Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
-EPISODE 36-


__ADS_3

Zafran berdiri di depan pusara kedua orang tua Laura di belakangnya beberapa pengawal bersiaga.


"Seperti janjiku pada kalian waktu itu, saat aku datang untuk pertama kalinya kemari, aku akan menentukan pilihan bagaimana perasaanku yang sesungguhnya pada Laura. Dan aku memutuskan akan menjaga Laura dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku akan membahagiakan dia hingga ia lupa cara menangis, aku akan membuatnya selalu tersenyum hingga ia lupa apa itu bersedih."


Kemudian Zafran meletakkan bunga gladiol di pusara kedua orang tua Laura.


"Seperti makna bunga gladius yang ku berikan ini, aku akan menjaga Laura dan mencintainya dengan ketulusan, kemurahan hati, dan menjaga semua kenangan kami, serta pendirian yang teguh pada janji ku sendiri untuk selalu menjadikan Laura wanita satu-satunya dalam hidupku."


"Semoga kalian bisa tenang di sana."


Zafran kemudian berbalik dan berniat pergi namun, beberapa mobil juga berdatangan di area halaman pemakaman, mobil-mobil tersebut terparkir rapi.


Terlihat Luwis keluar dari mobil dengan penjagaan yang ketat pula. Melihat Zafran yang baru saja selesai menjenguk, Luwis menaiki tangga dan berpapasan dengan Zafran.


"Aku akan merebut Laura darimu, kali ini aku tidak akan ragu-ragu."


Kata Luwis tanpa melihat Zafran sedangkan pandangan Zafran juga masih lurus ke depan.


"Kau bisa mencoba nya sekuat mungkin, bahkan saat aku adalah pria miskin kau masih tidak bisa merebutnya, jadi, apa yang membuatmu sekarang lebih percaya diri mampu merebut Laura?"


Kata Zafran sembari melirik Luwis.


"Kau tidak layak untuk Laura!"


Sahut Luwis dengan geram.


"Menurut mu siapa yang lebih layak? Apa itu kau?!"


Zafran menjawab dengan senyuman mencemooh.


"Berjuanglah sungguh-sungguh, jangan mengecewakanku..."


Tantang Zafran.


Kali ini Luwis tersulut dengan perkataan Zafran dan menarik kerah baju Zafran, membuat semua pengawal menjadi saling siaga.


"Aku akan membunuhmu, jika kau menyakiti Laura."


Ancam Luwis.


"Hah.. Drama apa yang sedang kau mainkan? Di sini tidak ada Laura, kenapa masih sok pahlawan."


Zafran tersenyum penuh ejekan.


Luwis hampir melayangkan pukulannya pada Zafran.


"Kau bahkan tidak menghormati orang yang sudah mati, apa kau benar-benar ingin mengajakku berkelahi?"


Luwis melepaskan cengkramannya, dan Zafran juga melepaskan cengkramannya pula.


"Aku tidak punya waktu menemanimu bermain, Laura sudah menungguku pulang."


Zafran menuruni tangga dan masuk ke dalam mobilnya.


Sedangkan di tempat lain Laura sudah mulai memasak bersama para pelayan. Gadis itu mudah akur dengan mereka karena beberapa ada yang seumuran dengannya, dan Laura senang memiliki teman untuk mengobrol.


Terdengar suara mobil Zafran telah memasuki halaman Mansion, dan Laura terlihat senang, gadis itu ikut menyapa di barisan para pelayan.


"Apa yang sedang kau lakukan?"

__ADS_1


Tanya Zafran.


"Menyapamu seperti mereka."


"Astaga, kau bukan pelayan kenapa ikut berbaris?"


"Aku tidak tahu..."


Laura tertawa diikuti oleh Zafran yang juga tertawa.


"Lain kali jika ingin menyambut ku pulang tunggu aku tepat di depan pintu, dan jangan lupa berikan aku... Kecupan."


Goda Zafran sembari berbisik di telinga Laura dan pergi menuju kamarnya.


"Kecupan...?"


Laura memegangi kedua pipinya dengan tangan dan merasakan hawa panas serta wajahnya merona seperti terbakar.


"Kenapa hanya berdiri ayo ikut denganku."


"Kemana Zafran?


"Ikut saja."


Laura kemudian menaiki tangga dan menyusul Zafran yang sudah mengulurkan tangannya, dengan senang hati Laura pun menyambut.


Zafran membawa Laura ke ruang kerjanya, dan kemudian mengambil beberapa dokumen.


"Duduklah."


Kata Zafran meminta Laura untuk duduk di kursi kerjanya yang besar dan terbuat dari kulit.


"Ini dokumen penjanjian kita."


"Apa yang kau lakukan..."


Laura membelalakan matanya, terkejut.


"Perjanjian kita selesai..."


"Lalu penginapan itu..."


Kata Laura cemas.


Kemudian Zafran mengambil beberapa dokumen lagi dan sedikit duduk di atas meja dengan kaki masih menyentuh lantai, ia sangat tinggi.


"Ini dokumen penginapan, dokumen rumah lama mu, dan dokumen lahan yang di sita oleh bank, semuanya sudah menjadi atas namamu."


"Apa kau senang sekarang?"


Laura hanya diam memandangi beberapa dokumen di hadapannya, ia tak bergeming, ia bingung bagaimana mengekspresikan nya.


"Apa kau sakit? Katakan sesuatu Laura..."


"A... Aku bermimpi kan?"


Laura mendongakkan wajahnya pada Zafran.


Zafran kemudian menundukkan tubuh dan punggungnya untuk mencium bibir Laura dan menggigitnya pelan.

__ADS_1


"A.. Aahkk.. Sakit Zafran!"


"Berarti kau tidak bermimpi."


Kata Zafran.


Laura terharu dengan semua pemberian Zafran, gadis itu berdiri dan memeluk Zafran dengan sangat erat.


"Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih Zafran."


Kata Laura berulang ulang mengucapkan terimakasih nya pada Zafran sembari memeluk pria itu sangat erat, gadis itu harus berjinjit dan Zafran masih harus menundukkan punggungnya.


Zafran mengangkat tubuh Laura dan pria itu duduk di kursinya, kemudian mendudukkan Laura di pangkuannya.


"Dengarkan aku Laura... Kau masih murni, dan kau harus tahu sesuatu, bahwa semenjak kau meninggalkanku, aku menjadi terpuruk dan saat uang terus mengalir ke rekening ku, aku justru merasa hampa, entah apa lagi yang harus ku kejar, semua sudah ku miliki bahkan kapal pesiar milik Philip yang kau anggap mewah itu bukan apa-apa bagiku, pulau yang kau anggap besar dan Resort yang kau bilang mewah aku mempunyai semua itu dan kau tidak akan percaya jika ku beritahu berapa banyak."


"Saat semua sudah ku miliki, namun hatiku justru pergi entah kemana pada saat itulah aku memilih bersenang-senang dengan beberapa wanita, ku pikir itu bisa membuatku melupakanmu dan mereka bisa menggantikan posisimu di hatiku, namun ternyata semua itu justru membuat ku semakin muak dan kehilangan arah."


"Kau bisa memilih antara kau tetap bersamaku atau kau bisa kembali ke kehidupanmu, jika kau memilih untuk pergi dariku, aku akan tetap mengejarmu hingga kau mau tetap berada di sisiku."


"Sepertinya itu bukan pilihan Zafran, secara tidak langsung kau mengancamku untuk memilih tetap bersamamu."


"Bukan mengancam Laura, aku memohon. Maafkan aku Laura, aku egois tapi aku sangat mencintaimu."


Kata Zafran kemudian memeluk pinggul Laura dan menyandarkan dahi dan kepala nya di bahu Laura.


"Aku putus asa, aku tidak bisa kehilanganmu lagi."


"Aku... Ingin merealisasikan impian kita."


Kata Zafran kemudian menatap mata Laura.


"Apa itu."


"Menikahlah denganku Laura."


Kata Zafran lugas dan penuh keyakinan.


Laura merasa dirinya di tarik kembali untuk mengulang ingatan bagaimana pertemuannya dengan Zafran dan bagaimana ia melihat Zafran melindunginya saat Ramon mencoba untuk memperkosannya.


Kalimat Zafran juga menyeretnya untuk mengingat kembali kenangan-kenangan bersama Zafran yang manis dan juga tragis, terlalu banyak memori dan tidak semudah itu untuk dilupakan.


Sedangkan Zafran masih menunggu, jawaban apa yang akan Laura berikan, pria itu tahu, Laura pasti terkejut dengan lamarannya namun ia sudah tidak bisa menahannya lagi, ia tidak ingin kehilangan Laura untuk kesekian kalinya, ia ingin mengikatnya dalam ikatan pernikahan, janji sakral sehidup semati.


Pria itu juga ingin memastikan bahwa Laura akan selalu aman di bawah pengawasannya.


"Menikahlah denganku Laura."


Zafran mengulangi kalimatnya lagi.


"Bu-bukankah ini terlalu cepat Zafran?"


Kata Laura.


"Tidak, kita sudah pernah berpacaran dan kita sama-sama tahu bagaimana perjuangan kita dulu dan sekarang."


.


.

__ADS_1


.


~bersambung~


__ADS_2