Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASON 2 -


__ADS_3

Isabella berulang kali mengusap air mata yang jatuh dengan punggung tangannya, sedangkan Harry masih berdiri dan menyadarkan punggungnya di salah satu rak besar perpustakaan.


"Kau akan di sini terus dan hanya menangis?" Tanya Harry.


Isabella masih diam sesenggukan.


"Kenapa kau tidak melawannya dan menampar mereka satu persatu." Kata Harry lagi datar.


"Apa yang kau tahu, kau murid baru dan tidak tahu apapun." Balas Isabella ketus dan sinis.


"Apa kau ingin aku yang melakukannya?"


Isabella mendongak pada Harry.


"Aku bisa menyeret mereka untuk meminta maaf padamu." Kata Harry.


Isabella memutar matanya karena malas menanggapi Harry.


"Biar ku tunjukkan caranya." Kata Harry dan pergi meninggalkan Isabella.


Sedangkan Isabella masih diam duduk merenung di sudut perpustakaan.


Tak berapa lama, sekitar 15 menit kemudian, Terdengar suara teriakan siswi yang mengumpat berkali-kali.


Isabella melotot dan tercengang melihat Harry datang dengan mencengkram rambut Fay dan juga Sezi. Isabella pun dengan cepat berdiri dari tempat duduknya di atas lantai.


"Apa yang kau lakukan." Kata Isabella dengan terkejut, ia tak percaya melihat kedua tangan kekar Harry mencengkram rambut-rambut Fay dan Sezi.


"Kalian tahu apa yang seharusnya kalian ucapkan." Kata Harry dingin.


"Maaf..." Kata Sezi pelan.


"Aku juga..." Sahut Fay.


Isabella mengernyitkan dahi nya tak percaya dengan pendengarannya.


"Apa? Aku tidak dengar." Kata Harry.


"Aku minta maaf, apa kau puas sekarang! Dan biarkan kami pergi!" Teriak Sezi.


"Begitukah caramu minta maaf?" Kecam Harry dengan mengangkat satu alisnya.


"Ma... Maafkan aku Isabella, tolong bilang pada Harry untuk melepaskan kami." Ulang Fay kesakitan.


Isabella pun hanya mengangguk.


Kemudian Harry melepaskan mereka dan mereka pergi dengan tergesa-gesa serta tunggang langgang karena takut pada Harry.


Isabella sedikit mengangkat ujung bibirnya karena tak percaya Harry bisa membuat para gadis-gadis itu mengucapkan maaf.


"Apa kau sudah bisa tersenyum sekarang?" Kata Harry menundukkan wajahnya untuk melihat ekspresi wajah Isabella.


"Terimakasih tapi aku harus pergi." Kata Isabella tersenyum, suasana hatinya sudah lebih baik.


Harry mengangkat bahu dan melengkungkan bibirnya pertanda "oke silahkan."


***


Selepas sekolah Isabella datang ke Mansion dan mencoba untuk melihat keadaan Zack, apalagi ia juga harus menjadi tutor Evashya.

__ADS_1


Saat tiba, suasana Mansion cukup sepi dan Isabella hanya berdiri di dekat pintu yang terbuka lebar berwarna putih.


"Kenapa hanya berdiri saja Isabella?" Suara Laura membuyarkan lamunan Isabella.


"Nyonya..."


"Masuklah, kau pasti ingin melihat kondisi Zack bukan?" Tanya Laura tersenyum dan menuruni tangga.


"Sa...Saya, minta maaf dan sangat menyesal." Isabella meremas genggaman tangannya sendiri.


"Aku seharusnya yang berterimakasih..." Kata Laura menenangkan Isabella dan meraih tangan Isabella.


"Maksud anda?"


"Zack, bercerita katanya ia memang sengaja meminum yoghurt, dia pikir sudah tidak alergi, dan kau datang melihat Zack kesakitan lalu menelfon kami."


Isabella mematung seketika dan berdehem kecil untuk membuyarkan lamunan matanya yang terkejut tidak tahu harus berbicara apa.


"Naiklah dia ada di kamarnya." Laura tersenyum dan hendak pergi.


"APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI!!!" Teriak Evashya yang baru tiba di mansion.


Laura terkejut dengan Evashya yang baru saja tiba dan justru berteriak tidak sopan.


"Evashya ada apa denganmu?" Tanya Laura.


"Mommy, dia penyebab Zack minum Yoghurt!" Teriak Evashya lagi.


"Maksud Ibu adalah, ada apa denganmu Evashya, kenapa kau pulang terlambat?"


Evashya melenguh dan tidak percaya Ibunya justru menanyakan hal yang lain.


"Evashya, ibu bertanya padamu, kenapa kau pulang sangat terlambat!" Kata Laura penuh penekanan.


Evashya hanya berdiri diam dan menggertak-gertakkan giginya, ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Oke, kau tidak menjawabnya, aku akan bertanya pada sopir dan memecatnya." Kata Laura hendak pergi.


"Shya menemui Mike Bacelo." Kata Evashya.


"Apa?!" Laura mengernyitkan dahi nya.


Evashya masih berdiri tanpa melihat Laura.


"Isabella bisa kau ke atas, aku tidak ingin kau mendengar pertengkaran antara ibu dan anak." Pinta Laura.


"Ba... Baik Nyonya." Isabella pun lari kecil menaiki anak tangga menuju ke kamar Zack.


"Wh*t the H*ll!!!" Umpatan kasar Evashya pelan hampir berbisik melihat Isabella naik ke atas\, sembari memasang wajah tak percaya.


"Katakan pada Ibu, apa yang membuatmu menemui Mike Bacelo!"


"Karena Shya ingin..."


"Oke... Sekarang dia jauh lebih memberikan pengaruh besar padamu dari pada peringatan Ibu padamu, benar begitu?"


"Shya benci di atur ini dan itu, Shya ingin bebas Mommy!!!"


"Dan seperti gadis-gadis yang berkeliaran di luar sana!!! mengikat almamater mereka di pinggang dan menyunggi tasnya, kemudian memegang rokok dan menyemir rambut mereka!! Apa kau juga ingin mengikat baju seragammu seperti ini!!!" Laura meraih ujung seragam Evashya ingin mengikatnya namun Evashya mundur sembari berteriak.

__ADS_1


"Mommy hentikan, Mommy berlebihan!!!"


"Ya, itu yang sebenarnya kau mau, lalu sepulang sekolah kau bertemu dengan kekasihmu lalu kalian menyewa sebuah motel murah di pinggiran kota dan bercinta!!! Begitu!!! Seperi siswi-siswi lain!!!" Teriak Laura hingga wajahnya memerah, nafasnya naik dan turun.


"Mommy, Shya hanya bertemu dengan Mike untuk membicarakan seni."


"Ibu mu jauh lebih tahu siapa Mike Bacelo!!!"


"Lalu siapa dia!!!" Tanya Evashya menantang ibunya.


Laura menutup mulutnya rapat, melotot pada Evashya dan mengepalkan tangan, emosi benar-benar sudah berada di ubun-ubunnya.


"Mommy tidak pernah muda kan? Pasti Mommy adalah seorang gadis desa kutu buku yang kolot dan tidak suka dengan hiruk pikuk modernisasi, Mommy adalah tipe yang tidak pernah merasakan apa itu jatuh cinta saat masih sekolah."


"Justru Ibu pernah muda, Ibu memberikanmu peringatan Evashya!!! Jadi sekarang... Kau ingin memberitahu jika kau sedang jatuh cinta begitu? Jatuh cinta dengan Mike?"


"Ya!!! Aku sudah katakan berulang kali kalau aku menyukainya!!!" Teriak Evashya tak ingin kalah.


"Baiklah, pergi dan temui kekasihmu!!! Jangan pulang ke sini sebelum kau sadar apa yang sudah kau lakukan." Laura mendorong dan mengusir anaknya.


"Mommy!!! Mommy!!! Mommy menyakitiku!!! Daddy...!!!" Teriak Evashya sembari menangi berharap ada seseorang yang menolongnya.


Laura pun menutup pintu besar mansion dan membiarkan Evashya menangis sembari menggedor-gedor pintu.


"Mommy sudah tidak menyayangi Shya lagi..." Kata Evashya menangis dan perlahan meninggalkan tempatnya berdiri.


Evashya masuk ke dalam mobil dan kemudian meminta di antarkan suatu tempat, sang sopir pun menurut dan pergi melajukan mobilnya.


Sedangkan di dalam Mansion, Laura mengusap air matanya dan berjalan menuju kamarnya.


Laura duduk di sofa dan menarik nafas untuk meredakan emosi dan tangisnya.


"Kali ini aku benar-benar harus menemui Mike Bacelo secara pribadi. Zafran cepatlah pulang." Rintih Laura.


Di kamar yang lain Zack sedang terbaring di balik selimut tebalnya yang berwarna navy, perlahan Isabella pun duduk di tepi ranjang tak ingin membangunkan Zack.


Namun Zack kemudian membuka matanya dan tersenyum, melihat seseorang yang memang ia sudah nantikan. Wajahnya masih pucat namun ia jauh lebih baik.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Isabella.


"Sudah lebih baik... Terimakasih." Kata Zack tersenyum.


"Aku sangat khawatir..."


"Aku tidak apa-apa... Aku bahkan pernah mengalami yang lebih buruk."


Isabella menekuk alisnya.


"Waktu masih kecil, saat adikku masih bayi. Aku ingat itu adalah hari paling menakutkan, beberapa dokter datang bersama perawat, mereka memasang beberapa alat masuk ke dalam mulutku dan entahlah mungkin menguras lambungku atau semacamnya, aku meminum beberapa botol yoghurt dan beberapa susu kemasan sekaligus, sejak saat itulah aku tahu tidak bisa minum yoghurt dan susu kemasan sembarangan, susu kemasan mungkin masih bisa di tolerir tapi tidak untuk yoghurt, ku pikir aku sudah dewasa dan itu tidak akan terjadi lagi ternyata aku salah." Kata Zack mengangkat senyuman.


"Apa itu sakit sekali?"


"Ya, sakit sekali tapi aku lebih memikirkanmu, sepanjang hari ini aku memikirkan apa kau baik-baik saja di sekolah."


Isabella menangis dan menggigit bibirnya, ia tidak ingin mengeluarkan suara tangisannya, lehernya tercekat mendengar Zack mengatakan itu padanya.


"Kau sakit dan masih memikirkan aku. Kau sakit karena aku dan kau masih memikirkan keadaanku di sekolah." Kata Isabella terisak dan merasa sangat bersalah.


~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2