mungkin itu hanya keinginan sesaat, mungkin dia ingin punya anak jadi memakai ikat rambut lucu..." Kata Laura lagi.
"Kurasa Dax bukan tiep pria seperti itu sayang... Dia lebih tertutup jadi memang sangat sulit menerka apa yang sedang ia pikirkan dan ia mau." Zafran berfikir serius.
"Daddy... Shya benar-benar tidak rela jika paman menjadi sesuatu yang gemulai. Paman Dax sangat tampan, bahkan jika dia adalah orang lain Shya rela berkorban demi apapun asal bisa menikahinya..." Kata Evashya sembari membayangkan Dax dengan menggenggam kedua tangannya di dada dan memejamkan mata.
Tiba-tiba Laura memercikkan air ke wajah anaknya yang sedang berkhayal.
"Bangun dari khayalanmu, dan lihat lah betapa bagusnya nilai-nilaimu..." Kata Laura.
Zafran tersenyum melihat polah tingkah anak perempuannya, sedangkan Zack masih berfikir sesuatu dalam diamnya.
Setelah makan malam selesai, seperti biasa semuanya akan berkumpul di ruang keluarga untuk sekedar menikmati waktu bersama, Evashya yang sudah selesai mandi berhambur naik ke atas pangkuas ayahnya.
"Daddy... Kapan kita akan liburan... Shya ingin ke Swiss.." Evashya berada di pangkuan ayahnya sembari mengalungkan tangan ke leher ayahnya.
"Ide bagus..." Sahut Zack sepakat dengan adiknya, ia yang sedang membaca buku nya.
Evashya membalas dengan menyeringaikan bibirnya.
"Kita ke New Zealand, kita ganggu bibi mu yang sedang bulan madu." Kata Laura yang sedang mengupas buah.
"Benarkah?! Kita akan ke tempat bibi Kate?" Teriak Evashya kegirangan dan mengambil buah apel lalu melahapnya.
Di susul senyuman Zack yang juga setuju dengan ide itu.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
EPISODE 82
Halo semuanya, kalo kalian bingung siapa itu ALICIA BENYAMIN, dia adalah anak Gaby dan juga Arnold. Kalian Bisa scrool di episode 62 paragraf akhir.
Maaf semuanya baru saya Up lagi novel ini, karena kemarin novel ini sudah saya Ending in baru setelah 2 bulan kemudian saya ON GOING in lagi.
Terimakasih untuk para pembaca setia, dan minggu depan akan diumumkan siapa pemenang Give Away TERJERAT CINTA PRIA MILIARDER.
***
Beberapa hari kemudian...
Para suster dan para dokter sedang sibuk memindahkan seorang pasien yang sedang koma ke ruangan VIP.
Seorang gadis berdiri dan menggenggam tangannya sendiri dengan cemas, setelah pemindahan selesai gadis itu berterimakasih pada mereka.
Isyana duduk di samping ibunya yang sudah terbaring cukup lama di ranjangnya, hingga biaya rumah sakit sangat membengkak dan Isyana harus membayar separuhnya agar mereka dapat melanjutkan perawatan.
Karena pikirannya yang bingung dan tidak tahu harus bagaimana teman dari ibunya memberikannya solusi bagaimana jika ia mencoba untuk melelang keperawannya.
"Ibu... Bagaimana, apa ruangan ini sekarang jauh lebih nyaman dari pada yang kemarin?" Tanya Isyana dengan mengenggam tangan ibunya.
"Ibu tahu? Ada orang baik dan memberikan pekerjaan untuk Isyana sebagai pembantu, tapi ibu tenang saja Isyana tetap menomor satukan sekolah, Isyana adalah anak ibu yang pantang menyerah."
"Ibu... Isyana mohon bukalah mata ibu dan lihatlah Isyana memakai seragam sekolah bangsawan, Isyana di terima dengan peringkat bagus di Hill School sekolah yang selalu ibu impikan untuk Isyana."
Isyana meneteskan air matanya tak sanggup melihat ibunya yang terpasang berbagai alat di tubuhnya hingga selang besar masuk ke dalam mulut ibunya. Monitor detektor jantung berbunyi untuk memantau kestabilan kondisi sang pasien.
Isyana kembali teringat saat dimana ibunya masih sehat dan mereka sedang mengais makanan di tepi jalan trotoal pejalan kaki, tepatnya di depan sebuah cafe. Saat itu tiba-tiba ibunya termenung dan melihat sekolah yang begitu besar. Ibunya berkata bahwa, adalah impiannya Isyana dapat bersekolah di tempat itu.
"Ibu... Isyana mohon, bukalah mata ibu... Hanya ibu yang Isyana punya di dunia ini, lihatlah betapa cantiknya anak ibu memakai seragam kebanggaan Hill School."
Isyana menangis di samping ibunya dan tak berapa lama seorang pengawal mengetuk pintu. Gadis itu mengusap air matanya dan pergi keluar.
__ADS_1
"Saya menjemput anda Nona..." Kata sang pengawal.
"Apakah tuan Dax?" Tanya Isyana.
Sang pengawal hanya mengangguk dengan hormat.
Isyana hanya menurut dan kemudian pergi dari Rumah Sakit menuju apartmen yang paling megah di pertengahan kota. Apartmen yang bangunannya menjulang paling tinggi dan kokoh.
Setelah sampai di Apartmen milik Dax, Isyana duduk di sofa. Gadis itu melepaskan tas nya namun ia masih memakai seragam sekolahnya.
"Dimana tuan Dax?" Kata Isyana pada sang pengawal.
"Tuan Dax sedang rapat, sebentar lagi akan selesai. Saya permisi." Kata sang pengawal dan pergi menggunakan lift.
Melihat apartmen sedang sepi, Isyana mulai bosan hanya duduk saja, gadis itu perlahan berdiri dan melihat ke sekeliling, melihat kitchen melihat ruangan-ruangan lain yang paling dekat dengannya berdiri.
Akhirnya, ada sesuatu yang membuat rasa penasarannya menyeruak. Isyana melihat sebuah foto, tepatnya sebuah figura kecil dengan kaca yang sudah retak.
Dax menggendong 2 orang anak kecil, yang satu mungkin sekitar umur 5 tahun berjenis kelamin laki-laki dan yang satunya mungkin sekitar 3 tahunan dan itu adalah seorang anak perempuan yang sangat menggemaskan. Isyana hanya menebaknya dalam hati dan pikirannya.
Ketika Isyana ingin menyentuh figura kecil yang ada di ruang keluarga itu, tiba-tiba ia terkejut dengan suara yang menyapanya.
"Jangan sentuh itu."
Suara yang cukup rendah dengan intonasi santai, suara itu tidak asing di telinga Isyana. Gadis itu berbalik dan benar saja.
"Tu... Tuan Dax. Maafkan saya." Kata Isyana ketakutan.
"Itu adalah foto kedua keponakanku, kemarin aku sempat menjatuhkannya dan kacanya retak, aku tidak mau tangan mu terluka jika menyentuhnya." Kata Dax menjelaskan.
"Biar nanti pelayan yang mengurusnya." Sambung Dax lagi.
"Jadi... Apa yang kau lakukan seharian ini." Tanya Dax.
Pria itu berjalan santai mendekati Isyana, ia membuka dasi dan kancing bajunya, kemudian menggulung lengan kemejanya.
"Saya bersekolah dan, saya mengunjungi ibu saya." Kata Isyana menunduk, ia tidak tahan dengan tatapan dan wajah tampan Dax yang memandanginya.
"Hm... Apa kau suka ruangan baru yang ku berikan untuk ibumu? Dokter spesialis terbaik juga akan merawatnya dengan baik."
Dax sudah berdiri di depan Isyana dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menunduk menatap Isyana yang masih canggung di hadapannya.
"Sa... Saya suka." Jawab Isyana terbata.
Tangan Dax perlahan menarik tubuh Isyana untuk mendekat, pria itu merantai Isyana dalam dekapannya. Tubuh kekar, dada bidang, postur tubuh yang tinggi dan juga wajahnya yang tampan membuat Isyana serasa ingin pingsan.
Jantung Isyana kembali meletup-letup, tubuhnya kembali merasakah getaran yang aneh. Bahkan ia sungguh malu, apakah Dax bisa mendengar hembusan nafas Isyana yang kini terasa sesak dan apakah Dax mendengar debar jantung Isyana yang begitu keras.
Dax kemudian membungkukkan tubuhnya dan mencium telinga Isyana, kemudian menggigit kecil, lidah pria itu sedikit bermain di sana sedangkan tangan kekar milik Dax masih mengunci tubuh Isyana.
"Kau membohongiku, ALICIA BENYAMIN..." Bisik Dax di telinga gadis itu.
Seketika kalimat Dax membuatnya membelalakkan mata, sungguh ia tidak memikirkan sebelumnya bahwa pengaruh dan kekuasaan Dax begitu besar, pria itu bisa saja dengan mudah mencari informasi tentang dirinya.
Isyana pikir itu hanyalah kisah satu malam tentang jual beli keperaawanan yang akan segera berakhir, sehingga ia menggunakan nama pemberian dari ibu sambungnya. Lagi pula ia pikir, nama ISYANA memang namanya sekarang, gadis itu hanya tidak ingin identitasnya yang sebenarnya di ketahui.
"Maa.. Maafkan saya... Sa..Saya tidak bermaksud saya pikir..."
Belum sempat Isyana melanjutkan kalimatnya, Dax meletakkan telunjuknya di ujung bibir mungil itu.
"Aku tidak peduli, namamu Isyana atau Alicia, aku hanya tidak mau kau menipuku lagi. Jangan ada tipuan apapun lagi, mengerti?" Kata Dax menatap mantap dan mengangkat dagu Isyana dengan telunjuknya.
Isyana hanya mengangguk dan menahan ketakutannya. Entah bagaimanapun pria itu berbicara, seolah ada magnet di dalamnya, membuatnya tidak dapat membantah dan hanya menganggukkan kepala. Dax tidak pernah berteriak atau memaki, intonasinya datar, santai namun setiap kalimatnya justru membuat orang merinding dan ketakutan.
"Ganti bajumu dan ikut makan denganku, kamar mu ada di sana." Kata Dax menujuk sebuah ruangan yang tak jauh dari mereka berdiri.
"Ba... Baik tuan."
Isyana masuk di sebuah ruangan yang di tunjukkan oleh Dax, ruangan yang cukup besar, gadis itu masuk dan membuka almari di walk in closet mengambil satu set baju dan setelah selesai gadis itu berjalan menuju ruang makan duduk bersama Dax.
Namun sebelum Isyana duduk, Dax sudah menyambar tangan Isyana untuk duduk di pangkuannya, membuat gadis itu sedikit memekik karena terkejut.
"Sebelum makan aku ingin memberikan sesuatu terlebih dulu..." Kata Dax berbisik di telinga Isyana.
"Ap... Apa itu... Tuan." Kata Isyana gagap.
Dax membuka perlahan kacing blues milik Isyana, dan sebuah gunung menyembul dengan sempurna, tubuh Isyana ramping namun juga cukup berisi.
"Aku ingin memberikan ini..." Dax kemudian menyesap bagian atas salah satu gunung mulus yang sudah menyembul.
Pria itu menyesap perlahan dan memberikan tanda merah di sana. Tangan kekarnya mencengkram pinggul dan punggung Isyana.
Sedangkan Isyana dengan reflek memegang kepala Dax dan mencengkram tengkuk pria itu dengan jari-jarinya, gadis itu melenguh melepaskan suara yang nyaring di telinga Dax.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
EPISODE 83
Dax sedang memeluk tubuh mungil seorang gadis hingga hanya kepala dan bahunya saja yang terlihat. Isyana nyaman dalam dekapan tubuh kekar Dax, ia terbalut selimut putih tebal dan tentunya tanpa busana.
Gadis itu telah melalui beberapa jam panas bersama Dax tanpa melampaui batas janji yang Dax berikan, bahwa ia tidak akan merenggut keperawanan gadis itu sebelum Isyana berusia 17 tahun.
"Ceritakan tentang dirimu... semuanya. Aku bisa saja mencari informasi dengan detail bahkan ukuran pakaian dalam mu, tapi aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu..." Kata Dax lirih dan masih memeluk Isyana kemudian pria itu mencium tengkuk mungil milik Isyana.
"Singkatnya, saya bukanlah anak kandung dari ibu yang sekarang terbaring di rumah sakit karena penyakit kanker, dia adalah ibu sambung saya, di dunia ini hanya dia yang saya punya. Ibu pernah bercerita, saya adalah anak dari orang kaya. Malam itu katanya hujan turun sangat lebat, seseorang mengetuk pintu rumahnya dan dia adalah temannya, katanya malam itu temannya memilih kabur dari rumah dan membawa saya pergi. Dia adalah ibu kandung saya, lalu ia menitipkan saya, katanya hanya sebentar dan dia akan segera kembali untuk mengambil saya."
"Kau tidak ingin bertemu dengan keluargamu?" Tanya Dax
"Saya pernah mencari informasi di internet tentang nama belakang saya, dan memang ada. Namun tidak ada foto apapun di sana bahkan di semua situs, lagipula jika mereka menginginkan saya pasti mereka akan mencari saya. Tapi, hingga saya berumur hampir 17 tahun, tidak ada yang pernah mencari saya, dan saya memutuskan untuk mengubah nama saya dengan pemberian dari ibu sambung saya, Dorothy Aubrey, dan Isyana Aubrey adalah nama yang kini saya gunakan."
"Jadi saya pikir, saya sudah selesai dengan mereka dan sudah memutuskan untuk menjadi anak dari seorang wanita tuna wisma."
"Dan ada satu hal lagi yang seharusnya anda tahu tuan..." Kata Isyana yang kemudian memutar tubuhnya, menghadap pada Dax.
"Saya bukanlah siswi dari Hill School, saya hanyalah penjaga perpustakaan, seorang guru sangat prihatin pada saya, dengan kebaikan hatinya saya diijinkan untuk menjadi penjaga perpusatakaan dan memakai seragam yang sama dengan mereka, melayani semua keperluan mereka tentang apa yang mereka perlukan di perpustakaan. Maafkan saya, saya sangat malu dan merasa bodoh di hadapan anda." Isyana menyesal dan menutup matanya, kemudian kedua telapak tangannya menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
"Untunglah..." Kata Dax lirih, dan melenguhkan nafasnya.
"Apa anda marah tuan..." Tanya Isyana.
"Tidak, aku tidak tidak marah."
Dax tidak marah, namun ia justru merasa lega, itu berarti Isyana tidak terlalu dekat dan tidak sering bertemu dengan kedua keponakannya, sekolah sangat luas dan perpustakaan di sana pun tidak hanya 1, apalagi banyaknya siswa pasti mereka tidak akan saling mengenal.
"Apa anda akan mencari informasi tentang saya lagi dan akan membuang saya?" Tanya isyana.
"Jika aku ingin, sudah ku lakukan dari awal kita bertemu..." Dax mengeratkan pelukannya pada Isyana dan mencium punuk kepala Isyana.
Ciuman pria itu kemudian turun hingga wajah dan bibir Isyana. Dax mencium dan menyesapnya hingga bibir kecil Isyana masuk seluruhnya ke dalam mulutnya.
Pria itu kemudian mengubah posisi tidurnya,berada di atas tubuh Isyana, menyangga tubuh kekarnya dengan lengan kiri dan tangan yang lain bergerilnya masuk ke dalam selimut mencari sesuatu yang membuat Isyana kembali tersentak.
Tubih mungil itu menegang, dadanya membusung, sedikit demi sedikit ia bisa mengikuti irama gerakan tangan kekar milik Dax.
Semakin cepat dan semakin cepat gerakan itu di bawah sana yang tertutup dengan selimut.
Isyana menjerit lirih, dan mengeluarkan kata "Ooh Ya Tuhan" berkali-kali dari mulut mungilnya.
Dax menciumi dada Isyana, memberikan banyak bekas merah di sana dan mulai turun dan terus turun membuat semua tubuh Isyana memiliki belas merah. Maha karya terbaik dari Dax.
Isyana merasakan sesuatu akan datang, tubuhnya akan bergetar kemali, seolah sengatan listrik kenikmatan siap menyetrumnya kembali, suaranya sudah semakin cepat dan keras, dadanya sudah kian membusung ketika di bawah sana ada sesuatu yang masuk seperti sebuah daging kenyal dan itu adalah lidah milik Dax.
"Ting Tong!"
"Ting Tong!"
"Ting Tong!"
Tiba-Tiba Isyana tersentak kaget, dan menarik diri. Dax pun duduk di atas ranjang, melihat siapa yang datang melalui layar monitor di dekat ranjangnya yang terpasang di dinding.
"Zack dan Evashya..." Kata Dax lirih dan mengusap wajah serta rambutnya.
"Tunggu di sini dan jangan kemana-mana." Kata Dax kemudian berdiri dan memakai baju serta celananya.
Dax pergi meninggalkan Isyana di dalam kamar sendirian, sedangkan gadis itu melihat ke arah layar monitor siapa yang mencari Dax.
"Apakah mereka siswi di sekolah Hill School, wajah mereka tidak asing..." Kata Isyana lirih.
Dax kemudian membuka pintu lift dengan pin dan sidik jarinya.
"Ting!" Pintu lift pun terbuka.
"Paman!!! Tumben liftnya di kunci!!!" Evashya masuk dengan cemberut dan akan menuju dapur mencari sesuatu.
Namun dengam cepat Dax menarik tangan Evashya dengan pelan.
"Apa kau mau makan? Teman paman membuka restoran baru dan banyak makanan kesukaanmu apa kau mau mencobanya?" Kata Dax menarik nafasnya.
Sedangkan Zack melihat tingkah pamannya sangat aneh ia pun curiga, dan pandangan matanya tanpa sengaja melihat sebuah tas wanita, tidak itu adalah tas sekolah siswi Hill School.
"Evashya kita harus pergi." Kata Zack dengan santai, kedua tangannya ada di dalam saku celana.
"Kenapa?!! Kita baru sampai!!!" Kata Evashya berteriak.
"Kau punya banyak tugas sekolah, ayo!" Kemudian Zack menarik adiknya dengan cara memeluk lehernya dan memitingnya untuk pergi dan masuk ke dalam lift.
"Maaf paman sudah menganggu, nikmati dan lanjutkan saja!!!" Kata Zack menyeringai kan senyumannya.
"Hey...!!! Apa maksud kalimatmu!!!" Teriak Dax.
Dan pintu lift pun menutup bersamaan ketika Zack mengedipkan satu matanya.
"Dasar anak-anak nakal..." Dax meremas tengkuknya dan kembali ke dalam kamar.
Dax melihat kamarnya kosong, Isyana tidak ada di ranjangnya. Kemudian pria itu mendengar auara gemericik air.
Langkah kakinya pelan menuju kamar mandi, kemudian ia membukanya dan terlihatlah Isyana sedang berada di bawah guyuran shower. Terlihat bagaimana postur tubuh gafis itu sangat bagus.
Dax masuk dan membuka bajunya, kemudian masuk bergabung membuat Isyana yang sedang menutup mata dan mengguyur rambutnya pun terkejut.
"AAAKHH!!!" Isyana terkejut dan memekik tatkala Dax memeluknya dari melakang dan kemudian tangan kekar itu merangkup dua gunung yang kokoh dan terlihat sangat menggodanya.
"Aku benar-benar tidak sabar..." Bisik Dax di telinga Isyana.
Pria itu ingin segera melahab habis Isyana, bagaimana ia bisa tahan jika setiap hari ada hidangan yang membuatnya kelaparan.
TERIMAKASIH DAN MOHON MAAF ππ»
__ADS_1