Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASON 2 -


__ADS_3

Zack bangun dari tempatnya merebahkan diri dan duduk menghadap Isabella. Tangannya meraih wajah Isabella dan menghapus air mata yang jatuh di kedua pipi Isabella.


"Kau terlalu sering menangis."


Isabella masih diam dan menunduk.


"Kau harus bisa melalui ini semua, kau akan melanjutkan perguruan tinggi dan mari mendapatkan gelar bersama-sama." Kata Zack memberikan semangat pada Isabella.


"Aku tidak tahu, sepertinya aku tidak akan berhasil."


"Aku akan melindungimu, ku pastikan itu. Hm?" Kata Zack.


"Aku..."


"Kau harus masuk perguruan tinggi dan kita bisa meraihnya bersama-sama." Zack meyakinkan Isabella.


Namun Isabella masih bimbang, ia tidak tahu harus menjawab apa, semangatnya semakin hari terasa semakin memudar dan seolah kakinya semakin berat untuk berjalan melangkah.


"Hm..." Zack mengangkat alisnya menunggu jawaban Isabella.


Kemudian Isabella pun mengangguk pelan.


Zack tersenyum dan mengecup mata Isabella yang basah.


"Kau tidak akan masuk melalui jalur beasiswa, aku akan membantumu membiayayai sekolah mu di perguruan tinggi."


Isabella mengangkat wajahnya dan menatap intens pada wajah tampan Zack.


"Kau bercanda..." Kata Isabella.


"Kau harus bersyukur memiliki pacar kaya." Kata Zack menyeringaikan mulutnya.


"Tapi aku tidak mau Zack, aku tidak ingin orang mengira aku memanfaatkanmu atau sebagainya."


"Aku akan mengurus mulut-mulut mereka, yang sekarang harus kau pikirkan kan adalah belajar dengan keras agar bisa masuk perguruan tinggi yang sama denganku." Zack membelai kepala Isabella dengan pelan.


"Tapi..."


Zack kemudian mengecup bibir Isabella.


"Ku pikir..."


Zack mengecup lagi bibir Isabella.


Isabella tidak lagi bisa menahan senyumannya.


"Jika kau mengucapkan sesuatu lagi tentang penolakan berarti kau meminta ku untuk menciummu lebih dari itu." Kata Zack.


Isabella pun menutup mulutnya menekuk memasukkan ke dalam, sesekali senyumannya lolos dari mulutnya.


Zack menarik Isabella untuk berbaring di dekatnya.


"Aakk...!! Zack...! Apa yang kau..."


"Diam sebentar..." Kata Zack lemah.


"Tapi.."

__ADS_1


"Ssst... Sebentar saja." Zack mengecup tengkuk Isabella.


Saat itu Zack memeluk Isabella dari belakang.


"Nyaman kan..." Bisik Zack.


Isabella hanya mengangguk pelan.


"Aku ingin tidur sebentar, jangan kemana-mana dan tetap diam seperti ini." Bisik Zack lagi.


Isabella tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan membalas pelukan tangan Zack yang berada di depan dadanya, apalagi hembusan nafas Zack di tengkuknya, benar-benar membuatnya merasa nyaman dan seolah dalam perlindungan kuat kendali Zack Wickley Volkofrich.


Hingga akhirnya beberapa menit kemudian Zack pun tertidur pulas, semua itu karena efek obat yang ia konsumsi. Isabella dengan pelan menyingkirkan tangan berat milik Zack dan menutup tubuh Zack dengan selimut.


Gadis itu meraih tas nya dan memakainya, kemudian merapikan seragamnya dan juga rambutnya.


Sebelum pergi Isabella mengecup kening Zack yang sudah pulas tertidur di atas ranjang empuknya.


"Aku mencintaimu Zack." Bisik Isabella pelan.


Kemudian Isabella keluar dari kamar Zack dan menuruni tangga. Namun saat itu Mansion benar-benar terlihat sepi, hanya beberapa pelayan yang terlihat membersihkan tempat-tempat tertentu.


"Nona ini titipan dari Nyonya Laura." Kata sang pelayan memberikan beberapa kotak makanan.


"Terimakasih tapi dimana Nyonya?"


"Nyonya ada di kamar sedang tidak enak badan. Saya permisi." Kata sang pelayan undur diri.


Isabella mendongak ke atas untuk beberapa saat dan kemudian pergi meninggalkan Mansion untuk kembali pulang ke tempat asalnya. Ke tempat dimana ia harus tidur dan kembali pada aktifitasnya yang sebenarnya.


Isabella duduk di angkutan bus yang melaju mengantarkannya kembali pulang, ia memandangi lampu-lampu malam melalui jendela bus dengan paper bag berisi beberada kotak makanan berada di atas pangkuannya. Gadis itu seolah menjalani 2 tempat berbeda yang membuatnya berada di atas awan lalu terjun bebas kembali ke asal.


****


Apartmen Pierre Town...


Malam itu Dax kembali dengan Isyana ke apartmen miliknya, Saat itu mereka bercanda dan saling mengobrol, tertawa dan saling menggoda.


"Apa kau senang?" Tanya Dax saat mereka ada di dalam lift menuju apartmen.


"Terimakasih tuan, sangat menyenangkan, dan Isabella pasti mencari saya karena hari ini saya tidak masuk."


"Kau akan menjelaskan padanya jika berlibur denganku."


"Tidak mungkin." Kata Isyana malu.


Dax mendongakkan wajah Isyana dan mencium bibir Isyana. Mereka saling berpagut dan saling menekan.


Pintu lift pun terbuka, Dax menggendong Isyana menuju sofa dan membaringkannya di sana.


Dengan liar Dax menciumi leher Isyana menyesapnya dan membuka beberapa kancing baju.


"Sa..Saya haus tuan." Kata Isyana.


"Hmm... Sekarang kau sudah berani memberikan alasan." Kata Dax.


"Bukan begitu... Apa anda tidak lelah, kita hampir beberapa kali melakukannya, bahkan di pesawat dan terakhir kali di mobil saat perjalanan kemari..." Kata Isyana tersenyum malu.

__ADS_1


Dax pun tersenyum dan berdiri, ia berkacak pinggang mempersilahkan Isyana untuk minum.


Kemudian Isyana menuju ruangan tengah dan mengambil air untuk minum, namun lagi-lagi Dax datang dan mencium Isyana dari belakang ketika Isyana sedang meneguk air.


Dax menyesap tengkuk dan bahu Isyana menambah jumlah tanda merah di tubuh Isyana, membuat Isyana berpegangan pada meja marmer dan melenguhkan nafasnya.


Isyana menaruh gelasnya di atas meja marmer, dan menggigit bibirnya.


Dax meraih dada Isyana dari belakang dan meremasnya, ia juga masih menyesap di bahu belakang Isyana.


Suara Isyana semakin nyaring dan memenuhi ruangan itu. Namun, seketika mata Dax membulat penuh, wajahnya seketika pucat, posisi bibirnya masih berada di atas bahu Isyana, matanya tertuju pada seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu kamar dengan wajah yang tak kalah terkejut pula.


Dax kemudian membenarkan kemeja putih Isyana dan Isyana pun melihat ke arah Dax dimana tatapan Dax menuju pada gadis yang berdiri mematung.


Isyana melempar pandangannya pula pada sosok yang di lihat oleh Dax.


"Paman... Apa ini?" Tanya Evashya.


"Kenapa kau ada di sini Evashya?"


"Kenapa aku ada di sini?" Kata Evashya mengulangi pertanyaan Dax dengan seringainya.


"A...Aku... Di usir Mommy, tapi... Kenapa paman juga menanyakan itu? Bukankah aku biasa keluar masuk ke apartmen paman? Bahkan beberapa hari aku juga tidur di sini bersama paman, sepanjang itu paman tidak pernah bertanya seperti itu? Apa sekarang aku salah?"


Dax tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Evashya kemudian melihat pada Isyana, ikat rambut yang sama seperti yang di gunakan Isabella.


"Jadi, apa paman pergi ke luar kota bersama gadis ini, apa gadis ini juga siswi Hill School?"


Dax masih diam begitu pula Isyana yang juga tidak tahu harus berbuat apa.


"Aku rasa aku harus pergi, aku tidak ingin mengganggu kalian." Kata Evashya.


"Tunggu Evashya..." Kata Dax.


"Tidak perlu paman, jangan menjelaskan apapun, aku ke sini karena tidak memiliki tujuan." Kata Evashya, air matanya tiba-tiba jatuh.


Dax serba salah harus bertindak apa.


"Biar paman carikan apartmen untukmu..." Kata Dax.


Evashya pun tersenyum getir.


"Paman pikir aku tidak punya uang dan tidak bisa mencari apartmen? Aku ke sini karena hanya di sinilah tempat biasanya Shya mengadu."


"Entah kenapa dengan cepat aku merasa menjadi orang lain di sini, dan kenapa dia yang lebih berhak untuk di sini."


Dax menutup matanya, dan memijit kepala.


"Paman tahu Evashya, ini terlihat aneh bagimu." Kata Dax.


"Shya bilang tidak perlu menjelaskan dan tidak perlu di bahas paman!!! Itu akan membuat Shya lebih jijik."


Evashya pun pergi meninggalkan Dax serta Isyana dalam keheningan malam yang menjadikannya semakin kelam. Keluarga yang kokoh dan hangat sedikit demi sedikit terasa semakin saling berjauhan dan saling menemukan jalannya masing-masing, danĀ  perjalanan Evashya baru akan di mulai dari sini.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2