Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
-EPISODE 55-


__ADS_3

Percikan api di mobil Zafran membuat beberapa api kecil berubah semakin membesar. Zafran menarik kakinya sekuat mungkin dan membayangkan wajah istrinya, ia tidak ingin meninggalkan Laura seorang diri dan di kerumuni para penjahat.


"AAARRRGGH!!!! BRENGSEK KAU ARNOLD!!!"


Teriak Zafran dan akhirnya kakinya dapat terbebas dari jepitan mobil yang ringsek. Zafran kemudian mencoba pintu yang lain, pintu yang ada di sebelah kiri. Zafran mendorong dengan sekuat tenaga namun pria itu justru tersungkur jatuh karena dengan mudah pintu itu terbuka. Membuat Zafran terpana sejenak dan mengutuki kebodohannya.


"HAISHH!!! PINTU SIALAN!!! KENAPA KAU TIDAK BILANG PADAKU JIKA KAU MUDAH UNTUK DI BUKA!!!"


Teriak Zafran kesal, sembari pergi menggunakan tangannya, kakinya tidak kuat digunakan untuk berjalan. Pria itu dengan cepat menjauhi mobil, tangannya meraih setiap jengkal jalanan beraspal yang panas, tubuhnya merasakan gesekan aspal panas yang terasa membakarnya.


"DDDUUAARRR!!!"


"DDDUUUAARRR!!!


Mobil meledak setelah Zafran menjauh, pria itu menutup wajahnya, beberapa mesin terpental dari tempatnya.


Zafran mengambil alat pelacak daruratnya, memencetnya dan menunggu para pengawal menjemput di lokasi ia berada.


Tak berapa lama iring-iringan mobil datang dengan kecepatan penuh, ban ban mobil saling berdecit dan membuat kepulan asap, dengan cepat Stark keluar dari mobil nya dan membantu Zafran yang tergeletak di atas jalanan beraspal.


Jalanan sangat lengang, Arnold sengaja memblokadenya, dan mereka juga cukup cerdas menabrak Zafran saat masih di perjalanan yang tidak padat penduduk.


"Aku bertanya-tanya kenapa Arnold selalu bisa membobol pertahananku."


Kata Zafran ketika Stark dan satu pengawal baru memapahnya.


Kalimat itu seakan mengandung kecurigaan tak tersirat yang sengaja Zafran tujukan pada seseorang, atau hanyalah kalimat peringatan untuk Stark. Sedangkan Stark hanya terdiam. Salah satu pengawalnya juga merasa canggung.


Zafran melirik dingin ke arah pengawal yang memiliki wajah asing baginya.


"Pertama lolosnya Gaby, kedua saat pertunangan ku, ketiga ketika aku akan honeymoon dengan istriku, dan yang ke empat adalah hari ini."


Kemudian Zafran memanggil pengawal yang lainnya dengan isyarat tangan.


Zafran berpindah pada bahu dua pengawal yang lain dan meninggalkan Stark yang masih berdiri di tengah jalan. Mobil yang di tumpangi Zafran melaju pergi dengan iring-iringan pengawalan.


Sedangkan Stark masih melenguhkan nafas panjangnya kemudian menyusul Zafran menggunakan mobilnya.


Mobil iring-iringan yang membawa Zafran melaju dengan cepat, pria itu mulai merasa pusing karena benturan di kepalanya, ia juga tahu ada masalah dengan kakinya.


Akhirnya mobil sampai di rumah sakit milik Zafran, Stark yang sudah memberi kabar membuat semua dokter ahli sudah berbaris di depan rumah sakit, dengan sigap mereka membawa Zafran ke ruang operasi.


Leizya berlari cepat sembari mendorong Crank Polywood ( ranjang pasien ) diatasnya Zafran sudah berbaring, dan di bantu oleh dokter-dokter lainnya juga.


Beberapa jam lampu ruang operasi masih menyala, Stark masih menunggu dengan setia, tidak makan tidak minum dan penuh dengan kekhawatiran, Edward yang mendapat kabar dari para pengawalnya sudah sampai di rumah sakit.


Edward berlari dan mencengkram kerah Stark.


"Kenapa bisa terjadi!!!"


Bentak Edward penuh emosi.


Stark tidak bisa menyembunyikan perasaan menyesalnya, wajahnya dilingkupi rasa kegelisahan mengingat Zafran masih berjuang di ruang operasi.


Tiba-tiba lampu operasi padam, dan para dokter perlahan mengeluarkan Zafran. Leizya berada paling belakang mendorong pelan ranjang, namun di hentikan oleh Edward, pria itu menahan lengan Leizya.


Dengan canggung Leizya mengibaskan tangan Edward.


"Zafran akan segera sadar."

__ADS_1


Kata Leizya berbisik.


Zafran di bawa keruangan VVIP kamar yang di jaga dengan sangat ketat.


Stark masih terlihat memandangi Zafran dari balik kaca. Pria itu terlihat sangat murung dan di penuhi rasa penyesalan.


***


Waktu terus bergulir, matahari berganti dengan terangnya cahaya bulan purnama, hingga akhirnya meredup dan di gantikan oleh sang cakrawala.


Laura merasa sangat kesal, semalaman ia tidak bisa tidur, dan kini matanya sangat nyeri. Pelayan masuk dengan hati-hati membawa alat kompres dan bongkahan es.


"Terima kasih."


Kata Laura.


"Nona jangan khawatir, tuan Zafran sering melakukan perjalanan bisnis secara mendadak."


Kata Jully sang pelayan.


"Tapi dia tidak menelfonku secara langsung, Stark seolah menghalangi ku untuk berbicara pada Zafran."


Kata Laura kesal.


"Nona ingat kehamilan anda, jangan memikirkan sesuatu terlalu keras, tuan Zafran memang sangat sibuk."


"Sesibuk-sibuknya dia, ponselnya selalu ada di sakunya."


Bantah Laura.


Jully mengerti wanita hamil selalu memiliki mood yang berubah-ubah, mudah stress dan tertekan.


"Tidak..."


Kata Laura singkat sembari mengompres matanya yang nyeri karena semalaman ia tidak dapat tidur nyenyak.


"Ada sesuatu yang aneh, perasaanku benar-bebar tidak nyaman."


Jully tidak tahu lagi harus bagaimana, meski ia juga merasakan hal yang sama, sangat aneh bagi tuannya yang tidak bisa lepas dari Nona Laura, tiba-tiba hanya memberikan kabar melalui telfon, dan menambah keanehan yang memberi kabar adalah Stark.


"Setidaknya anda harus makan untuk perkembangan bayinya, vitamin juga harus terus di minum, bagaimana jika saya buat kan sup daging sapi?"


Tanya Jully.


"Seperti nya itu bagus, aku sudah membayangkan segar nya kuah daging sapi."


Kata Laura masih memejamkan mata dengan kompresan nya.


"Ahh... Ini bebar-benar mood seorang wanita yang sedang hamil."


Kata Jully dalam hati dan tertawa kecil.


"Baiklah tunggu sebentar Nona."


Jawab Jully, dengan langkah cepat ia menuruni tangga. Namun dengan cepat pula ia berhenti dan terkejut hingga kakinya hampir terpeleset.


"Si-siapa yang menyuruh anda datang kemari..."


Kata Jully.

__ADS_1


Jully adalah wanita paruh baya, pelayan pribadi Laura yang mengurus segala sesuatu terkait kebutuhan Laura.


Semua yang menyangkut tentang Laura harus atas persetujuan dan inspeksi dari Jully terlebih dahulu, baru para pelayan memberikannya pada Laura, kedudukannya jauh lebih tinggi.


"Aku mencari Zafran.."


Kata Gaby dengan penuh keangkuhan.


"Siapa yang datang..."


Laura keluar dari kamar dan menuruni tangga, langkahnya pun terhenti tak jauh dari Jully.


"Halo..."


Sapa Gaby pada Laura.


Tatapan para wanita itu beradu satu sama lain, Laura bertanya dalam hatinya untuk apa ****** ini kemari, dan Gaby bertekad dalam hatinya ia harus mengambil kembali semua harta milik Zafran.


"Setelah sekian lama kita bertemu lagi."


Sambung Gaby.


"Apa begini kau menerima seorang tamu?"


"Ku pikir kita sudah bertemu lagi di acara pertunanganku yang gagal, saat itu kau berpura-pura menjadi penata rias, pekerjaan itu lebih cocok untukmu, daripada mengemis harta pada pria lain."


Kata Laura.


"Oh... Aku hampir lupa ada tamu yang harus di jamu, silahkan duduk tapi kurasa kursi itu tidak pantas untuk kau duduki, pantatmu akan gatal."


Lanjut Laura.


Jully tak bisa menahan tawanya.


Gaby terlihat geram dan mengepalkan tangan.


"Ambilkan segelas air putih untuk Nyonya Gaby, dia pasti kehausan karena di luar sangat terik dan panas."


Laura menyedekapkan tangannya dan duduk di atas sofa yang besar, menyilangkan kakinya dan mengisyarkatkan Gaby untuk duduk.


"Nyonya?"


Kata Gaby menirukan kata Nyonya yang sangat tidak nyaman baginya.


"Dasar murahan!!!"


Teriak Gaby.


"Setidak nya aku adalah istri Zafran."


Laura memainkan kukunya, ia tidak ingin terlihat lemah di depan Gaby agar tidak diintimidasi oleh wanita itu, apalagi saat ini Zafran tidak berada di Mansion.


.


.


.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2