Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
SEASON 2 -EPISOSE 80-


__ADS_3

Mobil jemputan Camilla yang juga Evashya ada di dalam nya melaju meninggalkan sekolah. Sedangkan mobil jemputan Zack juga telah pergi.


Sesampainya di Mansion seperti biasa Laura selalu menyambut anak-anaknya. Namun alis nya mengerut ketika Evashya tidak ikut pulang bersama Zack.


"Dimana adikmu?" Tanya Laura.


"Katanya akan mengerjakan tugas bersama Camilla, Ibu tidak usah khawatir." Kata Zack tersenyum dan masuk menuju kamarnya.


Laura bukan seorang ibu yang bisa dengan begitu saja menerima alasan apapun dengan mudah. Wanita itu bergegas mengendarai mobilnya dan keluar, sembari melihat ponselnya.


Alat pelacak yang sengaja di pasang oleh Zafran di ponsel milik Evashya menunjukkan mereka menuju ke arah cafe, dan mereka memasuki cafe tersebut.


"Hmm... Mengerjakan tugas dengan Camilla ya? Ibu akan lihat tugas apa yang akan kalian kerjakan."


Laura menekan gas nya lebih dalam lagi dan perjalanan menuju Cafe yang ada di pertengahan kota pun tak terlalu memakan waktu.


Akhirnya Laura sudah tiba tepat di depan Cafe La Barca dan keluar dari mobilnya. Terlihat anaknya sedang tertawa bersama sahabatnya dan tentu saja ada beberapa pria di sana. Laura mengira usia para pria cukup dewasa jika di banding dengan anaknya.



"Para pria itu terlalu dewasa untuk menjadi teman Evashya bukan?" Kata Laura lirih dengan tatapan mata nanarnya.


Laura kemudian masuk dan bel pintu cafe berbunyi, seorang waitreess menyapa dengan ramah. Namun Laura hanya tersenyum dan berlenggang masuk menghampiri meja anaknya.


"Tugas apa yang sedang kau buat Evashya?" Laura menyedekapkan tangannya dan berdiri tepat di belakang Evashya.


"Mom... Mommy..." Evashya membelalakkan matanya.


"Panggil Ibu... Bukan Mommy...!" Kata Laura dengan tegas.


"Aku..." Evashya tidak dapat menjelaskan apapun karena tepat di hadapan Ibunya bukanlah tugas sekolah yang terhidang di atas meja, melainkan permainan dadu dan beberapa minuman bir milik para pria.


"Bukankah wajah anda tidak asing?" Tanya Laura menyipitkan matanya.


"Ehem... Maafkan saya Nyonya." Seorang pria berdiri dan memberikan hormat.


"Aku tahu kau adalah guru lukis anakku, pemandangan ini benar-benar membuat hati ku sakit, ketika seorang guru justru meminum bir di depan siswanya sendiri dan mengajak main dadu." Pandangan Laura bengis.


"Mommy akan Shya jelaskan..."


"Pulang sekarang dan Ibu akan mengadukan guru lukis mu berkaitan tentang sanksi kedisiplinan." Kata Laura mengakhiri kalimatnya dengan menyeret Evashya pulang.


"Ini di luar jam pengajaran dam di luar lingkungan sekolah Nyonya, anda tidak dapat melakukan itu." Kata Pria itu.


Namun tiba-tiba langkahnya terhenti dan berbalik, Laura terhenyak dengan kalimat Mike Barcelo, ia hanya menatap nanar pada guru lukis Evashya.


"Camilla kau juga harus pulang sekarang." Laura menarik tangan Camilla.


Kini tangan Evashya dan Camilla di tarik keluar dari cafe oleh Laura dan memaksa mereka masuk ke dalam mobil, para remaja itu masuk tanpa perlawanan dan tanpa bantahan sedikitpun, hanya raut ketakutan yang ada di dalam wajah mereka.

__ADS_1


Setelah Laura mengantar pulang Camilla, kini hanya semakin sunyi keadaan di dalam mobil. Evashya tidak bisa membayangkan akan semarah apa Ibunya. Ini adalah pertama kalinya ia berbohong.


Setelah sampai di Mansion Laura keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan sedikit kasar. Evashya mengekor dan berlari kecil di belakang ibunya.


"Jully suruh Zack turun." Kata Laura dengan ketenangan yang sangat mengerikan.


Evashya duduk di sofa dan melepaskan tas nya.


Tak berapa lama Zack pun turun dan ikut duduk di samping adiknya.


Zafran yang sedang membicarakan sesuatu dengan Dax, kemudian mengerutkan alisnya, ia tahu ada sesuatu yang terjadi.


"Baiklah siapa di sini yang mencoba untuk membohongi Ibu, Zack atau Evashya." Tanya Laura yang kemudian duduk di sofa dengan menaruh kaki kirinya ke atas kaki kanannya.


Zack melirik ke arah adiknya.


"Aku hanya ingin bersenang-senang Mommy... Jangan salahkan Zack, aku yang mengancamnya." Kata Evashya.


Laura kemudian tertawa tak percaya.


"Zack, Ibu kecewa kau tidak menjaga kepercayaan Ibu untuk menjaga adikmu, kau tahu dia punya alergi dingin dan alergi debu."


"Ini salah ku, ibu bisa menghukumku." Kata Zack.


"Jangan Mommy... Jangan hukum Zack!" Teriak Evashya dan berlutut di depan Ibunya.


"Memangnya kenapa kalau Shya panggil dengan Mommy... Teman-teman yang lain memanggil ibunya dengan itu."


"Ibu geli, dengan panggilanmu yang seolah memakai nada manja dan terlalu manis.. Mooommyy..."


Terlihat Zafran dan Dax tertawa kecil melihat Laura menirukan kata Mommy dengan sedikit memanyunkan bibir dan menarik matanya ke atas apalagi dengan kepalanya yang bergoyang.


"Shya memang manis..." Kata Evashya lirih.


"Ibu akan menghukum Zack untuk tetap di rumah, kau tidak akan mengikuti karya wisata."


"Ibu... Ini tidak adil!" Kata Zack memprotes.


"Itu cukup adil karena kau membantu adikmu berbohong."


"Aku yang berbohong Mommy... Zack tidak bersalah." Rengek Evashya.


"Dan aku juga akan ikut karya wisata."


"Ibu tahu bukan, kalau aku tidak mengikuti karya wisata itu, poin dan nilai akselerasiku akan goyah." Kata Zack menerangkan.


"Kau tetap mengumpulkan karya wisata, ada paman mu ada ayahmu yang juga pebisnis handal. Lalu untuk Evashya seperti biasanya kau tetap di rumah dan tidak boleh ikut karya wisata itu!"


"Bukan itu, kita juga akan mendapat nilai dari kemandirian, bertahan hidup di alam dan menyatu dengan alam." Sahut Zack.

__ADS_1


Sedangkan Evashya masih memanyunkan bibirnya tanda tidak setuju.


"Ibu melahirkanmu dengan susah payah kenapa kau harus bertahan hidup di alam liar ketika banyak fasilitas yang bisa kau dapatkan."


"Ibu...!" Teriak Zack.


"Zack Wickley...!" Teriak Laura balik.


"Sayang, karya wisata itu penting bagi Zack. Kau tahu, kadang anak muda perlu mengenal apa itu bertahan hidup, karena hidup ini memang keras, agar Zack tahu apa itu lapar, dingin, dan kotor."


Laura memikirkan kalimat suaminya sejenak.


"Baiklah Zack kau lolos kali ini, tapi tidak untuk lain kali."


Zack menggigit bibirnya dan tersenyum puas, melemparkan senyumannya pada ayahnya pertanda ia berterimakasih.


"Tapi untuk mu Evashya, kau tahu betapa ibu sangat kecewa? Di sela nilai-nilai mu yang berjatuhan bahkan jika di perumpamakan bangunan, hanya tinggal menunggu runtuhnya. Namun kau justru asyik bermain dengan para pria dewasa!"


"Tapi dia guru lukis ku..."


"Justru itu... Kau tidak pernah tahu orang dekat justru yang paling mematikan, seperti guru lukismu, ibu benar-benar tidak menyukai nya, pandangan matanya padamu sudah menunjukkan segalanya,..." Laura menghentikan kalimatnya.


Sedangkan Dax dan Zafran mengerti apa yang di maksud Laura.


"Ibu akan mencarikan tutor untukmu..."


"Tutor?" Evashya terhenyak ia paling tidak suka jika harus belajar di bawah bimbingan seorang tutor apalagi di sekolah sudah banyak pelajaran yang menekan otaknya di rumah ia juga harus belajar di bawah bimbingan tutor.


"Ibu aku hanya ingin bersenang-senang..."


"Kau ingin bersenang-senang seperti apa? Kau tidak tahu betapa liar nya dunia di luar sana, kau seharus nya beruntung Evashya dengan segala yang kau punyai dan seharus nya kau mencontoh kakakmu, memanfaatkan segala fasilitas untuk menunjang diri jadi lebih baik dari orang lain."


"Kau mau bersenang-senang seperti gadis-gadis lain yang dengan suka rela menjual diri mereka, atau melakukan hubungan bebas dengan para pria?!" Teriak Laura.


Tiba-tiba Dax yang sedang minum tersedak, membuatnya terbatuk-batuk.


Kalimat Laura seakan mengingatkannya pada seseorang.


MIKE BACELO






~bersambung~

__ADS_1


__ADS_2