
Mansion sudah di penuhi pengawal yang sangat banyak, bahkan lebih banyak dari hari biasanya.
Mobil juga berjajar rapi dengan sangat banyak di Mansion milik Zafran, pria itu tidak ingin kecolongan lagi, kali ini pengawal di kerahkan lebih banyak dari sebelumnya.
Para sniper terbaik juga di perbanyak. Zafran belajar dari kesalahannya, tidak perlu mewah namun acara terlaksana dengan khitmat dan sempurna.
Laura berada di ruangannya, ia masih merasa trauma, gadis itu tidak mau minum dan tidak mau makan apapun. Zafran kemudian menghampiri Laura yang duduk di depan kaca rias.
"Sayang minumlah dulu."
Kata Zafran.
"Tidak Zafran."
Jawab Laura teguh pada pendiriannya.
"Air minum ini aman."
Kata Zafran kemudian meneguk air minum tersebut.
"Kenapa kau meminum airnya."
Laura cemas.
"Aku haus, dan aku gugup."
Kata Zafran.
"Aku tidak akan makan dan minum sampai acara kita selesai Zafran, jangan paksa aku lagi."
Kata Laura kesal.
"Baiklah, tapi jika kau ingin minum kau harus bilang."
Zafran merasa cemas karena Laura benar-benar tidak mau minum.
"Aku hanya takut kau akan sakit.
"Aku baik-baik saja Zafran."
Kata Laura meyakinkan dan tersenyum.
Zafran tidak dapat lagi memerintah Laura, bahkan sekarang posisi itu terbalik, Laura lebih mendominasi perannya.
Waktu telah tiba, dan Zafran mengajak Laura untuk masuk ke dalam mobil limousine, perjalanan akan memakan waktu, Stark sudah memblokade jalan menuju Gereja Tua, dan para undangan terbatas sudah menunggu di sana.
Sepanjang perjalanan terlihat para pengawal berjaga, para Sniper juga berjaga. Laura sedikit merinding dengan penjagaan yang Zafran lakukan, bahkan ia sedikit takut. Mobil beriringan sangat banyak, Mobil limousine yang Zafran dan Laura tumpangi berada di tengah-tengah iring-iringan mobil pengawal.
"Kenapa jalanan begitu lengang tanpa satu pun kendaraan Zafran."
"Aku sudah memblokade semuanya, tidak ada yang boleh melewati jalan yang akan kita lalui menuju Gereja Tua sampai kita kembali ke Mansion lagi."
Kata Zafran.
Laura hanya memandangi Zafran tanpa sepatah katapun.
__ADS_1
Akhirnya perjalanan ditempuh dengan lancar dan mereka sudah tiba di Gereja Tua, para undangan yang berjumlah tidak lebih dari 20 orang sudah duduk di dalam gereja.
Zafran membantu Laura keluar dari mobil, kemudian mereka menaiki tangga yang cukup lebar, dan pintu kayu yang besar terbuka.
"Seharusnya aku menunggumu di altar, tapi aku sangat khawatir, jadi kita berjalan bersama."
Kata Zafran tersenyum dan mengulurkan lengannya.
"Seharusnya Kate yang mengantarku kan."
Kata Laura tersenyum.
"Kita berjalan bersama."
Ajak Zafran.
Laura tersenyum dan Zafran juga tersenyum, mereka berjalan bersama.
Gereja tua yang tak jauh dari sekolah tempat Zafran dan Laura menjadi saksi bisu bagaimana sepasang remaja pernah saling mencintai dengan perasaan dan gairah yang membara.
Setiap pulang dari sekolah mereka selalu menyempatkan berdoa di sana, hingga mereka berperan seolah-olah sebagai mempelai pria dan wanita. Dan gereja itu jugalah yang menjadi saksi perjuangan hubungan mereka.
Di depan gereja tersebut Zafran di bawa oleh beberapa polisi ketika Laura melarikan diri dari rumah, karena mereka ingin melangsungkan pernikahan. Orang tua Laura menjebloskan Zafran dengan tuduhan penculikan dan pernikahan paksa.
Dan kini dua pasang yang saling mencintai sudah saling berhadapan. Laura memakai gaun pengantin sederhana yang sangat indah. Gadis itu terlihat sangat cantik dan bercahaya dengan rambut terurai dengan mahkota bunga di kepalanya dan juga buket bunga yang ada di tangannya,
Kate, Jane, Philip, serta beberapa relasi dekat menjadi saksi pernikahan mereka. Sedangkan sisanya diisi oleh para pengawal yang sangat banyak, mereka semua berjaga dengan ketat.
Tidak ada pengumuman apapun sebelumnya, acara di adakan secara tiba-tiba, membuat para undangan cukup terkejut, semua itu karena untuk mengantisipasi menyebarnya kabar pernikahan mereka.
"Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi, maka saya Zafran Volkofrich dengan niat yang suci dan ikhlas hati telah memilihmu Laura Elsabeth Quenn menjadi istri saya. Saya berjanji untuk selalu setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan juga sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan juga menghormatimu sepanjang hidupku. Saya bersedia menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak yang akan dipercayakan Tuhan kepada saya dan akan mendidik mereka dengan kasih sayang, serta menjaga kalian dari apapun."
Kemudian Laura pun juga mengucapkan janjinya.
"Zafran, aku mengambil engkau menjadi seorang suami, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."
Pendeta mengarahkan pada Zafran untuk memakaikan cincin pada Laura dan sebaliknya, tiba saatnya Zafran mencium Laura, dan gadis itu memejamkan mata, mereka saling berciuman dan semua terharu dengan apa yang mereka lihat, semua bertepuk tangan.
Laura kemudian melemparkan bunga nya ketika aampai di depan gerbang, dan Kate dengan semangat menangkapnya namun ia hampir terjatuh dan Stark menahan tubuh Kate.
"Astaga Kate dan Stark."
Pekik Laura dan menuntup mulutnya, Laura tertawa diikuti oleh Zafran dan para undangan lainnya.
Pernikahan berlangsung cepat, Zafran tidak ingin berlama-lama, pria itu sangat ingin segera membawa Laura pulang, seolah tidak boleh ada orang lain yang memandang Laura lebih lama. Laura adalah milik Zafran seutuhnya, dan tidak ingin berbagi meski hanya untuk di pandang.
Sepanjang jalan Zafran terus saja menciumi tangan Laura yang ia genggam dengan erat, tanpa henti. Pria itu sesekali menggigitnya. Tak percaya bahwa Laura telah menjadi istrinya.
"Aku berharap ini bukan mimpi."
Kata Zafran kembali menggigit kecil tangan mungil Laura.
"Harusnya aku yang menggigitmu untuk menyadarkan kau Zafran, kenapa kau yang menggigitku..."
Protes Laura pada Zafran.
__ADS_1
Melihat istrinya protes dan cemberut Zafran kemudian mengarahkan wajah Laura untuk menatapnya.
"Aku sangat bahagia."
Kata Zafran.
"Aku tahu, aku juga"
Jawab Laura.
Kemudian Zafran mencium Laura, sangat lama, penuh gairah, dan terus menekan masuk hingga Laura merasa terengah, dan Zafran melepaskan ciumannya.
"Zafran..."
Suara Laura lirih.
"Hm..."
Jawab Zafran dengan suara parau.
Wajah mereka sangat dekat, hingga hidung mereka bersentuhan.
"Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan..."
Kata Laura ragu dengan suara berbisik.
"Apa itu..."
Jawab Zafran juga dengan berbisik.
Wajah mereka masih saling menempel.
Sebelum Laura menyampaikan apa yang ada dalam pikiran dan di dalam benaknya, mobil sudah mulai memasuki gerbang, dan kemudian terus masuk ke dalam Mansion dan perlahan berhenti di depan pintu Mansion yang besar. Semua pelayan berbaris dan memberikan selamat pada mereka.
"Kita sudah sampai."
Bisik Zafran dan mencium Laura kembali.
Kemudian Zafran keluar dari mobil dan menggendong Laura masuk ke dalam Mansion.
"Selamat atas pernikahannya Tuan Zafran Dan Nyonya Laura, dan selamat datang kembali, semoga kebahagiaan selalu berlimpah pada kalian."
Kata para pelayan bersamaan.
Laura merasa sangat malu, ia belum terbiasa.
"Kau ingin Honeymoon kemana sayang?
Tanya Zafran pada Laura yang terlihat malu dan menyembunyikan wajahnya di dada Zafran.
.
.
.
__ADS_1
~bersambung~