Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASON 2 -


__ADS_3

Dax serta Isyana menikmati malam di balkon kamar, dengan lampu remang-remang berwarna keemasan yang berpijar hanya menyinari sebagian, karena tak terlalu terang.


"Kau tahu Isyana, aku tidak pernah menduga dan tidak pernah menyangka apalagi berharap, jika selama sisa hidupku akan ada seorang wanita atau gadis yang bisa membuat ku bergairah. Selama ini tak pernah ada wanita manapun yang bisa membuatku bersemangat, dan aku terkejut hanya kau yang bisa membangkitkan gairah yang ada di dalam diriku."


Dax memeluk tubuh mungil Isyana, merengkuhnya masuk dalam dekapannya. Mereka masih duduk di balkon di atas kasur lipat yang empuk, sesekali angin menerpa tubuh mereka.


"Dan kau tahu Isyana, kau lah yang pertama membuatku berbagi ranjang, kau yang pertama membuatku merasakan candu, ingin dan ingin lebih memiliki tubuhmu."


Dax mengarahkan bibirnya pelan pada tengkuk Isyana lalu memberikan kecupan lembut namun juga penuh dengan gairah, kemudian Dax menyesap tengkuk kecil milik Isyana. Seketika membuat Isyana yang kepalanya berada di lengan kiri Dax, pun melenguh.


Tangan kanan Dax mulai membuka sedikit demi sedikit baju Isyana, membuka pengait bra milik Isyana dan mengarahkan wajah Isyana untuk menatapnya.


"Aku ingin melihat wajah cantikmu Isyana, kau memiliki mata indah yang sayu ketika menginginkan sentuhan lebih..."


Kini, pakaian Isyana sudah sedikit terbuka dan terlihat dada nya sedikit menyembul dari bra yang telah terlepas. Isyana pasrah, ia memang tidak bisa memungkiri bagaimana Dax dapat membuatnya gila dan memang faktanya adalah ia tidak bisa menolak semua perlakuan Dax.


"Apa kau takut?" Kata Dax dengan suara serak.


Isyana hanya mengangguk pelan dengan mata yang sayu karena tangan Dax mulai merayapi punggung Isyana.


"Aku tidak janji.... Aku akan melakukan nya dengan pelan, dan kau harus tahu itu akan menyakitkan buatmu karena ini adalah yang pertama kali untukmu."


Isyana menelan ludahnya, dan menggigit bibirnya ketika tangan Dax yang satu mulai meluncur di bawah sana.


Tangan kekar itu menelusup masuk dan bergerak pelan di bagian sensitif milik Isyana.


Membuat Isyana pun melayang hingga ubun-ubunnya meremang.


Isyana mendesis ketika Dax mempercepat gerakan jarinya, sedang tangan yang lain mencengkram tengkuk Isyana mengarahkan wajah Isyana padanya.


Dax mulai ******* bibir Isyana dengan rakus, menyesap dan seolah ingin menelannya.

__ADS_1


Perpaduan yang luar biasa untuk Isyana, dan membuat Isyana merengkuh leher Dax untuk menjadi pegangannya, gadis itu melenguh dan tidak bisa menahan gejolaknya.


Dax mengangkat Isyana masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuh Isyana yang jauh lebih kecil dari nya.


Pria itu membuka pakaiannya dan membuat nya dalam keadaan polos. Isyana cukup malu melihat itu apalagi melihat pada sesuatu yang asing baginya.


Dax perlahan juga membuka pakaian milik Isyana, 2 gunung kembar pun menyembul sempurna di hadapannya, membuat pria itu langsung meluncur dan menyesapnya, menekan tubuh Isyana hinga membuat gadis itu mendesahh.


Dax menimpa tubuh Isyana, rakus menyesap semuanya, hingga Isyana pun merangkulkan tangannya pada leher Dax dan kedua kakinya juga melingkar di pinggang besar Dax, mengapitkan kakinya di piinggang Dax dan tubuhnya kian menegang.


Isyana melenguh dan melengkungkan dadanya.


"Tuan..." Kata Isyana meremas rambut Dax dan mencengkramnya.


Dax turun menelusuri tubuh Isyana, dan terus turun hingga pada pusat dimana Isyana akan merasakan sesuatu yang lebih membuatnya melayang.


Dax menelusuri setiap inci tubuh Isyana dengan bibirnya, menyesap kesana dan kemari hingga memberikan banyak bekas merah pada tubuh Isyana.


Isyana tidak dapat lagi menahannya, ia melengkungkan tubuhnya pertanda telah mencapai puncaknya yang pertama.


Dax sangat menyukai saat-saat dimana Isyana mengeluarkan suara-suara lenguhannya yang indah, kadang mendesis, dan kadang menjerit.


Dax kemudian naik, kini mereka sudah dalam posisi yang pas.


"Aku mulai." Bisik Dax.


Dengan sekali hentakan, membuat Isyana menjerit dan mencakar punggung Dax, tubuhnya memang sangat kecil di banding tubuh Dax.


"Ini sakit sekali." Kata Isyana.


"Oh... D*mn it!" Umpat Dax.

__ADS_1


Sesuatu yang luar biasa membuat Dax mengumpat, perasaan yang ingin sekali untuk memompa dengan cepat hingga naik pada ubun-ubunnya, sesuatu yang luar biasa hingga benar-benar seolah menjepitnya.


Namun Dax masih membiarkannya tetap diam dan menunggu hingga Isyana merasa nyaman.


Dax mencium bibir Isyana dan mencium semua yang bisa membangkitkan gairah Isyana. Bahkan berulang kali Dax bermain di 2 gunung milik Isyana.


Dax kini mulai bergerak, memompa pelan tubuhnya tak ingin Isyana merasa tertekan.


Dax sendiri merasakan hal yang sangat luar biasa. Sesuatu yang sempit dan menjepit. Jika ia tidak mengontrol dirinya maka ia akan benar-benar hilang kendali dan tanpa memperdulikan Isyana, entah gadis itu merasa sakit atau tidak ia sangat ingin memompa sesuai kemauannya.


Namun ia tidak bisa melakukan itu, mengingat ini yang pertama kali baginya dan juga bagi Isyana.


Dax seolah macan yang sangat kelaparan namun sedang menahan dirinya untuk tidak melahap habis buruannya. Macan yang sedang kelaparan namun hanya menjilati daging di hadapannya.


Dax memiliki pengendalian diri yang sangat terkontrol, ia tidak memperdulikan bagaimana dan sebesar apa gairah yang ia rasakan sekarang. Namun yang ia pikirkan adalah bagaimana malam itu mereka bisa menikmatinya bersama.


Bagaimana Dax ingin Isyana pun juga bisa menikmati semuanya, Dax tidak ingin egois, bisa saja ia dengan tamak dan dengan segala kekuatan yang ia miliki melepaskan semua gairahnya dengan kekuatan yang besar dan kekuatan yang mungkin bisa saja meremukkan tulang-tulang Isyana.


Namun, Dax ingin menikmatinya bersama-sama. Dax tidak mau hanya sepihak.


Malam itu, perlahan namun pasti setelah beberapa jam berlalu, Dax mulai memgeluarkan sedikit demi sedikit tenaganya ketika Isyana mulai merasakan kenyamanan. Ketika Dax mulai mendengar lenguhan dan desisan serta suara-suara Isyana yang merdu lagi.


Dax mulai mengeluarkan seluruh tenaganya, Dax merubah posisi, membolak balikkan tubuh kecil Isyana sesuai apa yang ia mau.


Dan Isyana terus saja berteriak karena sesuatu yang selalu saja membuatnya mengejang dan seolah sengatan listrik menyetrum tubuhnya, tubuhnya selalu bergetar hingga akhirnya pada pagi hari Dax menggapai sebuah pengaman dan menggigitnya kemudian memakainya siap untuk pelepasan sempurna.


Dengan seluruh tenaganya Dax bagai macan yang terus berlari sekencang mungkin dan terus mencari titik puncaknya hingga seluruh ototnya bergerak dan terlihat menonjol, seluruh kenikmatan itu menyatu di ubun-ubun dan di bagian yang sudah siap pada tegangan tinggi dan pada akhirnya suara lenguhan Dax menggerung dan menggeram pertanda ia telah menyelesaikan permainanya dengan sempurna.


Dax terjatuh di atas tubuh polos Isyana, kemudian mengecup kening dan bibir Isyana dengan nafas dan dada yang naik turun.


Dax merengkuh tubuh Isyana yang lemah dan memeluknya dalam dekapan tangan kekarnya.

__ADS_1


~bersambung~


__ADS_2