Terjerat Cinta Pria Miliarder

Terjerat Cinta Pria Miliarder
- SEASON 2 -


__ADS_3

Malam hari di Mansion ...


Di dalam kamar nya yang mewah dan sangat besar, Laura duduk termenung, ia duduk bersandar di balkon kamar, melihat taman yang remang-remang karena cahaya bulan dan pantulan lampu-lampu yang berpijar.


Pikiran Laura di liputi dengan penuh tanda tanya, pernikahan itu seolah di paksakan dan secara mendadak.


"Ah sudahlah, mungkin mereka ingin saling move on dengan cara saling mendukung satu sama lain."


"Apa yang sudahlah sayang..." Kata Zafran yang tiba-tiba datang dari belakang dan membelai kedua lengan Laura dengan lembut.


"Tidak ada..." Kata Laura acuh.


"Kau masih marah padaku?" Tanya Zafran yang memeluk Laura dari belakang. Tubuhnya membungkuk dan mencium pipi kanan istrinya.


Tidak ada jawaban, Zafran kemudian berpindah untuk duduk di samping Laura, dan menarik sebuah kursi sehingga menimbulkan suara deritan.


"Apa kau mendapatkan undangan itu?" Tanya Zafran.


"Apa kau yang melakukannya Zafran?" Tanya Laura balik dengan menyedekapkan tanganĀ  dan memicingkan matanya. Mencoba menelisik dari mata Zafran.


"Melakukan apa?" Tanya Zafran.


"Kau mengancam Luwis?" Tanya Laura.


"Untuk apa?" Zafran tertawa sembari menyeringaikan mulutnya.


"Entahlah, kepalaku pusing mungkin aku terlalu berfikir terlalu berat akhir-akhir ini." Kata Laura memijit bahunya dan menutup mata.


Laura merasa tengkuk lehernya kaku dan kepalanya pusing serta sangat berat.


"Kau harus istirahat sayang, biar ku bantu ke tempat tidur." Kata Zafran dan memapah Laura berjalan ke ranjang.


"Kita akan liburan setelah Zack menyelesaikam karya wisatanya, kau ingin mengunjungi Kate bukan?" Kata Zafran memeluk istrinya dari belakang.


"Hmm..." Laura mengangguk dan menutup matanya mencoba se rilex mungkin agar cepat tertidur.


Zafran memeluk Laura dari belakang dan mencium tengkuk Laura dengan kasih sayangnya.


"Syukurlah..." Kata Zafran dalam hati.


****


Beberapa hari yang lalu....

__ADS_1


Zafran sedang ada di ruangannya, duduk di kursi kebesarannya dan bekerja seperti biasa.


"Maaf tuan, ada yang ingin bertemu." Kata Stark.


"Siapa..." Zafran masih sibuk berkutat dengan laptopnya.


"Tuan Luwis." Jawab Stark.


Zafran menyandarkan punggungnya dan berfikir sejenak.


"Suruh masuk."


Setelah Stark pergi dan mengijinkan Luwis masuk, pria itu pun duduk bersama Zafran di sofa yang berada di pojok ruangan. Hampir sebagian kantor itu adalah kaca besar yang menjulang tinggi.


"Kantor mu luar biasa Zafran." Kata Luwis memuji.


"Aku tidak akan mengucapkan terimakasih, hubungan kita bukan lah seperti sahabat yang saling mengucapkan terimakasih." Jawab Zafran datar.


"Aku datang untuk meminta tolong..." Kata Luwis tanpa basa-basi.


Zafran tahu apa maksud Luwis, pria sombong yang ada di depannya ini telah jatuh miskin, perusahaannya bangkrut dan koleps. Maka dari itu saat Luwis bertemu di pemakaman Zafran hanya mengacuhkan, lebih dari pada itu Zafran tahu istrinya tidak akan tertarik dengan Luwis, karena Luwis adalah masa lalu yang sudah tidak akan pernah bisa lagi masuk di antara mereka.


"Aku ingin meminjam uang padamu, untuk menyuntik perusahaanku." Kata Luwis.


"Aku tidak yakin, ku rasa ada seseorang yang ingin membuat perusahaanmu koleps sepenuhnya. Tapi aku bisa menyokong perusahaanmu tanpa jaminan dan tanpa bunga, kau bisa mengembalikannya sewaktu-waktu." Kata Zafran.


"Sebenarnya, aku sedang bermasalah dengan istriku, dia mengira aku ada sesuatu dengan Catherina Moon. Aku ingin kau menikahinya agar istriku bisa melupakan masalah ini."


"Kau mau aku menikah dengan Catherina Moon?" Kata Luwis tak percaya.


Zafran menjawab dengan mengangkat kedua bahunya dan melengkungkan bibirnya.


"Kau tahu Zafran, hanya Laura yang..."


"Jika sudah selesai kau tahu dimana pintunya." Sambar Zafran dengan cepat, sebelum Luwis menyelesaikan kalimatnya.


Kembali lagi pada sifat Zafran, dari dulu ia adalah pebisnis ulung, ia licik dan ingin mengambil segala kesempatan yang ada. Meskipun kelicikan Zafran untuk mendapatkan Laura, dan sekarang untuk tetap mempertahankan keluarganya.


"Baiklah aku setuju." Akhirnya Luwis menerimanya.


"Sebisa mungkin kau harus bisa membujuk Catherina, jika kau bisa mengajaknya bekerja sama aku menyanggupi pinjaman itu, bonusnya aku menghibahkannya, tanpa pengembalian." Kata Zafran.


Setelah perjanjian itu, Luwis pun pergi. Demi menyelamatkan perusahan dan para karyawannya, Luwis harus melakukan nya. Pria itu masih sangat mencintai Laura namun ia sudah tidak memiliki pilihan lain.

__ADS_1


Catherina bukan lah orang baru bagi Luwis. Mereka sudah sering bertemu dan saling kenal, bukan hal susah jika Luwis ingin bertemu dan berbicara. Setelah pembicaraan yang cukup alot akhirnya Catherina mau membantu, ia juga tidak bisa memungkiri jika ia pun ingin terlepas dengan perasan masa lalu nya pada Zafran yang bertepuk sebelah tangan.


****


Makan malam pun tiba tanpa adanya Laura, hanya Zafran kedua anaknya dan juga Dax yang kebetulan berada di Mansion.Mereka makan dengan tenang sebelum Zack membuka pembicaraan.


"Paman sudah lama tidak ke sini..." Kata Zack.


"Paman sibuk, banyak rapat beberapa hari ini." Kata Dax menyelesaikan makan malamnya dan meminum air putih.


"Karena itu juga kah paman tidak datang saat latihan berkuda." Tanya Zack lagi.


"Astaga... Paman lupa. Maafkan paman Zack, mungkin lain kali. Okey."


"Tidak usah, mungkin paman sudah punya acara yang lebih penting, dengan pacar paman misalnya." Kata Zack sembari mengelap mulutnya dan membuang serbet itu ke atas piring dengan kesal.


Zack pergi naik ke atas tanpa berpamitan. Zack bukanlah orang yang biasa marah, namun entah kenapa kali ini ia merasakan kekesalan yang amat luar biasa tiap kali melihat Dax.


"Ada apa dengan kakak mu Evashya..." Tanya Zafran.


"Entahlah." Jawab Evashya dengan mengangkat kedua bahunya.


Dax hanya diam, ia pun merasa pasti ada sesuatu yang Zack ketahui.


"Kurasa Dax marah karena aku tidak menemaninya berkuda, aku akan menyusulnya." Kata Dax pada Zafran.


Dax pun pergi ke kamar Zack, mengetuk pintu dan masuk. Saat itu Zack sedang belajar sembari memakai headset nya. Dax masuk dan melepas satu headset di telinga Zack.


"Maaf Zack, lain waktu kita bisa merencanakannya lagi." Kata Dax menyesal.


"Tidak perlu paman, aku juga sedang sibuk, sebentar lagi akan ada karya wisata."


"Apa perlu paman antar?"


"Tidak perlu juga, kami memakai bus kesana." Kata Zack memakai headset nya kembali dan masih acuh.


Dax memilih untuk pergi dan keluar, setelah ia berpamitan namun Zack masih saja tidak mau menanggapi dan membaca bukunya sembari mendengarkan musik.


Namun tepat di depan kamar Zazk, Dax mengangkat telfon nya yang bergetar berkali-kali dan sedikit membuat Zack penasaran, membuatnya melepaskan headsetnya.


"Tenang... Tenang... Aku segera kesana... Jangan menangis... Aku akan segera datang, Okey." Kata Dax yang cukup panik dan pergi berlari.


Zack hanya menelan ludahnya kasar membuat lehernya terlihat naik dan turun. Tangannya meremas halaman kertas di buku yang ia genggam. Cengkraman yang cukup kencang membuat kertas halaman itu sedikit lagi pasti akan robek.

__ADS_1


Dan pada akhirnya Zack menyerah untuk tidak peduli, Zack melepaskan headsetnya dengan kasar, ia berdiri melangkahkan kakinya keluar mansion, dan mengemudikan mobilnya mengikuti kemana Dax akan pergi.


~bersambung~


__ADS_2