
Jam sekolah sudah usai, jemputan masing-masing dari para siswa dan siswi sudah saling bertengger di depan Hill School.
Evashya keluar dari Hill School dan seseorang pun menarik nya.
"Siapa!" Teriak Evashya.
Seorang pria berpakaian serba hitam dan memakai masker serta topi, menarik Evashya menjauh dari kerumunan dan membawa Evashya ke tempat sepi.
Kemudian pria itu melempar Evashya hingga membentur dinding bangunan di belakang sekolah.
"Minggir aku mau pergi!" Teriak Evashya.
Namun pria itu masih menghalangi Evashya, ke kiri dan ke kanan.
"Siapa kau! Jangan bodoh!" Teriak Evashya.
Pria itu pun membuka topinya.
"Mike!" Pekik Evashya dan menahan mulutnya.
"Para suruhan ayahmu ingin menghabisiku." Kata Mike mendekat dan menghimpit Evahsya hingga membentur dinding.
"Ba... Bagaimana bisa..." Tanya Evahsya tak mengerti.
"Kau memutuskan hubungan denganku, dan ayahmu menyuruh orang untuk menghabisiku." Kata Mike.
"Ti.. Tidak mungkin, ayahku orang yang paling penyayang, dia bahkan tidak tega membunuh seekor hewan apapun." Kata Evashya.
"Aku bersumpah, ayahmu psychopath. Beberapa orang bahkan menghancurkan dan memporak-porandakan seluruh apartmen ku. Bahkan seluruh bangunan itu di beli oleh ayahmu dan di hancurkan dalam semalam. Aku melarikan diri namun para pengawal yang kemarin datang, terus saja memburuku."
"Tidak mungkin... Tidak mungkin itu adalah ayahku Mike!" Teriak Evashya.
Mike menurunkan maskernya, dan terlihat beberapa lebam di wajahnya.
"Mike kau terluka." Kata Evashya menyentuh wajah Mike dengan mata ketakutan.
"Katakan pada ayahmu berhenti menggangguku atau aku tidak akan segan-segan menghancurkannya." Ancam Mike Bacelo.
Evashya menarik kembali tangannya dari wajah Mike, ia terkejut dan membelalakkan mata dengan ucapan Mike Bacelo.
Namun dengan cepat Mike menangkap pergelangan tangan Evashya, dan mencium bibir Evashya.
"Terkecuali kau, kau akan menjadi tahananku dan menjadi ratu bagiku." Bisik Mike di telinga Evashya.
Tak berapa lama beberapa pengawal datang dan Mike pun memakai topinya kembali, ia pergi melarikan diri dan membiarkan Evashya masih menyandarkan punggung di dinding dengan mata kosong dan pikiran yang melayang kemana-mana.
"Nona, apa anda terluka?" Tanya sang pengawal.
"Ti... Tidak aku tidak terluka." Kata Evashya.
__ADS_1
"Mari pulang." Kata sang pengawal.
"Tunggu dulu, kenapa ada begitu banyak pengawal?" Tanya Evashya.
"Mulai hari ini, di sekeliling anda akan ada beberapa pengawal untuk melindungi anda Nona."
"Siapa yang menyuruh kalian?"
"Atas perintah tuan Zafran." Kata sang pengawal.
"Untuk apa? Aku tidak pernah butuh pengawalan." Kata Evashya.
"Kali ini anda butuh Nona." Sahut sang pengawal.
Evashya tidak memperdulikan para pengawal dan kembali berjalan menuju mobil jemputannya yang lumayan jauh dari tempatnya.
Sepanjang perjalanan Evashya memikirkan perkataan Mike Bacelo membuatnya terdiam dan hanya merenung.
"Ada apa?" Tanya Zack.
"Emm? Tidak ada apa-apa..." Kata Evashya tersenyum.
"Jangan terlalu banyak melamun." Zack membelai kepala Evashya dengan lembut.
Cukup lama Evashya hanya memandang ke arah luar jendela.
Zack tersenyum klise, mengangkat ujung bibirnya.
"Kenapa?"
"Tidak Shya hanya penasaran." Kata Evashya tersenyum getir.
"Ayah bahkan tidak tega membunuh cacing saat kita liburan ke danau untuk memancing, kau ingat?" Kata Zack.
"Benar juga." Kata Evashya tertawa canggung.
"Jangan berfikiran yang macam-macam."
Zack memandangi keluar jendela, kemudian melihat ponselnya, dimana ponselnya pun sedang membuka laman berita dimana gedung apartmen mewah telah roboh hanya dengan satu malam, dan ia tahu Mike Bacelo tinggal di sana.
Meski Zack pendiam, namun ia selalu tahu permasalahan apa yang sedang terjadi di dalam keluarganya. Zack kembali melihat ke arah luar dengan datar dan menelan ludahnya kasar.
Sedangkan di tempat lainnya, seorang siswi dengan tak berdaya dan pasrah ikut bersama Harry menaiki mobil limusin mewah dengan beberapa pengawal bersamanya.
Entah kemana Harry akan mengajak Isyana, mata Isyana melirik ke arah lain dimana mobil jemputan Dax pun sudah terpajang di sana dengan beberapa pengawal.
Isyana mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi Dax namun dengan cepat Harry mengambilnya dan menaruh ke dalam sakunya.
"Bukankah itu privasiku?" Tanya Isyana.
__ADS_1
"Aku sedang tidak main-main Isyana."
"Tapi bukankah seharusnya kau melapor pada polisi dan tidak menuduhku? Kau bahkan tidak tahu menahu kehidupanku." Kata Isyana.
"Sebentar lagi aku akan tahu apa saja yang sudah kau lakukan selama ini." Kata Harry.
"Apa kau menyewa seseorang untuk menggali data tentang diriku?" Tanya Isyana.
Harry hanya diam dan terus menatap ke arah depan.
"Apa kau kakkaku atau aku yang jadi kakakkmu?" Tanya Isyana lagi.
"Aku punya janji dan aku harus cepat." Kata Isyana memprovokasi agar Harry bicara, ia tidak tahu apa yang sedang Harry rencanakan padanya.
"Bisa kau diam Isyana? Jangan coba-coba memancingku."
Mobil terus melaju menuju sebuah kota yang cukup jauh dan akhirnya memasuki gerbang besar dimana Mansion bernuansa ala inggris pun terpampang di depan mata Isyana.
Mobil berhenti tepat di lobby depan pintu besar yang sudah terbuka.
"Turun dan jangan katakan apapun." Kata Harry.
Kemudian mereka pun turun dan masuk ke dalam Mansion, beberapa pelayan menunduk dan menyambut mereka.
Harry berjalan cepat dan di susul oleh Isyana, ia sedikit ngeri dan tidak tahu apa yang akan Harry lakukan padanya, namun yang pasti ia juga memikirkan hukuman apa yang akan ia terima jika Dax mengetahui ia tidak datang ke apartmen saat Dax memanggilnya.
Harry mengajak Isyana masuk ke dalam ruangan dengan pintu yang amat besar.
"Buka." Perintah Harry pada sang penjaga.
Pintu pun terbuka.
Harry masuk dan Isyana masih mengekor.
Ruangan kamar yang sungguh luas dengan pajangan-pajangan mewah serta hiasan arsitektur sangat megah.
Sebuah ranjang besar dengan ukiran berwarna keemasan dan memiliki selimut berwarna merah hati pun membuat Isyana terbelalak.
Seorang pria terbaring dengan beberapa alat bantu kehidupan, bahkan tabung oksigen yang berdiri di samping ranjang itu lebih besar dari tubuhnya.
"Dia adalah Arnold Benyamin, dia lumpuh dan kemudian kelumpuhan menyerang otaknya dan kini ia terbaring koma, karena Gaby memberikannya obat, sampai hari ini para dokter belum bisa mendapatkan penawarnya atau juga belum bisa membuat penawarnya, hanya Gaby yang memilikinya, dan sampai hari ini kepolisian negara pun tidak dapat menemukannya, sebentar lagi kasusnya akan kadaluwarsa, kasus Gaby akan di tutup."
"Lalu?"
"Dan kau adalah Alicia Benyamin, adik kembarku, yang terbaring di atas ranjang adalah ayah mu." Kata Harry memandangi Isyana.
Sedangkan Isyana tidak terlalu terkejut dengan nama Alicia Benyamin, ia lebih terkejut melihat kondisi pria yang seolah sedang tidur di atas ranjang tanpa bergerak sedikitpun, dengan alat-alat besar yang lebih menyeramkan di banding alat-alat yang di pasang di tubuh Dorothy ibu sambungnnya.
~bersambung~
__ADS_1