Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
-EPISODE 68-


__ADS_3

Beberapa jam dan dua pasang manusia yang di penuhi oleh gairah masih saling berguling dan saling menekan satu sama lain, mereka liar di atas ranjang, saling menunjjukkan kekuatan, seolah tidak ada satupun diantara mereka yang akan mengalah.


Tubuh Kate menegang kembali, untuk kesekian kalinya ia merasakan puncak kenikmatan yang Edward berikan padanya.


Hingga akhirnya Edward juga mencapai puncak kenikmatannya, menggeram dan menekan tubuh Kate lebih dalam karena pelepasan nya yang sempurna.


Akhirnya mereka saling berbaring dan saling memeluk satu sama lain di atas ranjang, tidur dengan lelap karena keletihan.


***


"Drrrtt... Drrttt... Ddrrrt..."


Ponsel yang bergetar berulang kali di atas meja membuat Kate terbangun, ada beberapa pesan masuk pasti dari managernya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


Selimut putih yang tebal masih berada di tubuhnya, Kate bangun dan duduk memegangi kepalanya yang sedikit pusing, melihat bajunya berserakan di lantai sontak membuatnya mengingat rekaman panas kejadian tadi malam.


Kate melihat ranjang di sebelahnya sudah kosong, Edward sudah pergi dari apartemennya.


Ya, itulah yang harus dilakukan, ketika sepasang pria dan wanita yang tidak memiliki hubungan apapun dan mereka bercintaa, salah satunya harus pergi lebih dulu agar keesokan paginya ketika membuka mata tidak ada perasaan canggung dan rasa bersalah.


Kate beranjak dari ranjang, kaki dan tubuhnya yang telanjang berjalan menuju kamar mandi, kaki kurus dan jenjang itu sedikit gemetar.


"Ini pertama kalinya seorang pria membuat kaki ku gemetaran, dia luar biasa."


Kata Kate lirih dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat.


Kate membilas seluruh tubuhnya, mengeramas rambut nya danmenutup mata, sekilas bayangan Edward yang penuh peluh keringat saat berada di atasnya tadi malam, muncul di pikirannya dan sontak ia mematikan kran shower.


"Apa itu tadi?"


Kata Kate kebingungan, jantung nya berdegup.


"Tidak mungkin aku memikirkannya, itu hanya hubungan satu malam yang saling membutuhkan."


Kate menelan ludahnya kasar.


Bukan hal aneh di Inggris ketika remaja di usia 19 tahun mereka sudah memiliki hubungan yang intim, dan Kate adalah salah satunya.


Umur 19 tahun mereka sudah memilik hak penuh atas diri mereka sendiri, dan di umur 19 tahun mereka harus bisa hidup mandiri.


Kate keluar dari kamar mandi dan memandangi seluruh tubuhnya, beberapa bekas merah yang cukup banyak ada di tubuh dan dadanya, tanpa sadar bibir Kate tertarik dan tersenyum, wajahnya bersemu merah, ia membayangkan Edward lagi.


"Ku pikir Edward cukup tampan dan dia sangat kuat."


Kata Kate meracau tanpa sadar kemudian tawa dan senyuman itu pudar dengan cepat.


"Aku sudah gila."


Kate memfokuskan untuk cepat berpakaian dan menuju lokasi dimana ia akan melakukan syuting.

__ADS_1


Di dalam mobilnya, Kate menyetir dengan pikiran yang entah kemana, wanita itu terus mengingat panasnya ranjang tadi malam.


Kate tersentak ketika lampu merah sedang menyala, kemudian wanita itu berhenti di depan traffic light dan memberanikan diri memencet tombol di mobilnya yang terkoneksi dengan ponselnya.


"Halo..."


Kata seorang pria di ujung ponselnya.


Kate gugup dan dia menjawab asal.


"Maafkan aku Edward aku salah memencet tombol, ku kira nomor managerku."


Kata Kate gugup dan menggigit bibirnya, kemudian mengakhiri panggilan tersebut.


Lampu hijau menyala Kate melajukan mobilnya menekan gas lebih dalam berharap Edward dapat terhempas dari pikirannya.


Sedangkan di tempat lain Edward sedang mengadakan meeting bersama para pegawainya, pria itu terlihat sedikit kecewa mendengar bahwa Kate hanya salah memencet tombol.


"Sampai mana kita tadi?"


Tanya Edward.


Semua saling berbisik, saat Edward mengangkat ponselnya di tengah-tengah rapat, biasanya dia adalah pria yang paling tidak suka di ganggu saat rapat berlangsung, pun panggilan dari ponselnya sendiri, meski ponselnya berulang kali bergetar Edward tidak akan menjawab.


Setelah beberapa jam lamanya rapat telah selesai Edward melihat ponselnya dan ingin memencet tombol hijau pada nomor Kate, namun ibu jarinya memilih untuk menutup kembali ponsel dan ia memasukkannya ke dalam saku jas nya.


"Tuan Nona Kate ada di ruang tunggu dan ingin bertemu dengan anda."


Edward mempercepat langkahnya dan dengan dada yang gemuruh, bertanya-tanya ada apa Kate datang, apakah ada sesuatu yang terjadi.


Edward membuka dengan cepat pintunya, raut wajahnya terlihat cemas, membayangkan wajah Kate yang menangis, dan pria itu siap menjadi pahlawan pertama untuk Kate. Namun pikiran itu seolah di hempaskan dengan cepat oleh angin dingin yang menerpanya, ketika melihat sosok Kate yang duduk bersama seorang sutradara. Dan tentunya dengan kondisi yang sangat baik-baik saja, senyuman lebar dan sumringah terukir di wajah Kate.


*kwwookkkkk~~~~ ( burung gagak lewat )


"Apa kau baru saja berolahraga?"


Tanya Kate keheranan, yang melihat wajah Edward penuh keringat dan kecemasan, apalagi tubuhnya tegang.


"Ya, tadi sedikit berlari kecil."


"Ya Tuhan.. Betapa tampan dan tinggi tubuh sempurna ini..."


Kata Sang sutradara berdiri dan mengagumi sosok Edward.


Pria itu memicingkan matanya dan menjauh lalu duduk di kursinya.


"Sutradara memintaku untuk bertemu denganmu, katanya ia ingin meminta ijin untuk melakukan syuting di perusahaanmu."


Kate merasa canggung.

__ADS_1


"Dia... Tahu kita cukup dekat."


Kate meringis.


"Boleh terserah kalian, mau syuting dimana."


"Apa bisa di ruang kantin karyawan dan di ruang rapat? Kate pemeran utama sebagai istri seorang presdir yang di selingkuhi."


Kata sang sutradara.


"Khem!"


Edward berdehem mendengar peran Kate.


"Boleh."


Kata Edward cepat.


"Benarkah?"


Kate membelalakkan matanya, tak percaya.


Sedangkan sang sutradara juga sangat bahagia, sutradara itu bernama Jeniffer namun orang-orang memanggilnya Jeje.


"Terimakasih Edward."


Kata Kate tersenyum


"Terimakasih Tuan Edward tadinya jika anda tidak mengijinkan, kami akan mencoba untuk meminta ijin pada tuan Zafran melalui teman Kate yang bernama Nyonya Laura. Tapi anda sudah mengijinkan aku sangat bersyukur."


Jeje berterimakasih dengan girang dan melipatkan tangannya.


Edward tidak menjawab dan memilih untuk pergi kembali ke ruangannya sendiri. Mendengar Jeje menyebutkan nama tersebut, bagi Edward Laura masih memiliki hatinya dan membekas kan luka yang dalam karena Zafran telah menjadi suaminya.


Edward terkurung dengan ucapan janjinya sendiri pada Zafran ketika pria itu ada di rumah sakit, dan ketika Edward selesai berjanji saat itulah Zafran membuka matanya, ia berdiri dengan gagah dan akan benar-benar menagih janji itu.


Edward tercengang kala itu ketika Zafran dapat bangun serta berdiri dengan tubuh yang sehat, dan mulai saat itulah Edward tahu, persahabatan mereka jauh lebih kental, Edward merelakan perasaan sakit nya mencintai Laura dan sakitnya melupakan Laura demi Zafran.


"Aku harus benar-benar berjuang melupakan Laura, atau aku akan tenggelam lebih dalam lagi."


Edward kemudian membakar foto Laura di atas perapian, api di atas meja marmer Edward yang ada di ruangannya.



.


.


.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2