Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
EXTRA PART


__ADS_3



Zack Wickley Volkofrich kini berusia 17tahun, ia tumbuh menjadi sosok remaja yang riang, ia jenius, dan juga sedikit nakal.


Remaja tampan itu sedang bersama pamannya Dax, mereka berada di pacuan kuda, dengan gagah keponakan dan paman saling berlomba menaiki kuda mereka.


Zack memacu kuda nya lebih cepat lagi, dan akhirnya ia memenangkan perlombaan. Zack turun dari kudanya.


"Paman kau mulai kehilangan keahlian berkuda?"


Kata Zack melepaskan sarung tangan dan atribut lainnya kemudian memberikan pada seorang petugas.


"Bukan aku yang kehilangan keahlian dan kekuatanku berkuda, tapi kau yang semakin mahir."


Jawab Dax.


"Ayo sedikit minum."


Ajak Dax, dengan mengedipkan matanya, itu adalah kode bahwa ia tidak akan memberitahukannya pada Ibunya.


"Kali ini aku tidak bisa paman mungkin lain waktu. Aku harus menghadiri acara ulang tahun temanku."


Zack sedikit menyesal.


"Baiklah kau bersenang-senanglah."


Dax menepuk bahu Zack.


"Jangan pulang terlalu malam, ibu mu akan terus menunggu dan tidak akan tidur sebelum kau pulang."


Pesan Dax pada keponakannya.



Kemudian Zack pergi meninggalkan tempat pacuan kuda dan mengendarai mobil sport nya. Pria itu menekan gas nya, dan mobil melaju dengan cepat. Di inggris usia 17 tahun di perboleh kan mengemudi hanya saja tidak secara penuh.


Di perjalanan Zack menyetir dengan mendengar musik, kemudian ia memutar setir memasuki kawasan elite dan memarkir mobilnya.


"Hai bro..."


Sambut Rafael sembari menepuk mobil mewah milik Zack.


Zack keluar dari mobil kemudian bersalaman ala pria remaja dengan para teman-temannya.


"Aku tidak bisa lama dan hanya mampir."


Kata Zack.


"Ayolah, ini hari special Billy."


Bujuk Rafael.


Mereka semua masuk ke dalam Mansion di mana pesta sudah di gelar, penuh dengan lampu gemerlap dan para remaja yang berjoged, musik disco menggema di ruangan itu.


Billy menggelar acara ulang tahunnya di Mansion, orang tua nya tidak pernah berada di Mansion, mereka sibuk berbisnis di luar negeri.


Tak berapa lama Zack merasa bosan, ia meraih botol bir nya dan naik ke atas atap Mansion, mencari udara segar.


Zack menyandarkan punggung nya dan meminum bir, angin menerpa wajahnya dan membuat rambut nya bergerak.


"Jangan... Ku mohon. Aku datang kemari hanya untuk bertemu dengan Milly."


Kata gadis itu.


Zack mengerutkan alis nya, memiring kan kepala nya dan sedikit memicingkan mata, melihat siapa yang berada di atap, di dalam kegelapan.


Zack menaruh bir nya di mistar, dan berjalan ke dalam kegelapan, terlihat seorang gadis yang tidak Zack kenal, namun pria yang sedang berusaha menciumnya adalah Gery teman sekelasnya.


"Kau sedang apa?"


Tanya Zack pada Gery.


"Kenapa kau mengganggu!"


Umpat Gery.


"Aku hanya penasaran."


Kata Zack dan melirik ke arah gadis yang sedang berdiri dan menempelkan punggung nya pada dinding.


"Jangan ganggu aku Zack."


Kata Gery.

__ADS_1


"Tolongg..."


Kata gadis itu memelas pada Zack. Tatapannya putus asa.


Zack hanya memandang sekilas dan berlenggang pergi kembali bersadar ke tempatnya dan meminum bir nya lagi.


"Tidak, aku tidak mau! Pergi!"


Teriakan gadis itu terdengar lagi.


"Jangan jual mahal, kau bisa bersekolah di tempat kami hanya menggunakan beasiswa, dasar miskin, jadi jangan sok jual mahal!"


Gery membentak gadis itu.


"Aku tidak akan mau! Aku ke sini karena Milly memanggilku."


"Aku yang menyuruh Milly memanggilmu kemari dasar bodoh!"


"Apa? Tidak mungkin..."


Gery kemudian memeluk gadis itu lagi, dan memaksa ingin menciumnya.


"Aku tidak mau! Lepaskan!"


Zack yang merasa terganggu kemudian meletakkan botol bir nya di atas mistar kembali dengan sedikit membantingnya, pria itu kemudian berjalan mendekati mereka lagi.


"Lepaskan dia Gery, gadis itu tidak mau kau cium."


Kata Zack datar.


"Sudah ku bilang jangan ganggu aku, brengsek!"


Teriak Gery.


"Aku terganggu dengan teriakannya."


Kata Zack memandangi gadis di hadapannya yang ketakutan dengan matanya yang dingin.


"Kalau kau terganggu harus nya kau pergi, kenapa menganggu!"


Gery kesal dan mengepalkan tangannya.


Kemudian Gery maju, dengan diliputi rasa kekesalan dan amarah ia ingin memukul, dengan cepat Zack menghindar, dan pada akhirnya mereka pun berkelahi dan saling berguling, saling memukul dan menendang.


Billy kemudian melerai mereka.


"Ada apa dengan kalian!"


Teriak Billy.


"Tanyakan pada pengganggu itu!"


Gery geram dan menunjuk Zack dengan telunjuknya.


Wajah mereka sudah penuh memar.


"Isabella... Aku yakin dia penyebab Gery dan Zack berkelahi, mereka tidak pernah berkelahi bahkan bertengkar."


Kata Sezi.


"Siapa Isabella?"


Billy memicingkan mata, dan melihat ke arah seorang gadis yang hanya berdiri dengan tatapan takut.


"Dia...!"


Kata Sezi sembari menunjuk gadis yang di goda oleh Gery dengan memicingkan matanya.


"Isabella siswi yang bisa masuk ke Hill School dengan bantuan beasiswa."


"Apa? Beasiswa?"


Billy terperangah.


"Apa aku mengundangmu ke pesta ku?"


Tanya Billy pada gadis itu dengan nada tidak senang.


"A-aku ke sini karena Milly yang mengundangku."


Tak berapa lama Milly pun datang, ia naik ke atap dengan kebingungan.


Billy yang melihat adiknya naik kemudian bertanya.


"Apa kau memanggilnya ke sini?"

__ADS_1


Tanya Billy pada adiknya.


"Milly aku datang, aku mencari mu, kau berkata aku harus datang malam ini karena kau akan mengajakku mengerjakan tugas kelompok dari Mrs.Frawn, kau mengajakku mengerjakannya bersama bukan?"


Kata Isabella, seraya berlari dan memegang tangan Milly.


"Kapan? Aku tidak pernah berkata seperti itu!"


Milly mengibaskan tangannya dan pergi meninggalkan tempat itu kemudian kembali masuk ke dalam kamarnya.


Isabella kini menjadi bahan tontonan dan bully an para siswa dan siswi Hill School yang notabene, sekolah itu memang di peruntukkan untuk kalangan atas.


"Kau perusak suasana dan acara, dasar jaalangg!"


Sezi maju dan mendorong dada Isabella.


Zack mengusap noda darah di bibirnya ketika cahaya menyinari wajah Isabella, terlihatlah bagaimana wajah Isabella, ia ketakutan, tak tahu harus bagaimana.


Isabella kebingungan, gadis itu tidak dapat pergi kemana-mana. Sezi terus saja mengintimidasinya, dan yang lainnya juga menertaiwainya.


"Hentikan Sezi."


Kata Zack dan berjalan mendekati Isabella.


Zack meraih tangan Isabella dan mengajaknya keluar Mansion. Para remaja bahkah para gadis remaja berteriak ketika Zack menggandeng Isabella.


Mereka semua mengikuti kemana Zack akan membawa Isabella.


Zack membuka pintu mobilnya dan menyuruh Isabella masuk, dengan ekspresi dingin Zack mengemudikan mobilnya.


Gery menatap nya dengan nanar dan penuh kebencian, sudah sangat lama Gery mendambakan Isabella dan kini Zack merusak rencananya.


Zack melajukan mobilnya dengan cepat tanpa sepatah kata. Setelah di rasa aman dan jauh dari Mansion, Zack menepikan mobilnya, membuat Isabella terkejut dengan pemberhentian mendadak itu.


"Keluar."


Kata Zack.


"Terimakasih."


Kata Isabella lirih.


Dengan secepat kilat dan tubuh yang gemetar Isabella keluar dari mobil mewah Zack, sedangkan Zack sendiri diam tanpa menoleh, ia kemudian menekan gas mobil nya dan pergi.


Zack tiba di Mansion, memarkir mobil nya dan mengendap-endap. Berharap ibunya sudah tidur bersama ayahnya atau tidur dengan adiknya, Evashya Ansley Volkofrich.


"Apa kau mau mencuri di rumah mu sendiri?"


Tanya Laura pada anaknya yang mengendap-endap.


"Biar ibu lihat wajah tampanmu."


Laura berjalan mendekati Zack dari belakang dengan membawa secangkir kopi di tangan untuk suaminya.


Namun Zack hanya menggeleng.


"Zack naik ke atas, paman punya sesuatu."


Teriak Dax.


"Oke paman."


Kata Zack lega bahwa pamannya menyelamatkan nya lagi.


Meski Zack sedikit nakal, tapi ia adalah remaja yang sangat menghormati ibunya, baginya Laura adalah ibu yang sangat luar biasa. Zack menyayangi ibunya, bahkan remaja itu lebih takut di saat ibunya akan memarahinya daripada kemarahan ayahnya.


Laura pergi ke ruang kerja suaminya dengan kesal.


"Kakakku terlalu memanjakan Zack."


Kata Laura menaruh kopi di meja dengan sedikit kesal.


Membuat Zafran melirik pada kopinya yang sedikit bergoyang, dan meraih kopi itu sebelum istrinya benar-benar akan menumpahkannya.


"Biarkan saja sayang, biar Zack tumbuh seperti remaja yang lain, berkelahi, membuat onar di sekolah, atau membolos. Zack anak jenius dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan cepat . Aku lebih menyukai jika Zack menikmati masa remajanya dengan bermain daripada ia menggoda wanita, lagi pula berkelahi membuat ototnya kuat, Dax mengajari Zack bela diri dengan baik, dia akan jadi remaja yang terlatih."


Kata Zafran sembari menyeruput kopi nya.


Laura hanya melenguh kesal dan menyedekapkan tangannya.


ISABELLA KAYL



~SEASON 1 SELESAI LANJUT KE SEASON 2 👇 ~

__ADS_1


__ADS_2