Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
SEASON 2 -EPISODE 82-


__ADS_3

Dax sedang memeluk tubuh mungil seorang gadis hingga hanya kepala dan bahunya saja yang terlihat. Isyana nyaman dalam dekapan tubuh kekar Dax, ia terbalut selimut putih tebal dan tentunya tanpa busana.


Gadis itu telah melalui beberapa jam panas bersama Dax tanpa melampaui batas janji yang Dax berikan, bahwa ia tidak akan merenggut keperawanan gadis itu sebelum Isyana berusia 17 tahun.


"Ceritakan tentang dirimu... semuanya. Aku bisa saja mencari informasi dengan detail bahkan ukuran pakaian dalam mu, tapi aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu..." Kata Dax lirih dan masih memeluk Isyana kemudian pria itu mencium tengkuk mungil milik Isyana.


"Singkatnya, saya bukanlah anak kandung dari ibu yang sekarang terbaring di rumah sakit karena penyakit kanker, dia adalah ibu sambung saya, di dunia ini hanya dia yang saya punya. Ibu pernah bercerita, saya adalah anak dari orang kaya. Malam itu katanya hujan turun sangat lebat, seseorang mengetuk pintu rumahnya dan dia adalah temannya, katanya malam itu temannya memilih kabur dari rumah dan membawa saya pergi. Dia adalah ibu kandung saya, lalu ia menitipkan saya, katanya hanya sebentar dan dia akan segera kembali untuk mengambil saya."


"Kau tidak ingin bertemu dengan keluargamu?" Tanya Dax


"Saya pernah mencari informasi di internet tentang nama belakang saya, dan memang ada. Namun tidak ada foto apapun di sana bahkan di semua situs, lagipula jika mereka menginginkan saya pasti mereka akan mencari saya. Tapi, hingga saya berumur hampir 17 tahun, tidak ada yang pernah mencari saya, dan saya memutuskan untuk mengubah nama saya dengan pemberian dari ibu sambung saya, Dorothy Aubrey, dan Isyana Aubrey adalah nama yang kini saya gunakan."


"Jadi saya pikir, saya sudah selesai dengan mereka dan sudah memutuskan untuk menjadi anak dari seorang wanita tuna wisma."


"Dan ada satu hal lagi yang seharusnya anda tahu tuan..." Kata Isyana yang kemudian memutar tubuhnya, menghadap pada Dax.


"Saya bukanlah siswi dari Hill School, saya hanyalah penjaga perpustakaan, seorang guru sangat prihatin pada saya, dengan kebaikan hatinya saya diijinkan untuk menjadi penjaga perpusatakaan dan memakai seragam yang sama dengan mereka, melayani semua keperluan mereka tentang apa yang mereka perlukan di perpustakaan. Maafkan saya, saya sangat malu dan merasa bodoh di hadapan anda." Isyana menyesal dan menutup matanya, kemudian kedua telapak tangannya menarik selimut hingga menutupi wajahnya.


"Untunglah..." Kata Dax lirih, dan melenguhkan nafasnya.


"Apa anda marah tuan..." Tanya Isyana.


"Tidak, aku tidak tidak marah."


Dax tidak marah, namun ia justru merasa lega, itu berarti Isyana tidak terlalu dekat dan tidak sering bertemu dengan kedua keponakannya, sekolah sangat luas dan perpustakaan di sana pun tidak hanya 1, apalagi banyaknya siswa pasti mereka tidak akan saling mengenal.


"Apa anda akan mencari informasi tentang saya lagi dan akan membuang saya?" Tanya isyana.


"Jika aku ingin, sudah ku lakukan dari awal kita bertemu..." Dax mengeratkan pelukannya pada Isyana dan mencium punuk kepala Isyana.


Ciuman pria itu kemudian turun hingga wajah dan bibir Isyana. Dax mencium dan menyesapnya hingga bibir kecil Isyana masuk seluruhnya ke dalam mulutnya.


Pria itu kemudian mengubah posisi tidurnya,berada di atas tubuh Isyana, menyangga tubuh kekarnya dengan lengan kiri dan tangan yang lain bergerilnya masuk ke dalam selimut mencari sesuatu yang membuat Isyana kembali tersentak.

__ADS_1


Tubih mungil itu menegang, dadanya membusung, sedikit demi sedikit ia bisa mengikuti irama gerakan tangan kekar milik Dax.


Semakin cepat dan semakin cepat gerakan itu di bawah sana yang tertutup dengan selimut.


Isyana menjerit lirih, dan mengeluarkan kata "Ooh Ya Tuhan" berkali-kali dari mulut mungilnya.


Dax menciumi dada Isyana, memberikan banyak bekas merah di sana dan mulai turun dan terus turun membuat semua tubuh Isyana memiliki belas merah. Maha karya terbaik dari Dax.


Isyana merasakan sesuatu akan datang, tubuhnya akan bergetar kemali, seolah sengatan listrik kenikmatan siap menyetrumnya kembali, suaranya sudah semakin cepat dan keras, dadanya sudah kian membusung ketika di bawah sana ada sesuatu yang masuk seperti sebuah daging kenyal dan itu adalah lidah milik Dax.


"Ting Tong!"


"Ting Tong!"


"Ting Tong!"


Tiba-Tiba Isyana tersentak kaget, dan menarik diri. Dax pun duduk di atas ranjang, melihat siapa yang datang melalui layar monitor di dekat ranjangnya yang terpasang di dinding.


"Zack dan Evashya..." Kata Dax lirih dan mengusap wajah serta rambutnya.


Dax pergi meninggalkan Isyana di dalam kamar sendirian, sedangkan gadis itu melihat ke arah layar monitor siapa yang mencari Dax.


"Apakah mereka siswi di sekolah Hill School, wajah mereka tidak asing..." Kata Isyana lirih.


Dax kemudian membuka pintu lift dengan pin dan sidik jarinya.


"Ting!" Pintu lift pun terbuka.


"Paman!!! Tumben liftnya di kunci!!!" Evashya masuk dengan cemberut dan akan menuju dapur mencari sesuatu.


Namun dengam cepat Dax menarik tangan Evashya dengan pelan.


"Apa kau mau makan? Teman paman membuka restoran baru dan banyak makanan kesukaanmu apa kau mau mencobanya?" Kata Dax menarik nafasnya.

__ADS_1


Sedangkan Zack melihat tingkah pamannya sangat aneh ia pun curiga, dan pandangan.matanya tanpa sengaja melihat sebuah tas wanita, tidak itu adalah tas sekolah siswi Hill School.


"Evashya kita harus pergi." Kata Zack dengan santai, kedua tangannya ada di dalam saku celana.


"Kenapa?!! Kita baru sampai!!!" Kata Evashya berteriak.


"Kau punya banyak tugas sekolah, ayo!" Kemudian Zack menarik adiknya dengan cara memeluk lehernya dan memitingnya untuk pergi dan masuk ke dalam lift.


"Maaf paman sudah menganggu, nikmati dan lanjutkan saja!!!" Kata Zack menyeringai kan senyumannya.


"Hey...!!! Apa maksud kalimatmu!!!" Teriak Dax.


Dan pintu lift pun menutup bersamaan ketika Zack mengedipkan satu matanya.


"Dasar anak-anak nakal..." Dax meremas tengkuknya dan kembali ke dalam kamar.


Dax melihat kamarnya kosong, Isyana tidak ada di ranjangnya. Kemudian pria itu mendengar auara gemericik air.


Langkah kakinya pelan menuju kamar mandi, kemudian ia membukanya dan terlihatlah Isyana sedang berada di bawah guyuran shower. Terlihat bagaimana postur tubuh gafis itu sangat bagus.


Dax masuk dan membuka bajunya, kemudian masuk bergabung membuat Isyana yang sedang menutup mata dan mengguyur rambutnya pun terkejut.


"AAAKHH!!!" Isyana terkejut dan memekik tatkala Dax memeluknya dari melakang dan kemudian tangan kekar itu merangkup dua gunung yang kokoh dan terlihat sangat menggodanya.


"Aku benar-benar tidak sabar..." Bisil Dax di telinga Isyana.


Pria itu ingin segera melahab habis Isyana, bagaimana ia bisa tahan jika setiap hari ada hidangan yang membuatnya kelaparan.




__ADS_1



~bersambung~


__ADS_2