Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASON 2 -


__ADS_3

Hill School...


Zack dan juga Evashya turun dari mobil yang mengantarnya sekolah.


Evashya lebih dulu masuk karena bertemu dengan teman-temannya yang sudah menggunakan pakaian olahraga begitu pun dirinya karena pelajaran pertama mereka adalah olahraga.


Sedangkan Zack melihat Isabella yang juga baru tiba sesaat setelah adiknya masuk. Mereka hanya saling pandang dan kemudian masuk bersama. Isabella berjalan lebih dulu kemudian di susul Zack di belakangnya.


Sampailah mereka di ruang kelas dan Isabella duduk di tempatnya. Zack pun memberikan kode memakai matanya pada seorang siswa yang duduk tepat di belakang Isabella untuk pindah.


"Tapi ini tempat duduk ku Zack..." Kata Zhang Chen pria tampan bule-china.


Zack hanya memandangi Chen, ia menuruni mata milik ayahnya yang memiliki aura membunuh. Sedangkan Isabella kemudian menoleh kebelakang, untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Dengan lemah Chen pun berpindah duduk, sedangkan Zack kini duduk di belakang Isabella.


Tak berapa lama Gery yang beberapa minggu tidak berada di sekolah karena mengikuti olimpiade basket pun sudah kembali, Isabella yang melihat Gery memasuki kelas seketika membuatnya mencengkram tas miliknya.


Gery berjalan melewati Isabella dengan sedikit menggoda, mengedipkan sebelah matanya dan, mengecapkan lidahnya hingga berbunyi.


Zack yang melihat itu menjulurkan kakinya, membuat Gery yang tidak memperhatikan jalan pun terjerembab jatuh ke depan.


"Wow...!!!" Sorak siswa-siswi yang ada di dalam kelas secara bersamaan.


"Siapa yang berani menghalangi jalanku!!!" Teriak Gery.


Zack pura-pura membaca buku nya dan sesaat yang tadi sudah menarik kaki nya kembali.


Sedangkan Isabella hanya tersenyum klise seolah ada kepuasan di dalam hatinya melihat Gery jatuh terjerembab.


"Itu kau Zack!" Tuduh Gerry.


"Kau sendiri yang tidak memperhatikan jalanmu, kenapa menyalahkanku." Sahut Zack santai sembari menyandarkan punggungnya di kursi dan menaruh buku nya.


Gery beradu mata dengan Zack, mereka siap untuk berkelahi namun seorang guru pun masuk ke dalam kelas.


"Simpan buku kalian, aku tidak mau ada pertengkaran dan perkelahian di sini karena waktu kalian hanya 30 menit untuk menjawab soal-soal test!" Teriak Mr.Jacob sembari berjalan ke mejannya.


"Apa!!!"


"Test?!!"


"Kenapa hari ini? Mr.Jacob tidak pernah memberitahu kami sebelumnya." Teriak Sezi.

__ADS_1


Para siswa pun juga berteriak mendukung karena mereka tidak memiliki persiapan apapun.


"Aku akan mati jika nilai ku jelek, orang tua gila itu akan memukulku sampai mati." Keluh Sezi pelan.


"Fu*k!" Umpat Billy dengan lirih pula.


"Kalian tidak pernah mendengarkan dengan baik ya?" Kata Mr.Jacob sembari membagikan kertas soal.


Suasana kelas cukup riuh dan para siswa kembali tenang setelah masing-masing mendapatkan soal mereka.


Tak butuh waktu lama untuk Zack menjawabnya dan kemudian mengumpulkannya ke depan, setelah selesai Zack pun keluar kelas.


Tak berapa lama di susul Isabella, Sezi dan Fay kemudian siswa-siswi yang lainnya.


Setelah mengerjakan test biasanya guru akan memberikan jeda waktu istirahat untuk para murid. Sebagian dari mereka menuju kantin dan sebagian ada yang lain ke perpustakaan atau hanya berada di kelas.


Isabella memilih untuk ke kantin karena hari ini ia sangat lapar, mungkin efek dari berlari mengejar bus tadi pagi.


Langkah kaki Isabella terhenti sejenak ketika melihat gerombolan Sezi, Fay, Billy, dan juga Gery ada di sana, sedangkan Milly baru saja melewati Isabella dengan menyenggol bahu Isabella dan tentunya juga dengan tatapan merendahkan.


Mereka saling tertawa dan mengobrol, Isabella ragu dan memutar kakinya berbalik.


"Terserahlah, aku lapar dan butuh sepotong roti." Kata Isabella lirih.


Setelah membayar ia memilih sedikit lebih menjauh dari gerombolan itu, dan duduk di pojok.


Saat Isabella sedang memakan rotinya dan menyeruput susu. Seseorang mendatanginya.


"Kau berhutang sesuatu padaku... Isabella..." Kata Gery.


Isabella mendongak dan melihat Gery sudah berdiri di depannya dengan satu kaki di angkat dan bertumpu di atas kursi. Pandangan mata Isabella kemudian beralih ke arah gerombolan yang sedang tertawa mengejeknya di tempat duduk mereka.


Tanpa menjawab Isabella pun berdiri membawa roti dan susunya. Namun Gery menghalangi jalannya hingga Isabella tidak bisa kemana-mana.


Gerombolan Sezi dan Fay masih tertawa dan tertawa sinis melihat Gery mempermainkan Isabella.


"Beri kan aku satu ciuman, baru kau boleh pergi." Kata Gery tersenyum sembari menyodorkan pipi dan menunjuk pipinya dengan telunjuknya.


"Ayolah aku menunggu..." Kata Gery.


"Dia bodoh Gery, kita harus mencuci otaknya dulu." Kata Sezi maju dan kemudian menuangkan kotak susu nya ke atas kepala Isabella.


Semua orang pun tertawa dan melihat pada Isabella.

__ADS_1


"Badut!" Teriak Fay dan tertawa.


"Stupid!" Teriak Milly penuh kebencian.


Kemudian mereka semua meninggalkan Isabella yang masih berdiri kaku dan menahan air matanya dengan masih membawa roti dan susu kotak miliknya.


"Mungkin lain kali Isabella, kau kotor sekali." Ejek Gery.


"Tapi aku pasti bisa menikmati mu, berhati-hatilah..." Bisik Gery dengan penuh ancaman serta godaan.


Isabella hanya menelan ludahnya dengan kasar, meremas roti miliknya, dan kemudian mengambil tisu yang ada di atas meja untuk membersihkan rambut dan seragamnya.


Jam pelajaran sudah di mulai namun Isabella masih belum masuk ke dalam kelas, Zack penasaran kemana gadis itu, kenapa ia membolos di jam pelajaran.


Sepanjang pelajaran Zack tidak tenang dan tidak bisa konsentrasi, pikirannya adalah tidak biasanya Isabella membolos, ia sangat ingin mempertahankan beasiswanya.


Tak butuh waktu lama setelah guru pergi, Zack pergi keluar mencari Isabella. Setelah memutari hampir setengah sekolahan akhirnya ia menemukan Isabella di ruang kesehatan.


Zack mendengar Isabella menangis, ia masih mematung berdiri sejenak di balik tirai ranjang Isabella.


"Apa yang sudah mereka lakukan padamu?" Tanya Isyana.


"Seperti biasanya..." Kata Isabella.


"Ayo kita lapor ke guru pengawas." Kata Isyana.


"Untuk apa? Untuk mempermalukan diri ku sendiri?" Kata Isabella lagi.


"Setidaknya kita harus mencobanya kan, siapa tahu mereka akan menghukum anak-anak itu yang sudah membuatmu seperti ini sepanjang kau masuk di Hill School."


Isabella masih menyeka air matanya menggunakan tisu dan kemudian mengambil nafas panjang.


"Orang tua mereka adalah salah satu dari sekian banyak orang tua yang berpengaruh di Hill School, mereka selalu menyumbangkan banyak uang agar anak-anak mereka terbebas dari masalah-masalah yang di buat oleh anak-anak mereka dan berharap anak-anak mereka mendapatkan nilai terbaik tanpa cacat, lalu aku? Kau bercanda Isyana. Aku tidak bisa melawan mereka. Jika aku melaporkan mereka, justru aku lah yang akan semakin terkena masalah."


Zack hanya mendengarnya dari balik tirai dan kemudian ia pun membuka tirainya.


Isabella serta Isyana terkejut melihat Zack yang tiba-tiba ada di hadapan mereka.


"Zack..." Kata Isabella lirih.


Zack pun melihat ke arah Isyana yang pernah ia kira adalah Isabella. Zack menerka dari belakang Isyana dan Isabella memang cukup mirip dari perawakan.


Kemudian Zack melihat ke arah Isabella lagi. Melihat bagaimana Isabella kotor penuh susu, seragamnya pun semakin lusuh.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2