Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
SEASON 2 -EPISODE 81-


__ADS_3

Dax yang merasa pembahasan mulai sedikit mengganggunya kemudian memilih pergi.


"Paman kau mau kemana..." Tanya Evashya.


"Paman ada urusan sebentar."


"Laptop Shya tertinggal di Apartmen Paman, bisakah kita ambil sekarang?"


Laura memicingkan matanya, tak percaya baru beberapa detik yang lalu bahkan Laura belum selesai dengan kalimat dan hukumannya, anaknya sudah mulai melanggarnya.


"Mommy menyuruh Shya belajar, semua materi ada di laptop itu, kemarin saat Shya ikut paman laptop nya tertinggal." Rayu Evashya.


"Ambil dan lekas pulang!" Kata Laura berdiri dan menuju kamarnya sembari memijit kecil dahinya.


"Jangan buat Ibu kalian pusing dan sakit, okey..." Kata Zafran memberikan peringatan sembari tersenyum, pria itu membelai kepala Evashya lembut


"Iya ayah..." Evashya menjawab dengan hormat dan menegakkan tubuhnya.


Sedangkan Zack hanya mengangguk tanda mengerti dan menuju ke kamarnya.


"Paman ayo ke apartmen, sebelum Ibu berubah pikiran." Evashya menarik tangan kekar Dax keluar mansion.


Sedangkan Dax hanya bisa mengiyakan keponakan kecilnya yang paling ia sayang dan paling ia manjakan.


Di dalam kamar Laura menghempaskan dirinya di sofa yang besar dan lembut, wanita cantik itu memijat dahinya, Zafran datang dari belakang dan memijat bahu istrinya.


"Apa nyaman?" Tanya Zafran.


"Nyaman sekali..." Laura menutup mata sembari menikmatinya.


Zafran menggendong tubuh Laura ke atas ranjang dan masih memijit kaki istrinya. Perlahan dengan gerakan yang tidak terlalu kuat.


Zafran mengambil sejumput olive oil di meja dan menggosokkan di kaki istrinya, sesekali naik hingga pangkal paha dan sesekali juga membelai sesuatu yang sensitif milik Laura.


"Apa semakin nyaman..." Kata Zafran tersenyum.


"Hmm..." Desahh Laura.


Zafran melepaskan t-shirt nya, dan tubuh kekarnya semakin terbentuk karena beberapa hari ini ia lebih banyak mengambil waktu luang nya untuk melakukan gym ringan bersama Dax dan putranya.


"Sayang lepaskan bajumu, dan berbaliklah, aku akan memijat punggung dan bahu mu." Kata Zafran mengambil oluve oil nya lagi.


Laura hanya menurut dan membenarkan tubuhnya dengan tengkurap senyaman mungkin, setelah ia menanggalkan dressnya ke lantai.

__ADS_1


Sembari memejamkan mata, Laura benar-benar meniknati pijatan Halus sang suami, pijatan lembut namun juga terasa cukup menekan.


Zafran membaluri tubuh Laura lagi dengan olive oil dan memijat punggung, bahu serta terus menuruni nya hingga kaki dan pangkal paha.


Setelah selesai dengan bagian punggung Zafran menyuruh istri nya untuk terlentang kembali dan memijat area paha depan.


"Sayang, kau belajar memijat dari mana?" Tanya Laura yang masih memejamkan mata merasakan nikmat pijatan suaminya.


"Hanya naluri saja, aku melihat mu cukup lelah, meskipun kita memiliki pelayan pribadi tentang massage tapi ku rasa aku bisa lebih membuatmu nyaman." Kata Zafran.


Tangan Zafran membelai pangkal paha istrinya dan sesekali menelusup masuk ke dalam celah underwear, membuat Laura mencengkram sprei.


Entah mengapa pijatan lembut itu berubah menjadi gerakan yang panas dan tak lama bagi mereka bergumul di atas ranjang, membuat sprei dan semuanya berserakan. Hingga akhirnya mereka menuju pelepasan yang cukup lama dan panas, kemudian mereka harus membersihkan diri bersama.


Sedangkan di tempat lain Evashya berada di apartmen Dax, berniat mengambil laptopnya dan akan segera pulang dengan seorang supir yang akan mengantarnya.


Namun ketika Evashya masuk ke dalam kamar mandi karena harus membuang air, matanya tidak sengaja melihat sesuatu. Setelah selesai dengan urusannya, gadis itu keluar dengan berlari.


"Paman, ikat rambut ini ada di kamar mandi. Kalau di lihat ini seperti..." Evashya megangkat ikat rambut berwarna pink.


Dengan cepat Dax menyambar ikat rambut itu dan memakainya.


"Kau tahu Evashya, kadang paman punya sesuatu keinginan yang aneh, contoh nya memakai ikat rambut seperti ini, bukankah ini lucu? Bentuk dan warnanya membuat paman tertarik untuk memakainya." Kata Dax tersenyum canggung.


Evashya hanya melongo dan tak bisa berkata-kata.


"Aku pulang dulu paman..."


Evashya pergi dengan mimik yang cukup cemas dan prihatin.


Dax melenguhkan nafasnya dan duduk di sofa.


Evashya pulang dan memikirkan sesuatu di dalam otaknya, rahang dan giginya bergerak-gerak sesekali matanya menyipit, meski gadis itu melihat jalanan dari balik jendela mobil namun fikirannya terus melayang tentang ikat rambut yang cukup imut itu.


"Dimana aku pernah melihatnya..." Kata Evashya lirih.


Sesampainya di Mansion, Evashya berlari masuk dengan cepat dan menuju ruang makan dimana semua sudah berkumpul.


Gadis itu terengah dan duduk di kursi kesayangannya, tangan mungilnya maju menyomot beberapa makanan.


"Evashya..." Laura memelototkan matanya.


"Ganti baju mu lebih dulu, atau seharusnya kau mandi dulu." Kata Laura pelan dan halus.

__ADS_1


"Mommy... Shya sangat lapar... Oh yaa... Mommy seharusnya paman Dax sudah waktunya menikah bukan. Shya mengerti kenapa paman tidak ingin menikah..."


"Kenapa..." Kata Zafran menyahut


"Paman memiliki kepribadian aneh... Dia..." Evashya berfikir bagaimana menyampaikannya.


"Paman memakai ikat rambut anak-anak..."


Seketika Zafran dan Zack tersedak, sedangkan Laura tanpa sengaja menumpahkan air minum yang ada di meja. Beberapa pelayan yang berdiri di dekat mereka pun datang membantu.


"Evashya, kau tahu arti kalimatmu..." Kata Zafran.


"Ayah... Aku serius. Paman Dax memakai kuncir pink sangat imut. Ayolah kalian harus menolongnya." Evashya menghentak-hentakkan kakinya, merengek.


"Besok aku akan bicara dengan paman..." Kata Zack.


"Apa kita perlu mendaftarkannya ke biro jodoh?" Tanya Zafran.


"Apa? Tidak mungkin... Dax pasti menolak sayang." Sahut Laura.


"Tapi, ku rasa... Mungkin itu hanya keinginan sesaat, mungkin dia ingin punya anak jadi memakai ikat rambut lucu..." Kata Laura lagi.


"Kurasa Dax bukan tiep pria seperti itu sayang... Dia lebih tertutup jadi memang sangat sulit menerka apa yang sedang ia pikirkan dan ia mau." Zafran berfikir serius.


"Daddy... Shya benar-benar tidak rela jika paman menjadi sesuatu yang gemulai. Paman Dax sangat tampan, bahkan jika dia adalah orang lain Shya rela berkorban demi apapun asal bisa menikahinya..." Kata Evashya sembari membayangkan Dax dengan menggenggam kedua tangannya di dada dan memejamkan mata.


Tiba-tiba Laura memercikkan air ke wajah anaknya yang sedang berkhayal.


"Bangun dari khayalanmu, dan lihat lah betapa bagusnya nilai-nilaimu..." Kata Laura.


Zafran tersenyum melihat polah tingkah anak perempuannya, sedangkan Zack masih berfikir sesuatu dalam diamnya.


Setelah makan malam selesai, seperti biasa semuanya akan berkumpul di ruang keluarga untuk sekedar menikmati waktu bersama, Evashya yang sudah selesai mandi berhambur naik ke atas pangkuas ayahnya.


"Daddy... Kapan kita akan liburan... Shya ingin ke Swiss.." Evashya berada di pangkuan ayahnya sembari mengalungkan tangan ke leher ayahnya.


"Ide bagus..." Sahut Zack sepakat dengan adiknya, ia yang sedang membaca buku nya.


Evashya membalas dengan menyeringaikan bibirnya.


"Kita ke New Zealand, kita ganggu bibi mu yang sedang bulan madu." Kata Laura yang sedang mengupas buah.


"Benarkah?! Kita akan ke tempat bibi Kate?" Teriak Evashya kegirangan dan mengambil buah apel lalu melahapnya.

__ADS_1


Di susul senyuman Zack yang juga setuju dengan ide itu.


\~bersambung\~


__ADS_2