Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASONE 2 -


__ADS_3

Setelah perjalanan Zafran beberapa hari untuk menemui Dax yang berbuah kosong, ia pun kembali menuju Mansion dan mendapati istrinya duduk terdiam di balkon dengan mengenakan gaun tidur.


"Apa kau tidak kedinginan?" Tanya Zafran sembari memberikan jas nya di bahu sang istri hingga menutupi tubuh Laura yang cukup kecil dan ideal.


"Evashya belum pulang juga, dan aku sangat khawatir."


Zafran mengernyitkan dahinya, pertanda ia meminta penjelasan.


"Dia diam-diam masih menemui Mike Bacelo, dan aku menyuruhnya pergi." Kata Laura menangkupkan kedua telapak tangannya di wajahnya, ia menangis mengingat pertengkaran mereka.


Zafran memijit lembut bahu istrinya.


"Aku akan menyuruh Stark mencarinya."


"Aku sangat menyesal, tapi aku tidak bisa tahan saat mengetahui Evashya masih berhubungan dengan Mike Bacelo, aku tidak percaya seorang Mike Bacelo bisa lolos seleksi dan menjadi guru di Hill School."


Zafran kemudian mencium kepala istrinya lembut dan meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Stark, cari Evashya dan bawa pulang." Perintah Zafran.


Setelah mengakhiri panggilan Laura pun mendongak melihat suaminya.


"Apa kau sudah bicara pada Dax?"


Zafran menggeleng pelan.


"Saat aku dan Stark sampai di sana, mereka sedang dalam perjalanan kembali." Zafran melenguh dan membuang nafasnya, kemudian melanjutkan kalimatnya lagi.


"Sepertinya, hubungan mereka sudah terlalu dalam, informan yang mengikuti mereka menyerahkan beberapa foto kebersamaan mereka."


Laura memijit pelipisnya lemah.


"Ayo masuk, udara sangat dingin, aku tidak mau kau terkena flu."


Zafran pun memapah Laura masuk ke dalam kamar dan duduk di sofa.


"Banyak masalah yang terjadi di Mansion, Zack minum Yoghurt dan membuatnya sakit." Kata Laura.


"Apa!" Zafran terkejut.


"Dia pikir sudah tidak akan terjadi apa-apa tapi ternyata masih sama, mungkin sekarang dia sudah tidur, 2 hari lagi karya wisatanya, aku masih bimbang apakah harus mencabut ijin perginya untuk ikut acara tersebut atau..."


Zafran meraih wajah Laura, dan menangkupkan telapak tangan besarnya.


"Semua akan baik-baik saja. Setelah itu kita akan berlibur, dan masalah di Mansion akan hilang." Zafran mengecup bibir Laura.


"Entahlah, aku hanya khawatir seolah akan ada badai besar mengguncang keluarga kita." Laura menunduk sedih.


"Kita sudah pernah melalui apapun yang jauh lebih sulit, tidak akan terjadi apapun." Zafran memeluk tubuh Istrinya.


"Aku akan melihat Zack." Sahut Zafran lagi.


Laura hanya mengangguk pelan.


Zafran keluar dari kamarnya dan menuju kamar anak laki-laki kebanggaannya, terlihat Zack masih tidur dengan nyaman di bawah selimut tebal.

__ADS_1


Zafran masuk dan berdiri di samping ranjang anaknya. Tak berapa lama Zack pun membuka mata dan melihat sosok ayah yang ia kagumi.


"Sepertinya percobaan mu menjadi pendekar gagal." Ejek Zafran.


Zack pun tersenyum.


"Kapan ayah pulang?" Tanya Zack.


Zafran pun duduk di tepi ranjang.


"Baru saja tiba. Bagaimana keadaanmu?"


"Aku bukan anak kecil lagi ayah." Zack merasa malu jika ayahnya mengkhawatirkannya.


"Bagi ayah kau masih anak kecil yang baru saja lahir dari perut ibumu. Jangan membuat semua khawatir lagi, jangan membuat ibu mu memiliki garis keriput karena memikirkan kalian."


"Maafkan aku." Kata Zack menyesal.


"Tidurlah."


"Terimakasih ayah."


Zafran tersenyum dan mematikan lampu kamar kemudian beranjak pergi.


***


Stark bergerak dengan beberapa pengawal dan kemudian ia sampai di sebuah apartmen yang cukup mewah. Stark pun menekan bel dan tak berapa lama pintu di buka.


Seorang pria dewasa mengernyitkan dahinya dan kemudian bertanya.


"Kami mencari Nona Evashya." Kata Stark.


Tak berapa lama Evashya pun datang dan melihat siapa yang datang.


"Apa itu pengantar pizza Mike?" Tanya Evashya girang dan kemudian memudarkan senyumannya.


"Selamat malam Nona." Sapa Stark dengan sopan.


"Tutup pintunya Mike!!!" Teriak Evashya.


Ketika Mike hendak menutup pintu Stark dengan cepat menahannya dan mendorong pintu itu membuat Mike sedikit ikut terdorong ke belakang.


"Jangan memaksa saya untuk bertindak kasar Nona." Kata Stark.


"Aku tidak akan pulang sebelum Mommy sendiri yang menyuruhku pulang Stark!!!" Teriak Evashya.


"Ini perintah tuan Zafran."


"Daddy?" Kata Evashya kemudian ia merenung.


Stark hanya mengangguk pelan.


"Tidak!!! Aku tidak akan pulang, biarkan Mommy menyesal karena telah mengusirku!! Biarkan Daddy marah dengan Mommy karena sudah memperlakukanku dengan kasar!!!" Teriak Evashya.


Stark tahu, tidak akan mudah dan ia benci berdebat dengan argumen. Stark maju dan membopong Evashya di pundaknya.

__ADS_1


"Lepaskan!!!"


Sedangkan Mike ingin menolong Evashya namun para pengawal sudah lebih dulu menahan tubuh Mike.


"Kalian berani lancang masuk ke dalam Apartmenku lihat saja!!!" Teriak Mike penuh dendam.


Stark kemudian memasukkan Evashya ke dalam mobil dan mobil pun dengan cepat melaju pergi, sedangkan Stark masuk ke dalam mobil yang lainnya.


Evashya diam dan hanya menyedekapkan tangan, ia tahu akan sia-sia dan tak berguna jika harus memberontak, karena mobil sudah berjalan dengan cepat.


Sesampainya di Mansion, Evashya pun turun dengan emosi yang meradang dan hendak langsung menuju kamarnya namun saat itu Laura serta Zafran sudah menunggu Evashya di kantor Zafran.


Stark pun mengarahkan Evashya untuk pergi ke kantor Zafran terlebih dulu dengan tatapan penuh penekanan.


Evashya memutar mata dan melenguhkan nafasnya. Pasrah dan masuk ke dalam ruang kerja Zafran. Terlihat Zafran sudah duduk dengan Laura berdampingan di sofa.


Evashya hanya berdiri malas dan melihat ke arah lain sembari menyedekapkan tangan.


Zafran pun berdiri dan menyambut anaknya dengan mengecup punuk kepala Evashya kemudian memeluk Evashya.


"Ayah merindukanmu." Kata Zafran.


"Hanya Daddy yang rindu pada Shya." Jawab Evashya dan memeluk balik tubuh besar ayahnya.


Kemudian Zafran mencium kening anaknya.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" Tanya Zafran.


"Tidak ada." Kata Evashya sembari mendelik pada ibunya.


"Kenapa menatap ibu mu seperti itu Shya."


"Shya benci Mommy."


Zafran melenguhkan nafas dan mengajak Evashya untuk duduk di sofa.


"Apa begitu cara mu menghormati orang tua!" Kata Laura pada anaknya yang sudah duduk berhadapann dengannya.


"Mommy dulu kan yang menjadi musuh Shya!"


"Astaga, siapa yang sudah mencuci otakmu hingga kau seberani ini pada Ibumu!" Laura menelan ludahnya karena hendak menangis.


"Mommy terlalu kolot dan orang tua yang jadul!" Teriak Evashya tak mau kalah sembari berdiri.


Laura pun mendekat pada anaknya.


"Apa ini..." Tanya Laura melihat ke arah leher Evashya sembari memperhatikan baik-baik.


"Apa ini Evashya!!!" Teriak Laura sembari menunjuk di leher Evashya.


Laura berteriak karena tiba-tiba dadanya bergemuruh dan siap meledak, Laura melihat sebuah bekas merah yang ia tahu itu adalah tanda hisappan, dan dengan bangga bertengger di leher Evashya bagian kanan.


Laura menutup matanya dan air mata mengalir, jatuh begitu saja. Telapak tangannya menyentuh dahinya dan tangan yang lain berkacak pinggang, Laura mencoba meredakan emosinya tidak ingin di butakan oleh amarah yang kian menggondok hingga ingin meledak di ubun-ubunnya.


Sedangkan Zafran masih duduk di sofa dengan wajah datar dan masih dalam ketenangan tak tergoyahkan.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2