
Pesta pertunangan Zafran akan dilaksanakan beberapa hari lagi, Laura merasa sangat gugup bahkan ia merasa gemetar dan tubuhnya tidak nyaman.
Gadis itu duduk di dekat Zafran yang sedang bekerja memakai laptopnya.
"Aku panggilkan dokter."
Kata Zafran.
"Tidak aku hanya gugup Zafran."
"Apa kau mau minum?"
"Tidak juga, aku akan terus-terusan ke kamar mandi nanti jika terlalu banyak minum."
Kata Laura.
"Kalau begitu, bagaimana jika kau ikut mendesain kolam ikan yang kau mau? Aku akan panggilkan arsitek nya."
Zafran mencoba membuat Laura nyaman agar tidak memikirkan kegugupannya.
"Apakah boleh?"
"Tentu saja."
Kata Zafran tersenyum.
Zafran memanggil seorang arsitek ternama, dan tak butuh waktu lama arsitek terkenal dengan umur yang tidak muda lagi, sudah datang.
"Selamat siang Tuan Zafran, dan Nona, saya yang akan membantu anda untuk mendesain kolam yang anda inginkan."
"Selamat datang kembali Frank Van Der Roch."
Kata Zafran menyapa.
"Bantu Laura untuk menggambar apa yang ia inginkan."
"Dengan senang hati tuan Zafran."
Kata Frank.
"Nikmati waktu mu sayang."
Kata Zafran mengusap kepala Laura, ia pergi meninggalkan mereka dan kembali ke ruang kerjanya.
Frank kemudian duduk bersama Laura, mereka sama-sama tenggelam dalam imajinasi masing-masing, Laura memberitahu gambaran-gambaran apa yang ia inginkan dan Frank kemudian mulai menggambarnya. Cukup lama mereka berbincang dan saling bertukar pendapat serta pandangan.
Hingga sore hari mereka sudah saling menyelesaikannya. Frank kemudian menunjukkan hasil nya pada Zafran.
"Hmm... Aku terkesan."
Puji Zafran puas.
"Nona Laura sangat mengagumkan, ide dan imajinasinya bahkan sangat unik."
"Ya, dia juga lah yang mendesain Mansion ini."
Kata Zafran.
"Benarkah? Itu sangat menakjubkan, anda masih muda, cantik dengan jiwa yang kuat dan juga bersemangat."
Kata Frank memuji Laura.
Tak lama mereka saling berbincang, dan akhirnya Frank pergi berpamitan karena tugasnya telah selesai, sedangkan Laura mengagumi hasil desain nya bersama Frank.
"Apa kau senang?"
Kata Zafran.
"Ya ini sangat menyenangkan."
Laura tersenyum pada Zafran kala itu ia sedang duduk di ruang museum kenangan.
Sinar matahari senja memancar masuk melalui jendela, membuat senyuman Laura berkilau.
"Aku ingin sekali memakanmu."
Kata Zafran yang berdiri di depan Laura dengan satu tangannya berada di saku celana.
"Memakanku?"
__ADS_1
Laura mengulangi kalimat Zafran dan terkejut.
"Memakan dan melahabmu sampai habis, senyumanmu selalu menyihir ku."
Kata Zafran menarik Laura dalam pelukannya dan menggelitik perut gadis itu.
"Aa... Aaahkk.... Zafran... Geli... Zafran...!!!"
Kata Laura berteriak dan tertawa.
Kemudian mereka berpelukan satu sama lain, saling mengecup bibir dan saling menggigit kecil.
"Aku ingin menemui ayah dan ibu."
Kata Laura yang masih dalam pelukan Zafran.
"Aku akan menemanimu, hari ini kita berangkat."
Zafran membelai kepala Laura dan mencium kening gadis itu.
Laura sudah siap, ia memakai dress warna hitam sepanjang lutut, sedangkan Zafran juga memakai setelan jas berwarna hitam pula, iring-iringan mobil membawa mereka menuju pemakaman umum.
Di perjalanan tiba-tiba hujan mengguyur dengan deras, membuat perjalanan sedikit terganggu karena hujan sangat lebat dan menggangu pandangan.
"Apa kita kembali saja."
Tanya Laura.
"Apa kau yakin? Kita hampir sampai."
Tak berapa lama mobil memasuki gerbang utama yang besar.
"Tuan, kita sampai."
Kata sang sopir.
"Kita sudah sampai sayang, kita gunakan payung."
Laura sedikit ragu mengingat hujan semakin deras kilat pun menyambar.
"Seharusnya ini musim panas bukan?"
"Kita pulang saja, perasaanku tidak enak."
Kata Laura.
"Kita sudah sampai sayang, tidak apa-apa banyak pengawal akan berjaga."
"Kita tunggu dulu sampai hujan reda Zafran."
"Baiklah apapun yang kau mau."
Akhirnya mobil hanya terus terparkir dan mereka semua masih menunggu hujan reda, cukup lama mereka menunggu dan tak sia-sia.
Hari sudah malam, hujan pun reda, meski masih gerimis namun tidak terlalu deras.
Laura keluar dari mobilnya dengan Zafran yang memegang payung agar Laura tidak kehujanan.
Semua pengawal tersebar untuk berjaga.
"Ayah Ibu..."
Kata Laura, suaranya tiba-tiba tercekat karena ia menahan tangis, kemudian gadis itu melanjutkannya.
"Ayah Ibu, aku hidup dengan baik, Zafran menjagaku dengan baik, dan penginapan sekarang sudah aman. Kalian harus bahagia di sana, jangan mencemaskan ku lagi."
Laura menangis dan Zafran memeluknya, pria itu berada di samping Laura.
Kemudian Laura memberikan bunga mawar yang melambangkan penghormatannya pada kedua orang tuanya.
Setelah cukup lama Laura melepaskan kerinduan pada orang tuanya yang selama ini ia pendam, mereka kemudian beranjak pergi meninggalkan makam.
Mobil-mobil memecah jalanan yang lengang,mungkin karena hujan membuat banyak orang malas keluar.
"Kenapa ada 3 bunga layu di sana Zafran."
Tanya Laura.
"2 punyaku dan 1 lagi kau pasti tahu punya siapa."
__ADS_1
Jawab Zafran datar.
Laura memandang Zafran dengan mengerutkan alisnya, meminta jawaban.
"Milik Luwis."
Jawab Zafran datar.
"Luwis? Dia tahu dari mana?"
Tanya Zafran.
"Aku juga sedang mencari tahu, Stark belum menghubungi."
Jawab Zafran.
"Mari jangan membicarakannya, aku tidak suka kau menyebutkan namanya dan membahas pria lain denganku."
"Kenapa kau paraonid sekali Zafran."
"Berpisah dengan mu menjadikan ku seperti ini."
"Maafkan aku..."
Laura kemudian memeluk Zafran dan pria itu juga membalas pelukan Laura.
Malam sudah larut dan Laura sudah tidur di kamarnya, sedangkan Zafran masih menjaga Laura di dekat ranjang gadis itu.
Zafran duduk menggunakan kursi dan menggenggam tangan Laura, tak berapa lama ponselnya bergetar. Pria itu berdiri dan membuka pintu balkon kemudian menutup nya dengan pelan, ia tidak ingin membuat Laura terbangun.
"Katakan Stark."
Kata Zafran.
"Kita tidak bisa menyuruh Alex pulang tuan, jasadnya di temukan mengenaskan di pabrik terbengkalai, dan ada yang membantu Gaby melarikan diri semua pengawal pingsan Maafkan saya tuan, saya menyesal."
"Apa kau tahu siapa orangnya."
"Sepertinya orang dalam, dia tahu cara membuka kode ruang bawah tanah."
"Apakah Edward?"
"Saya belum pastikan tapi segera saya beri kabar tuan."
Zafran menutup ponselnya, dan mencengkram kuat ponsel tersebut.
"Seharus nya ku bunuh wanita itu lebih awal!"
Zafran geram dan meradang, emosi yang timbul membuat rahangnya bergerak, mulutnya mengatup rapat.
Kemudian Zafran melihat ke arah Laura, tidak ada ketakutan yang jauh lebih besar di banding kehilangan Laura, ia ingin Laura bahagia bersamannya.
"Aku mengganggap remeh Gaby, dan semua kejadian yang menimpa Laura adalah dari buah kesalahanku."
Zafran kemudian memukul dinding hingga tangannya berdarah, melampiaskan kebodohan dan kecerobohannya.
"Zafran... Apa itu kau?"
Tanya Laura dengan mata sayup dan masih mengantuk.
Zafran kemudian masuk dan menyembunyikan tangannya yang berdarah di balik tubuhnya.
"Maaf aku membangunkanmu, aku berniat mencari angin."
"Baiklah, aku akan tidur lagi."
Kata Laura dan membaringkan tubuhnya lagi.
"Selamat tidur."
Zafran mencium kening Laura dengan tangan masih di belakang tubuhnya.
.
.
.
~bersambung~
__ADS_1