
Di tempat yang lain, sudah beberapa hari berlalu dan hubungan Laura serta Zafran semakin dingin, dan para pelayan juga merasakannya. Mansion seolah berubah menjadi kutub utara dan kutub selatan.
Perang sunyi dan kedinginan dari masing-masing sikap Laura serta Zafran berimbas pada Zack. Apalagi terakhir kali Zack yang sudah dapat berjalan dan berkeliaran memergoki orang tuanya sedang bertengkar.
Laura selalu memprotes, dan Zafran tidak suka dengan sikap istrinya karena selalu meninggikan suaranya ketika berbicara padanya.
Laura menganggap janji dan kesepakatan yang Zafran berikan hanya palsu belaka, apalagi Zafran menuduhnya berselingkuh itu adalah hal yang sangat menyakitkan baginya.
Di dapur para pelayan sedang bergosip.
"Kau sedang apa Melda?"
"Aku sedang menyiapkan peralatan untuk membersihkan kamar tuan Zafran."
Kata Melda.
"Aku sudah membersihkannya tadi."
Kata Hilda.
"Kamar tuan Zafran yang lain."
Bisik Melda di telinga Hilda.
"Apa mereka masih tidur terpisah?"
Bisik Hilda lagi.
"Iya, bahkan kemarin malam aku mendengar Nyonya Laura dan tuan Zafran bertengkar, suara Nyonya Laura sangat keras."
"Mansion jadi seperti bangunan yang suram saat mereka tidak akur."
Kata Hilda.
"Kalian sedang apa, jangan menggosip dan cepat selesaikan pekerjaan kalian masing-masing."
Kata Jully memerintah.
Jully merasa sedih dengan keadaan Mansion, dan Zack seolah kehilangan keceriaannya setelah melihat orang tua mereka bertengkar.
Zafran berada di ruang kerjanya dan tak berapa lama Stark datang dengan mengetuk pintu terlebih dulu.
"Ada tuan Dax di luar, dia meminta bertemu."
Kata Stark.
"Beraninya dia datang menemui kekasihnya dengan terang-terangan. Aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan di sini, ini akan menjadi pertunjukkan yang bagus, suruh dia masuk."
Kata Zafran.
Stark kemudian pergi dan memerintahkan pengawal untuk membuka gerbang.
"Buka gerbangnya."
Kata Stark melalui headphone nya.
Mobil mewah masuk dengan sedikit cepat dan terparkir tepat di depan Mansion.
Dengan tubuh tegap dan tampan Dax masuk menemui Zafran di ruang kerja.
"Ku dengar kau mengurung Laura."
Kata Dax kemudian duduk di depan Zafran.
Pandangan Zafran bengis dan tidak suka pada pria yang sedang ada di hadapannya, bagaimana tidak Dax memiliki perawakan yang tampan, dan banyak wanita pasti juga akan tertarik padanya.
"Peduli apa kau."
Kata Zafran.
__ADS_1
"Kau di butakan oleh kecemburuan, tapi aku salut kau sangat mencintainya."
"Jadi untuk apa kau datang kesini, aku tidak punya banyak waktu dengan segala omong kosongmu."
Kata Zafran ketus dan memainkan pena nya.
"Aku ingin melakukan tes DNA dengan Laura, aku yakin dia adalah adikku yang hilang saat usianya masih bayi."
Kata Dax dengan lugas.
"Apa!!!"
Zafran terperangah.
"Jangan bermain-main dengan ku."
"Aku yakin Laura adalah adik perempuanku, saat itu Mansion terbakar, semua kekacauan itu membuat seluruh orang panik, dan tiba-tiba adik perempuan ku menghilang. Orang tua kami tidak selamat."
Kata Dax memberikan keterangannya.
"Saat itu pun usia ku masih kecil, apa yang bisa di lakukan oleh seorang anak kecil?"
Zafran masih terdiam dan terpaku, sedikit ada rasa sesal di dalam dirinya.
"Kita lakukan di rumah sakit milikku."
Kemudian Zafran naik ke atas, menuju ruangan dimana Zack sedang bermain dan mendatangi Laura yang sedang melukis, mengajari Zack memegang kuas dan melukis indah di kanvas.
"Ayo kita bicara."
Kata Zafran.
"Apa lagi yang ingin di bicarakan, kau tetap tidak akan mengijinkanku keluar."
Kata Laura tanpa memandang Zafran, nada bicaranya pun sedikit tidak mengenakan.
Suara Zafran melemah.
Laura terkejut dan mendongak pada Zafran, tak percaya dengan pendengarannya.
"Ada apa denganmu?"
Tanya Laura penuh tanda tanya tak mengerti dengan sikap Zafran.
"Ayolah, nanti kau akan tahu apa yang aku maksud."
Kemudian Jully menggantikan Laura untuk menjaga Zack.
Laura turun dan di belakangnya ada Zafran, mereka masuk ke dalam ruang kerja, terlihat Dax tersenyum pada Laura.
Zafran memberikan waktu untuk Dax bersama Laura, pria itu sedikit menjauh dari mereka, namun masih tetap mengawasi dengan mata elangnya, berharap Dax tidak berbohong dengan ceritanya.
Cukup lama Dax menceritakan kisah masa lalu yang memisahkan mereka berdua, dan Laura masih tidak percaya dengan cerita yang Dax katakan, namun ia juga tidak punya pilihan saat Dax mengajukan permintaannya.
Ketika Laura melihat pada Zafran, pria itu hanya mengangguk tanda setuju.
Kemudian Zafran mendekati mereka.
"Aku mengijinkanmu melakukan tes DNA, namun jika Laura terbukti bukan adik kandung mu, kau harus pergi dan segala pembangunan penginapan tidak lagi kau yang mengerjakannya, serta kau tidak boleh menginjakkan kaki mu di Inggris dan menemui Laura."
Kata Zafran.
"Setuju."
Dax menyambar dengan mantap.
"Meski Laura sangat cantik dan jika Laura bukanlah adikku, aku juga tidak punya niatan untuk merusak rumah tangga kalian, aku tidak memikirkan pasangan selama aku belum menemukan adikku."
Mereka mendatangi rumah sakit, dan melakukan tes DNA, cukup lama Zafran menunggu, sedangkan Laura serta Dax masih di dalam ruangan pemeriksaan.
__ADS_1
Kemudian Dax keluar, di susul oleh Laura, sedangkan hasilnya masih harus menunggu beberapa hari.
Dokter akan menghubungi Zafran jika hasilnya sudah keluar.
***
Beberapa hari di Mansion masih menjadi hari sunyi, semua menunggu hasilnya. Sedangkan Dax berharap bahwa kali ini ia tidak salah mengira, dan Laura sendiri tak ingin berharap banyak, ia tidak mengerti harus bagaimana.
Zafran pun hanya menunggu dengan sikap sunyi nya, Laura masih diam seribu bahasa pada Zafran karena pertengkaran-pertengkarannya beberapa waktu lalu.
Akhirnya dokter menghubungi Zafran, pria itu bergegas menuju ke rumah sakit, Laura bersiap dan memakai pakaian casual serta mantel.
Entah untuk siapa Laura harus menuruti hal ini, apakah demi perjanjian suaminya dengan Dax, bahwa jika prasangka Dax salah maka pria itu akan pergi.
Atau kah seberkas harapan bahwa Laura akan bisa mengurus dan menghidupkan penginapannya lagi, dan memerima fakta bahwa ia memiliki seorang kakak laki-laki.
Jika kedua orang tua nya bukanlah orang tua kandungnya, setidaknya merekalah yang selalu merawatnya dengan baik dari bayi hingga besar.
Hanya ada kesunyian di dalam ruangan, semua menunggu hasil tersebut. Tidak ada yang berani membuka suara atau percakapan.
Dax hanya berdiri menyandarkan punggungnya pada dinding ruangan, sedangkan Laura duduk di samping suaminya.
Dokter kemudian keluar dengan membawa hasilnya, Zafran berdiri dan mendekat, begitu pula Dax. Kemudian sang dokter memberitahukan bahwa mereka adalah saudara kandung.
"Tuan Dax dan Nyonya Laura adalah saudara kandung."
Kata Dokter tersebut.
"Syukurlah."
Kata Dax menutup wajahnya, matanya berair, hatinya terasa sangat lega.
Kemudian Dax mendekati Laura, berjongkok di depan Laura yang sedang duduk.
"Aku adalah kakakmu Laura."
Dax meraih tangan Laura dan mencium tangan mungil milik Laura dengan tersenyum dan juga menangis.
"Aku hampir putus asa."
Laura masih kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana, tapi entah kenapa air matanya menggenang di kedua pipinya.
Dax mengulurkan tangannya meraih kedua pipi adiknya.
"Aku bersyukur kau hidup dengan baik, dan aku bersyukur kau memiliki suami yang menyayangimu."
Zafran menghela nafasnya pertanda ada kelegaan dalam hatinya, yang beberapa hari ini menggumpal, mata Zafran juga berkaca-kaca.
"Bagaimana kau tahu aku adalah adikmu."
Laura bertanya.
"Aku hanya menggunakan feelingku, setiap wanita yang ku rasa mirip dengan wajah adikku saat masih kecil, aku memintanya untuk melakukan tes DNA. Tanpa lelah dan aku akan mencari adikku hingga aku mati, itu adalah janji dan sumpahku pada ayah dan ibu."
Dax memeluk Laura, Zafran tersenyum klise, dan mengajak mereka untuk pulang, mempertemukan Dax dengan keponakannya.
Sesampainya di Mansion, Dax menggendong Zack, mereka bermain bersama.
Meski Laura masih merasa canggung namun Dax cukup mengerti, butuh waktu untuk Laura menerima keadaannya yang baru.
Dax akan menetap di inggris dan hanya sesekali kembali ke Amerika, pria itu ingin lebih banyak meluangkan waktu bersama keluarganya, Dax sangat menyayangi keponakannya Zack, pria itu selalu mengajak Zack bersenang-senang. Sedangkan Laura tetap mengurus penginapan.
.
.
.
~bersambung~
__ADS_1