
Laura masih memeluk Kate dan gadis itu melirik ke arah seorang wanita cantik bertubuh tinggi dan putih.
"Kate... Siapa dia."
Tanya Laura melirik Jane.
Jane terkejut dan sedih, namun ia tahu bukanlah keinginan Laura, ingatannya terhapus sebagian.
"Dia adalah Jane, dia..."
Kata Kate.
"Aku yang membawamu kesini."
Sambung Jane.
"Aku sakit apa Kate?"
Tanya Laura.
"Kau kelelahan, apa kau ingat, kau melakukan banyak pekerjaan lembur hingga pagi untuk menyelamatkan penginapan."
"Ahh yaa... Penginapan itu...!!!"
Laura membelalakkan matanya.
"Apa yang ku lakukan, aku harus bekerja, aku harus melindungi penginapan, itu adalah satu-satunya kenangan yang ku miliki bersama ayah dan ibuku."
Laura memberontak ingin keluar.
"Laura, tenanglah, Nona Jane sudah mengurus semuanya."
Kata Kate berbohong, dan memberikan kode pada Jane untuk meneruskan seperti arahan para dokter.
"Saya sudah melunasi semuanya Laura, aku berhutang nyawa pada kedua orang tua mu."
Kata Jane.
"Benarkah..."
Air mata Laura berderai, dan meminta Jane untuk mendekat, kemudian Laura memeluk Jane.
"Kau pasti seorang malaikat yang di kirim Tuhan untuk menolongku."
Kata Laura yang menangis memeluk tubuh Jane, gadis itu masih duduk di atas ranjangnya, selang infus bergoyang ketika tangannya bergerak.
"Tapi kau harus janji sesuatu padaku..."
Sahut Jane.
"Apa itu..."
"Kau harus cepat sembuh."
Jane menghapus air matanya yang menetes di pelupuknya.
"Aku akan cepat sembuh."
Laura tersenyum.
Kemudian Kate mulai mengobrol santai dengan Laura, sedangkan Jane sudah pergi, ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi melihat bagaimana kondisi Laura.
"Laura... Mengenai... Zafran."
__ADS_1
Kates mengupas buah dan melirik ke arah Laura.
"Aku tidak ingin mendengar nama itu Kate, dia penyebab kedua orang tua ku mengalami kecelakaan. Jika saja aku tidak berpacaran dengan dia dan tidak pergi dari rumah, semua ini tidak akan terjadi, jika saja aku memilih kedua orang tua ku dan tidak memilih hidup sendiri karena putus asa dengan perpisahan kami, kedua orang tua ku masih hidup."
Dokter mendengar itu, bahkan Zafran juga mendengarnya dari balik jendela.
Dokter kemudian menjelaskan pada Zafran.
"Nona Laura mengalami trauma dan penyesalan dengan keputusan yang ia ambil, namun sepertinya Nona Laura ingin melimpahkan dan menyerahkan semua kesalahan kepada anda tuan Zafran, bisa jadi itu adalah perasaan yang Nona Laura pendam selama ini, tapi itu juga tidak mutlak, bisa jadi Nona Laura sedang kebingungan."
Tubuh Zafran membeku tak bergeming, lagi-lagi wajahnya yang datar tak bisa di tebak apa yang sedang pria itu pikirkan.
"Kau membenci dia Laura, atau kau masih memiliki perasaan cinta?"
Tanya Kate.
Laura hanya diam dan memakan apelnya sedikit demi sedikit.
Sebelum Zafran mendengar apa yang akan Laura katakan, pria itu sudah pergi meninggalkan tempatnya, tanpa sepatah katapun pada dokter yang merawat Laura, entah pikiran apa yang sekarang ada di otaknya.
Mobil Zafran masuk ke dalam gerbang besar yang menjulang tinggi, dengan pengawalan yang ketat, saat mobil sedang melaju pelan di halaman Mansion, kolam yang di bangun sudah selesai, memang Zafran menginginkan kolam itu selesai tepat setelah acara pertunangan, untuk memberikan kejutan pada Laura.
Zafran hanya memandangnya, mulutnya rapat, dan kemudian memalingkan pandangannya dari kolam itu, dan tak lagi menatapnya.
Stark membuka pintu mobil Zafran, pria itu memasuki Mansion, para pelayan sudah berbaris memberikan salam.
Di dalam ruangan museum kenangan, Zafran melihat semua kenangan yang telah mereka buat bersama. Pria itu kemudian mengambil gambar desain kolam yang di buat oleh Laura dan Frank.
Zafran membalik kertas tersebut karena ada bayang tulisan.
"Untuk Zafran, cinta pertama dan terakhirku, apapun masalah yang akan kita alami semoga kita akan selalu baik-baik saja."
^^^LAURA ELSABETH QUENN~^^^
"Aku yakin kau akan sembuh dengan cepat."
Zafran sudah kembali ke Rumah sakit. Pria itu lebih fokus untuk penyembuhan Laura dan Stark yang akan membereskan semua masalah yang terjadi. Ketika Zafran sedang berjalan menuju kamar Laura, pria itu melihat sosok yang tak asing baginya.
Laura sedang duduk di kursi, tubuhnya sudah lebih sehat, ia memandangi ikan dan kemudian memberinya makan. Seorang pria berjalan mendekat pada Laura.
"Ikan-ikan itu pasti sangat senang karena yang memberinya makanan adalah seorang gadis yang sangat cantik."
Laura sadar, ia sangat mengenal suara itu, dan dengan cepat ia menoleh ke belakang.
"Luwis..."
Kata Laura senang.
Luwis tersenyum dan kemudian membelai kepala Laura, pria itu duduk di samping Laura, sedangkan Zafran dengan langkah kesal menyusul Laura namun langkahnya kembali terhenti mengingat Laura sedang sangat membencinya.
"Kenapa kau bisa ada di sini."
Tanya Laura.
"Kebetulan aku sedang menjenguk seorang teman, dia dirawat di rumah sakit milik Zafran, dan aku melihat mu di sini."
"Rumah sakit ini milik Zafran?"
Kata Laura, wajahnya terkejut.
"Apa kau tidak tahu?"
Tanya Luwis.
__ADS_1
Laura menggelengkan kepalanya.
"Lalu... Kenapa kau di sini?"
Tanya Luwis.
"Aku juga tidak mengerti, semua mengatakan aku sedang sakit."
Laura memaksa otaknya untuk mengingat kejadian apa yang sudah ia lupakan.
"Benarkah kau sakit? Apa ada tubuhmu yang terasa sakit?"
Tanya Luwis lagi.
Laura memegang seluruh tubuh dan merasakan dadanya, kemudian menggelengkan kepala.
"Terakhir kali kau mengingat tentang apa Laura."
Kata Luwis ingin memastikan ingatan Laura.
"Aku... Bekerja di perusahaan, dan itu milik Zafran...?"
Laura bertanya pada dirinya sendiri.
"Lalu apa lagi yang kau ingat."
Luwis masih memancing Laura.
"Ayah dan Ibuku meninggal karena kecelakaan."
"Apa kau ingat kita bertemu di kapal pesiar ulang tahun Philip, aku memakaikan gelang untukmu namun Zafran akhirnya memarahimu."
Kata Luwis memprovokasi.
Mendengar itu Zafran sangat kesal dan mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali memukul Luwis namun melihat Laura berusaha mengingatnya, ia juga ingin tahu apa yang akan terjadi...
"Apa kau juga tidak mengingat sesuatu yang terjadi saat Ramon berusaha membawamu pergi...? Kau tidak mengingatnya?"
Laura masih berusaha keras, gadis itu kemudian memegang kepalanya, samar-samar ia melihat bayangan hitam orang yang menolongnya dan memelukknya, gadis itu tidak mengingat wajahnya namun mulutnya bergerak spontan.
"Zafran..."
Laura mengatakan nama Zafran dengan lirih...
Zafran yang mendengar itu, seperti tersiram air yang menyejukkan di dalam dadanya. Pria itu seolah ingin menangis, Laura mengatakan kata itu.
"Zafran...
Kata Laura lagi...
Membuat Zafran semakin merasa senang.
"Aku sangat membencinya..."
Kata Laura geram dan memegang kepalanya yang terasa sakit.
Runtuhlah segala hati dan perasaan Zafran, kembali lagi Laura mengatakan kalimat itu. Tubuh Zafran terasa seperti tersambar ribuan kilat, kalimat Laura terasa sangat menyakitkan.
.
.
.
__ADS_1
~betsambung~