
MAAF HARI INI UP SATU BAB SAJA.
****
Jam makan siang pun tiba, Isabella menuju kantin untuk membelikan apa yang sudah di janjikannya, yoghurt dengan rasa melon untuk Harry.
Setelah membelinya ia kembali menuju kelas, namun Harry tidak ada, Isabella pun duduk di kursinya. Antara bimbang apakah harus ke kantin utama atau tidak.
Akhirnya ia menuju kantin utama untuk segera menyelesaikan urusannya dengan Harry. Isabella mengedarkan pandangannya di kantin yang sangat luas, ia mencari Harry, dan terlihat Harry duduk sendiri dengan headsetnya, remaja pindahan itu belum memiliki teman dan makan sendiri di sudut ruangan. Namun tetap terlihat enjoy dan tanpa beban.
Isabella pun menaruh botol Yoghurt berwarna hijau dan memiliki gambar melon di atas meja Harry, membuat Harry mendongak kemudian menyandarkan punggungnya di kursi.
Harry tersenyum.
"Sudah kan..." Tanya Isabella.
Semua siswa melihat ke arah Harry dan Isabella, dimana saat itu Zack juga baru tiba.
"Boleh sekalian tusukkan sedotan itu di yoghurtnya." Pinta Harry.
Kemudian Isabella menusukkan sedotan itu ke dalam botol yoghurt, Harry hendak menggapai yoghurtnya namun kalah cepat dengan gerakan tangan Zack yang menyambarnya dan kemudian meminumnya habis.
Zack pun membuang botol yoghurt itu di atas piring Harry dengan santai, kemudian meraih pergelangan tangan Isabella untuk pergi.
"Memang dasar jalangg!!! Apa sih maksudnya si jalangg itu!!!"
"Apa Zack saja tidak cukup untuknya!!!"
"Kenapa dia juga menggoda Harry!!!"
Semua siswi pun geram dan kesal, mereka mengira Isabella sedang merayu dan menggoda Harry.
Zack menarik tangan Isabella dan hampir seperti menyeretnya pergi, membuat Isabella cukup kesakitan.
"Zack..." Ucap Isabella lirih.
Kemudian Zack membawa Isabella ke ruang musik dimana saat itu ruangan sedang kosong.
"Apa mau mu Isabella." Tanya Zack.
"Apa maksudmu Zack?"
"Kenapa kau dengan Harry?"
"Dia yang sudah menolongku tadi Zack..."
"Lalu kau berniat menebar pesona karena dia yang menolongmu?"
"Apa? Kau salah paham Zack."
"Lalu jelaskan!" Kesal Zack, dengan suara rendah namun menggeram.
"Dia meminta ku untuk membelikannya yoghurt, itu hanya permintaannya, agar aku membalas budi padanya."
Zack melenguhkan nafas dan menarik pelan tubuh Isabella ke dalam pelukannya.
"Aku punya firasat tidak baik, jangan terlalu dekat dengannya."
"Apa kau cemburu?" Tanya Isabella menggigit bibirnya karena menahan tawa.
"Kenapa kau tanya? Seharusnya kau tahu. Kau adalah pacarku." Kata Zack memeluk Isabella semakin erat.
Isabella hanya tersenyum dan membalas pelukan Zack .
__ADS_1
"Apa kita sudah berbaikan?" Tanya Isabella.
"Dengan satu syarat." Ucap Zack.
"Apa?"
Zack memandangai Isabella lekat-lekat dan mendekatkan wajahnya pada wajah Isabella.
"Jangan di sini." Cegah Isabella.
"Kenapa?"
"Kita sedang di sekolah."
"Lalu?"
"Rasanya aneh..." Isabella ragu.
"Justru akan lebih memberikan kesan, aku lebih bersemangat untuk sekolah." Zack menarik tubuh Isabella lebih dekat.
Isabella menutup mata dan kemudian Zack mencium bibir Isabella dengan lembut. Mengecup leher Isabella dengan lembut juga.
"Ohhk..." Zack meringis dan melepaskan ciumannya.
"Kenapa?" Tanya Isabella.
Zack mundur dan menyandarkan tubuhnya di tepi meja sembari meremas perut.
"S**t!" Umpat Zack, wajahnya sudah mulai memerah karena menahan sakit.
Zack meremas tepian meja dengan tangan sebelah sedangankan tangan yang satunya meremas perut.
"Zack jangan menakutiku!" Isabella mulai panik.
Isabella kemudian merogoh saku celana Zack dan mengambil ponsel, lalu di berikan pada Zack.
"Fvck!!" Umpat Zack lagi, karena ponsel itu terjatuh dari tangannya yang gemetar hebat.
"Aku akan membantumu." Isabella pun memegang ponsel milik Zack.
"Hubungi Evashyaa.... su-suruh kesini, atau siapapun di mansion... untuk menjemputku, sekarang juga." Kata Zack yang sudah terduduk di lantai tepat di bawah meja memegangi perutnya.
Kalimat Zack terbata karena menahan sakit, sesekali mendenguskan nafas merasakan tubuhnya makin gemetar hebat.
Isabella pun mencari kontak dengan panik, keringatnya sudah mulai keluar karena ketakutan, ia tidak tahu ada apa sebenarnya dengan Zack. Tangan Isabella juga gemetar dan mulai dingin serta kaku karena gugup dan takut.
"Halo Evashya, cepat kemari di ruang musik, kakakmu sakit!!!"
Pertama-tama Isabella menghubungi Evashya, dan kemudian menghubungi orang mansion.
Setelah selesai, Isabella masih kebingungan melihat Zack yang sudah meringkuk di lantai memegangi perut. Wajah Zack memerah semua karena menahan sakit.
"Astaga Zack, katakan padaku apa yang terjadi, aku harus apa!!!" Teriak Isabella menangis.
Isabella panik dan kemudian menghubungi ruang kesehatan juga melalui telfon di ruangan tersebut.
Tak berapa lama Evashya dan perawat ruang kesehatan pun secara bersamaan datang.
"Kakak!!!" Teriak Evashya tak kalah panik.
Evashya berlari dan berjongkok memegang tubuh Zack dengan panik. Kemudian sang perawat juga ikut memeriksa.
"Ada apa!!!" Evashya berteriak kemudian mendongak dan melotot pada Isabella.
__ADS_1
"A... Aku tidak tahu, tiba-tiba Zack jatuh sakit, tadi masih sehat!" Jawab Isabell.
Evashy pun berniat menghubungi orang mansion.
"Aku sudah menghubungi nomor yang ada di kontak Zack dan terhubung dengan pengawal mansion." Kata Isabella dengan bibir bergetar.
Sang perawat pun masih memeriksa kondisi Zack, tak berapa lama banyak siswa dan sisiwi mulai berdatangan karena penasaran apa yang sedang terjadi.
Zack tidak dapat bergerak, tubuhnya makin parah.
Beberapa pengawal datang lebih cepat dari perkiraan, dan menggotong Zack untuk segera di bawa kerumah sakit, sedangkan Laura juga terlihat panik.
"Apa kakakmu minum yoghurt Evashya!!!" Teriak Laura pada anak gadisnya.
"Shya tidak tahu Mommy!!!" Teriak Evashya yang juga panik.
"I... Iya Nyonya, tadi Zack minum yoghurt yang saya beli."
Laura mengeryitkan dahi dan alisnya.
"Astaga anak itu!!!" Geram Laura.
Laura pun pergi meninggalkan sekolah dengan kepanikan luar biasa bersama para pengawal dan juga Zack.
Evashya masih termenung di tempatnya berdiri, dan melihat ketus pada Isabella sembari menggertakkan giginya.
"Kau..." Kata Evashya tidak melanjutkannya.
"Jika aku tahu, aku pasti akan melarangnya Evashya, itu terjadi sangat cepat. A... Aku tidak tahu Zack tidak bisa minum yoghurt."
"Apa kau tidak peka!!! Zack selalu minum air putih saat di sekolah, kau kan sekelas dengannya!!!" Evashya menyalahkan Isabella.
Sedangkan siswa-siswi lainnya pun melihat dengan puas ketika Evashya melabrak Isabella.
"Evashya, mungkin dia sengaja." Kata Sezi.
"Mana mungkin aku sengaja? Bagaimana mungkin kau bisa berkata seperti itu Sezi!!!" Teriak Isabella.
"Kau selalu menempel pada Zack setiap hari, mana mungkin kau tidak tahu Zack alergi yoghurt." Fay menyela.
"Kita semua tahu Zack tidak bisa minum Yoghurt dan susu kemasan." Ucap Sezi sembari menyeringai dan menyedekapkan tangan.
Evashya hanya diam dan menggertakkan giginya karena kesal dan geram, ia juga teringat foto-foto yang ada di forum grup chat.
"Bagaimana kau bisa tega mempermainkan 2 pria sekaligus Isabella!! Kau tidur dengan pamanku dan menggoda kakakku!!!" Batin Evashya penuh kebencian pada Isabella.
"Berhentilah Isabella, menyerahlah... Kau tidak akan mampu lulus dari sini, pergilah sebelum semua siswa dan siswi di sini menelanjanggimu, kita sudah cukup malu dengan kelakuanmu di luar sana yang bersama pria tua." Ucap Fay lagi.
Isabella menangis dan mendorong semua siswa yang ada di depannya, ia berlari terus hingga menuju sebuah perpustakaan, ia mencari Isyana namun tidak ia temukan dimanapun.
Akhirnya Isabella memilih sembunyi di sudut rak paling belakang dan duduk tersedu. Menahan suara tangis hingga lehernya berkali-kali seperti di tarik. Suara sesenggukan yang teramat pilu.
Lalu seorang siswa mendekatinya mengulurkan sapu tangan. Isabella mendongak masih dengan wajah penuh air mata, wajahnya merah dan tak berdaya.
Dengan kesal Isabella membuang sapu tangan itu, dengan gerakan tangannya yang kasar.
Tepat di hadapannya adalah Harry Benyamin dan kemudian Harry mengambil sapu tangan itu lagi dan berniat menyapu kan air mata Isabella.
Lagi-lagi Isabella menolak dan mendorong Harry agar pergi menjauhinya.
"Pergi...!!!" Teriak Isabella.
~bersambung~
__ADS_1